Sesal Berbalut Prosa

Menulis tentangmu tidak pernah sesulit ini. Meski masih jauh lebih sulit mencintaimu dengan cara yang seringnya tidak kumengerti. Akumu bahkan sebaliknya, begitu banyak ekspresiku yang tak kerap kau pahami.

Jika air mata mampu mengungkapkan berjuta cerita, ijinkan aku memberikan basah bajuku. Agar tersampaikan pula tentang rasa sesal atas apa yang terjadi pada kita malam tadi.

Demikian aku berusaha memberikan pembenaran. Aku hanya dihantui ketakutan-ketakutan yang akan datang. Aku takut kau tinggalkan. Dan kau dihantui ketakutan-ketakutan itu saat ini. Kau takut kehilangan aku saat kita akan melangkah lebih jauh lagi. Takut tinggal dalam dunia mimpi yang terlalu luas untuk dihuni seorang diri.

Bukan inginku untuk membahas ini berulang-ulang bahkan sekali lagi kali ini. Seperti apa yang telah kukatakan, aku hanya ingin menyampaikan bahwa semua ini bukan yang kuinginkan, begitu sulit menjadi aku. Lucunya, kamu sering pula mengalami hal demikian, ketika aku tidak mengerti bahwa begitu sulit menjadi kamu dan semua berjalan tidak seperti yang kau inginkan. Aku menyadari satu hal: selera humor kita buruk sekali, Sayang. Kita terlalu sering melewati peristiwa-peristiwa lucu yang seharusnya tidak terjadi.

Benar, aku tidak pernah tau apa yang akan terjadi nanti. Bersikeras mengantisipasi sambil sesekali berusaha pergi. Panggil aku berlebihan, nyatanya cinta yang membuatku melulu kembali dan memaafkanmu sekali lagi. Meskipun seringnya kau tidak merasa telah melakukan sebuah kesalahan. Kini berganti, rasa penyesalanku mengantarkan tulisan ini kepadamu, maukah kau memaafkanku kali ini?

Amarah menang sekali lagi dan mengalahkan kita berdua. Rindu yang tak kunjung menjumpa penawarnya.

 

Kuta, 15-04-2018

 

Refleksi Homestay Program Hari 1: Cinta

Saya tidak pernah menyangka. Pelajaran yang akan saya dapatkan pertama kali setibanya di Australia dalam Homestay Program ini adalah tentang cinta.

“Go on,” sahut Richard ketika saya berkata ingin mengajukan sebuah pertanyaan. Saya ragu, tapi rasa keingintahuan saya selalu lebih besar dari rasa takut yang saya punya.

Kami menuju Car Park bandara yang sangat ramai. Saya diam-diam sembari mengamati setiap hal untuk dibandingan dengan kondisi di Indonesia. Tidak sulit menemukan di mana mobil Richard terparkir sebab semua teroganisir dengan baik, juga karena jumlah mobilnya tidak sebanyak di Jakarta. Karcis parkir ditelan mesin dengan sukses, pertanda kami dapat meninggalkan bandara dan meluncur ke rumah Richard yang terletak agak jauh dari pusat kota.

“Do you still love Anne just like the first time you met her and decided to marry her?” saya memerhatikan air mukanya, siaga kalau-kalau ekspresi di wajahnya berubah masam atau malah bingung. Namun, ternyata tidak membutuhkan waktu lama untuk mendapatkan jawaban karena dalam hitungan detik ia segera menjawab,

“Of course yes.”

Saya tidak habis pikir, bagaimana caranya menjalin cinta selama berpuluh-puluh tahun, tidak berkurang dan hilang sedikitpun? Seperti sebuah keajaiban. Mereka tidak pernah mengumbar kedekatan yang vulgar memang, tetapi ikatan itu dapat dengan kuat saya rasakan. Jika ada kata-kata yang sering belum disampaikan Richard, namun sudah dapat ditangkap dengan baik oleh Anne. Sama halnya dengan Anne yang sering sekali dibantu oleh Richard di dapur dan bahkan ruang makan, bahkan mencuci dan memasang sprei. Sepasang kekasih dengan anak-anak yang sukses dan 12 cucu di sebuah rumah yang rindang, bukankah semua akan terlihat lebih mudah jika kita sebagai individu menghormati satu sama lain, tidak perlu semua orang, setidaknya orang yang paling kita sayang?

“Apa kuncinya?“

„Toleransi dan menghormati. Yang pertama adalah yang utama.“

Saya bergumam. Toleransi yang biasa digembor-gemborkan di jalanan, di media, rupanya dapat dimulai dari lingkungan terdekat dan terkecil bernama keluarga. Orang-orang di negara maju sangat toleran, itulah mengapa mereka bisa maju. Sama halnya dengan Richard dan Anne yang memutuskan untuk menikah, karena mereka sangat toleran satu sama lain.  Sebab banyak orang di Australia yang memutuskan untuk tidak menikah, karena pernikahan bukanlah keharusan dan bukanlah sesuatu yang mudah, membutuhkan „perjuangan“ salah satunya perihal toleransi.

Program yang saya ikuti ini adalah salah satu jalan menuju sukses yang telah dilakukan orang-orang di masa mudanya, namun apakah cinta menjadi salah satu faktor kesuksesan mereka? Cinta jelas adalah sebuah value (nilai)  yang dapat mendukung kesuksesan tersebut. Atau justru cinta adalah sebuah goal (tujuan) bagi banyak orang yang menjadi tolak ukur kesuksesan. Termasuk saya.

Tidak banyak saya mengenal orang-orang sukses di Indonesia (atau mungkin pengetahuan saya saja yang kurang luas) sukses pula dalam kisah percintaannya, meskipun dalam hal ini cinta bisa bermakna apapun; cinta untuk keluarga, orang tua, teman, dan lain-lain. Cinta yang saya maksud adalah tentu tentang pasangan jiwa (soulmate), meskipun belum tentu menjadi pasangan hidup dan tidak harus menjadi demikian. Mungkin itu pula alasannya mengapa Ridwan Kamil (Walikota Bandung Periode 2013-2018) menjadi sangat terkenal dan diidolakan banyak kawula muda. Sebab tidaklah mudah menemukan figur seorang pemimpin sukses yang langgeng dengan pasangannya, bahkan untuk sosok yang satu ini kadang malah kelewat romantis dan bikin baper (bawa perasaan) anak-anak muda lewat postingan Si Cinta (Bu Atalia, istri beliau).

Saya muak mendengar kisah perceraian terjadi setiap hari di Indonesia seolah-olah adalah sebuah hal yang mudah dan murah. Ya, perceraian membutuhkan dana untuk banyak hal. Faktanya, di Indonesia ada sebanyak 40 pasangan bercerai setiap jamnya. Data ini saya dapatkan dari sebuah berita di tahun 2013 yang disampaikan oleh pihak Kementerian Agama RI. Kasus perceraian meningkat setiap tahunnya di Indonesia, berarti sangat besar kemungkinan bahwa di tahun 2018 ini jumlahnya bertambah dan menjadi lebih banyak.

Pikiran saya semakin bercabang, mengidentifikasi tentang apa saja hal yang pernah saya temui di Indonesia berkenaan dengan cinta dan pernikahan. Maksud saya, orang-orang Australia, Richard dan Anne sekalipun yang bukan pasangan religius, dapat menjadi sepasang kekasih yang sangat tulus dan sempurna di mata saya. Tidak pernah sekalipun saya bertanya apa agama mereka atau bisa saja mereka menganut atheisme. Sebab bagi saya, agama merupakan suatu hal yang personal dan setiap orang memiliki caranya masing-masing untuk berinteraksi dengan Tuhan, dalam konteks agama apapun.

Di sisi lain, orang-orang Indonesia yang umumnya beragama dan bahkan ada pula agama mayoritas, yang sejatinya percaya akan makna Ketuhanan dan begitu mencintai Tuhannya berkat karunia yang diberikan, seharusnya lebih bisa membina rasa cinta kepada manusia dan menerapkan apa yang mereka lakukan untuk Tuhannya. Namun yang saya dapatkan justru berita perceraian di mana-mana, KDRT tidak sedikit terjadi baik di pedesaan maupun ibu kota. Yang justru pernah membuat saya berpikir untuk tidak mau menikah, karena takut bila harus mengalami perceraian. Dari sini jelas terlihat, bahwa cinta dan agama bukanlah dua hal yang menjadi satu kesatuan, meskipun sangat erat berkaitan satu sama lain. Agama adalah agama. Ada cinta di dalam agama, namun tidak begitu dengan cinta, karena di dalam cinta seharusnya ada toleransi dan ketulusan, bukan SARA. Lantas, mengapa urusan pernikahan harus dikelola oleh Kementrian Agama RI? Bukankah agama dan cinta adalah dua hal yang berbeda?

#IamGMBer

#GMBHomestayProgram

#GerakanMariBerbagi

Menjumpamu Sekali Lagi

Aku benci untuk memimpikan hal-hal yang tak bisa kutentukan sendiri bagaimana hasilnya. Hanya berpangku pada doa yang tak kita ketahui parameternya bagaimana pantas terwujud. Senyummu dengan lancang muncul di hari-hariku dan menyapa tanpa jemu. Ingin aku abai, namun teduh auramu mengunci seluruh tubuhku, membuatku sesak sekaligus ingin kau selamatkan di saat bersamaan.

Suatu sore tanpa hujan, pesanmu menyambar kesadaranku serupa petir. Tidak, katamu. Kita tak sama. Kamu terlalu sempurna. Butuh waktu tiga puluh menit lamanya untuk mencerna kalimatmu. Atau lebih tepatnya untuk meyakini bahwa apa yang kubaca adalah benar atau mungkin kau hanya bercanda karena aku tau selera humormu buruk sekali. Pesanmu muncul sekali lagi, kali ini hanya memanggil namaku diakhiri tanda tanya, mungkin merasa bersalah.

Malam itu juga hatiku remuk dan berserak, akan sangat sulit menyatukannya seperti sedia kala karena tak akan ada kemungkinan kau menarik kalimatmu kembali, bagaimanapun kamu akan bertahan dengan apa yang kau percaya. Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku merasa terhina karena dipuji.

Sebuah kebetulan memaksa kita untuk bertemu sekali lagi. Barangkali ini yang terakhir. Aku tidak mengerti bagaimana caranya untuk bersikap di hadapanmu nanti. Kemudian di ketibaanku, sosokmu terlihat dan langkahmu mendekat. Ada gelembung-gelembung yang menyumbat saluranku bernapas, merupakan akibat dari panik dan senang yang beriringan. Senang karena seperti apapun fakta berusaha menjelaskan, kamu tetap pernah menjadi bagian dari warna-warni hariku dulu.

Seperti yang sudah kuduga, tidak ada tegur sapa tercipta. Aku mencari cara untuk tetap berjarak dekat denganmu, dengan kewarasan yang sewajarnya, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Kau membaca, dan ekor mataku menangkap ekor matamu yang mengarah kepadaku. Lalu kau pangku pelipis dahi dengan kepal tangan kiri, disusul dengan tangan kanan untuk menutup seluruh pandangan mata agar tetap terfokus pada buku yang kau baca, karena mungkin kehadiranku mengggangu konsentrasimu sedemikian rupa. Entah akan berapa lama kita bertahan seperti ini. Kau bersikeras merasa tidak pantas untukku, sedangkan jauh di lubuk hatiku adalah aku yang merasa tidak pernah benar-benar kau inginkan.

Tulisan ini tidak memiliki akhir yang menyenangkan. Melainkan sebuah penyesalan atas pernyataan, untuk pertama kalinya selama 25 tahun hidup dan menjajal berpuluh pria, baru kali ini aku paham apa itu rasa cinta, sebuah kesimpulan yang kudapatkan setelah bergumam bahwa aku ingin menghadapi hidup bersamamu.

Bercumbu Lewat Puisi

Aku pernah melihat matahari meninggalkan warna emas saat akan tenggelam dan kuikrarkan bahwa itu adalah senja terindah yang pernah kulihat seumur hidupku. Ternyata sore ini pernyataan itu terbantahkan. Tidak ada warna jingga biasa yang dipantulkan langit. Justru magenta dengan gurat violet, seolah-olah Tuhan sengaja menggoreskan palet ungu di langit yang ranum. Seperti sadar sedang diperhatikan, cahaya terang pukul 17.42 itu masuk ke sela jendela kamar yang terbuka. Membentuk siluet tepi jendela. Aku sempat duduk menghadap jendela sebelum akhirnya tersenyum dan membatin, momen yang sempurna untuk bercinta dengan kau lewat puisi.

Aku menyendok tiga kali bubuk kopi yang kira-kira hanya tersisa 100 gram lagi, menjerang air pada cangkir, menghidu aroma nikmat tak terdefinisikan, lalu mengembuskan namamu yang menyatu pada kepul asap tipis satu-satu. Mungkin kamu tak pernah tahu, pada setiap adukannya, aku mampu bercumbu dengan kau dalam benakku. Mari kita mulai.

Aku tahu sejak dulu. Bahwa mencintaimu membutuhkan lebih dari hanya cinta dan puisi. Memutuskan untuk mencintaimu membutuhkan pula keberanian dan kekuatan yang mungkin kalau bukan karena itu kau tidak kembali ke pelukanku sekarang. Dan barangkali, kedua hal itu pula yang membuatku menjadi pemenang di benak dan jiwamu.

Begini. Jarak tak pernah benar-benar memisahkan kita. Ia hanya membantuku menabung rindu. Sebab dekat tak menentukan kita dapat bertemu. Jauh tak berarti kita tak akan berjumpa. Rindu dan kejutan istimewa akan hadir membayar kekosongan yang pernah diciptakannya, aku hanya perlu percaya. Maka dengan lantang kukatakan pada Jarak, bahwa aku punya kekuatan yang cukup. Dan kurasa itulah yang membuatku menjadi pemenang dan selalu kau cari pulang.

Merah muda dan ungu di langit telah berubah gelap, saat kopi panas itu untuk kedua kalinya kuembuskan namamu. Aku tak pernah bilang melalui semua ini mudah, bahkan aku tak pernah melalui hubungan dengan cara yang seperti ini sebelumnya. Lebih tepatnya, selalu gagal dan berujung sia-sia tanpa tatap muka. Mencintaimu menuntutku jadi pemberani. Siapa yang akan menemaniku ke sana ke mari nanti? Saat malam mendadak mencekam dan kejahatan kota metropolitan menjadi lebih seram daripada film horor Jepang atau Thailand? Tidak ada. Bagaimana kalau di sana rupanya kamu kerap bertemu dengan perempuan lain yang menarik hati meski tanpa komitmen dan janji-janji? Bisa saja terjadi. Dan, anjing! aku benci membayangkannya. Itu kubilang, mencintaimu butuh keberanian. Namun sedemikian rupa pikiran buruk itu bercabang ratusan dan mencipta praduga, satu harapan (atau mungkin lebih tepatnya doa) yang kupunya bahwa kau menggilaiku dan tak akan mendua, tiga, apalagi empat. Biar, aku membesarkan kepala. Cukup saja gila harta dan tahta sebab itu membuat sejahtera, tapi gila wanita, aku selalu percaya kau setia. Lebih tepatnya, kau tak punya banyak waktu untuk itu dan untuk itu hanya aku yang dapat mengerti dan menerima.

Demikian aku merumuskan jurus jitu mencintaimu; cinta, keberanian, dan kekuatan. Perempuan lain belum tentu punya, jadi aku rasa aku tak perlu cemburu karena sudah pasti mereka tidak sekuat dan seberani aku.

Kopiku hampir habis saat notifikasi darimu muncul di layar gawai. Terlebih lagi bubuk kopi itu. Barangkali aku harus ke pulau seberang dekat-dekat ini, untuk membeli stok kopi dan menjumpamu bukan lewat puisi.

Rindu, sekali.

 

 

Kepada Waktu

Barangkali kali ini kita harus mengucap terima kasih pada waktu dan bukan menyalahkannya. Berkat waktu, kusediakan ruang paling lapang dalam hati dan benakku. Namamu berusaha menembus rumitnya pita-pita kusut kaset yang kudengar setiap hari. Sesekali hampir mencapai garis mimpi, seringnya gagal dan mengulang dari awal lagi.

Berjam-jam setelah itu, aku kembali duduk dengan daya seadanya. Sesekali aku terkapar. Dan rasa-rasanya lebih baik jika pipiku ditampar, bila cukup untuk mengakhiri segalanya. Di tengah kepasrahan itu, lagi-lagi muncul bayangmu. Kali ini ada rupa yang bisa kujelaskan dan tak lagi samar. Engkau menjelma menjadi cahaya yang bertahun-tahun dijanjikan Tuhan sebagai makna kata bahagia. Setidaknya, demikian aku melihatnya untuk saat ini.

Kaki-tanganku terikat rantai masa lalu. Otot dalam tubuhku dibelenggu peka dan rasa lelah jadi satu. Kau muncul tiba-tiba seperti tipu daya, seperti sihir yang memberdaya. Terkandung dalam jasadmu apa-apa yang tidak kusenangi, namun, Tuan, seribu sanggahan seolah tak berarti hanya karena satu alasan, rasa sayang. Namun, bukankah sayang tak pelak seperti api yang bisa padam? Terserah bagaimana kau ingin menjabarkannya, aku hanya sedang bersiap mengucap terima kasih kepada waktu tatkala aku kau selamatkan. Selalu menunggu waktu untuk kau selamatkan.

Sebentar, Nona, bukankah haram hukumnya bagimu berharap dan bergantung kepada orang lain?

Tidak. Aku tidak berharap dan bergantung kepada orang lain, melainkan kepada waktu.

 

Masih Sama

Sekali lagi, namamu menyeruak di setiap jeda dalam napasku. Lebih lagi, bayang tentangmu mengombak mencipta gejolak di dada. Dunia serta-merta benderang, bahkan langit sore menjatuhkan bintang-bintang.

Sementara kau tersisip menjelma rindu dalam spasi-spasi rangkai kata yang kucipta. Aku kini memiliki hobi baru, mereka-reka setiap waktu apa yang sedang ada dalam pikirmu. Adakah aku terbersit di dalamnya?

Pertemuan denganmu menjadi ritual yang paling kutunggu, sering kali membuat resah dan gelisah, namun aneh terasa semua berlalu begitu cepat tatkala kita tengah berjumpa. Kemudian yang bisa aku lakukan hanya bersabar untuk pertemuan berikutnya.

Kita serupa aktor melodrama, dan aku benci mengakuinya. Melakoninya adalah satu-satunya cara yang kubisa, meski sering kali bahagiaku diputar-balik praduga. Aku ternyata menginginkanmu sebanyak yang tak kuduga, tanpa kusadari doa-doaku menjadi lebih panjang dari biasanya. Namamu berulang kali dipantulkan benakku sendiri, terpantul berkali-kali di telinga dan di hati. Hanya saja pada hati, tertinggal juga debar yang tak kumengerti.

Aku tak ingin bermain judi. Maka dari itu, ada kah buku petunjuk yang akan mengantarkanku ke mana seharusnya aku melabuhkan diri? Jika salah jalan kutempuh, akankah kita berjumpa di persimpangan jalan dan pulang bersama?

Segala yang pernah terasa tak mungkin kini menjadi ingin. Melihatmu berjuang keras membuatku ingin menjadi pendukung paling utama. Segala mimpi yang kau cita-citakan seperti ingin kubantu untuk wujudkan, karena mimpi kita selaras nyatanya.

Aku melihat masa depan pada kedua mata yang kaupunya. Bagian ini tak akan bosan kusampaikan, karena memang ia satu-satunya petunjuk yang kudapatkan dengan tanpa kuminta. Segalanya tergambar jelas di sana. Tentang mimpi-mimpimu dan keinginanmu untuk melibatkan aku di dalamnya, namun ada urung di sisi lainnya.

Untuk pertama kalinya, begitu sulit merajut kata kala hati sedang berbunga. Entah karena terlalu bahagia, atau pula karena telah habis daya karenamu. Yang ingin kulakukan hanya melihatmu terus-terusan dari kejauhan, kemudian diam-diam menyimpan senyum  dan menabung rindu satu per satu.

Semestaku mengatakan kita akan dipersatukan masa depan. Notifikasi darimu mungkin akan menjadi satu-satunya pengobat rindu bila hariku tak berhadiahkan temu. Aku tahu semua tak akan melulu berujung kecewa, aku tahu trauma tak selamanya menyisakan duka dan cerita yang hampir sama. Kau — kuyakin — akan menjadi cerita paling sukacita dalam sejarah panjang hidupku nantinya. Dan semua tak hanya tentangmu, melainkan tentang kita dan hal-hal menarik lainnya.

Pada Sepasang Mata

Bertahun-tahun aku bertahan menyimpan elegi tentang seseorang yang tak mau kuingat lagi di satu sudut rahasia. Aku selalu berharap seluruh yang pernah kulakukan akan luruh dan terabaikan. Namun, selalu gagal terlaksanakan. 

Perlahan, saat tak kukehendaki, muncul sebuah tanya yang membuat lega dalam benak tak dinyana. Bayang-bayang kelabu kian sirna di sawang. Butuh triliunan detik untuk aku bisa menerjemahkan konspirasi semesta, yang kala itu paradoks dengan warna langit berwarna nila — seolah sedang berkelahi dengan waktu sehingga lebam seluruh permukaannya. Kembali padamu, pria yang membuat kata-kata jadi tak berharga. Mulai saat itu, saat tatap kita beradu dan seribu kata membeku, batinku kerap menciptakan gema tanpa makna. Atau aku yang terlalu takut untuk dengan baik menyimpulkan maknanya. Berhari-hari setelahnya, kau menjelma poros yang menarik kesemua energi dan emosiku di saat yang sama.

Pada matamu, aku menemukan kisah-kisah bahagia dengan sosok diriku di dalamnya. Aku tak ingin besar kepala, namun matamu mencumbu isi kepalaku berkali-kali dan aku tahu dengan jelas kau sengaja melakukannya. Rasa cemburu muncul satu per satu, semisal saat seluruh waktumu dapat memiliki utuh dirimu sedangkan aku tidak. Juga saat mimpi-mimpimu merebut seluruh perhatianmu sehingga tak ada lagi tersisa untukku. Di antara cabang-cabang dari rencana yang kau punya, aku ingin ada namaku tertulis di salah satu dahannya. Rasa-rasanya, aku jadi tak mengenal diriku sendiri, dalam waktu teramat singkat ini aku begitu yakin ada potangan jiwaku kau miliki. Aku tidak paham bagaimana kau bisa terasa tak asing bagiku. Melihat sosokmu seperti melihat diriku sendiri, teramat aku mengenalinya, atau mungkin lebih tepatnya melihatmu seperti melihat seseorang yang selama ini bersemayam dalam mimpi dan doaku.

Tuan, adalah sebuah kegembiraan yang tenang, membayangkan kita menua bersama-sama dengan kesamaan yang kita punya.

 

Pernah

Pernahkah kamu merasa genap memiliki segalanya malah membuatmu merasa kosong tidak memiliki apa-apa?

 

Saat di mana kamu tersadar bahwa lelah dari kakimu yang berlari ternyata tidak berpindah ke manapun, tidak menuju kepada apapun. Hanya membuat dirinya lelah dan membuat dirimu hampir putus asa. Kanal yang dijanjikan tak jua kau temukan. Membawamu pada pertanyaan menghakimi yang menimbulkan benci terhadap apa itu mimpi. Dan hari-hari dalam hidupmu hanya terasa seperti sebuah pengulangan panik dalam kisah yang sering kautampik.

Ingin kutemukan di mana saja yang dapat menjualkan jiwanya pada selembar tubuhku. Agar bernyawa dan setiap engsel belulang tak hanya seperti dipaksa untuk menjalankan apa yang tak pernah dikehendakinya. Usia berlari kepada Jingga, tapi ketidaktahuan masih saja menjadi nama. Aku hanya tahu luka kian nganga kian nyata setelah di tungku baka, mengutip kata Adimas saat kutanya soal Mantra Tubuhmu.

Seolah aku dilahirkan oleh nyala api, atau beku suhu Antartika. Tidak kurasakan perih apapun saat darah tumpah menghujani masa lalu kita. Atau pula rasa bahagia yang dapat membuka mata. Sejumlah sabda hilang arah, terkadang menelanku hidup-hidup sebelum akhirnya dimuntahkan kembali. Aku ingin terlahir kembali, tidak sebagai tubuh tanpa jiwa ini. Atau mungkin tubuh dengan jiwa yang telah dihabisi, bukan setengah. Kata ‘hampir’ selalu membawaku pada kesia-siaan. Seperti hampir mati, alih-alih akhirnya mati.

Aku tidak ingin apa-apa. Aku hanya ingin tersaruk dalam kata-kata dan dapat kembali berani menatap dunia yang tak akan pernah kembali sama.

 

Racau Pagi

Aku tak ingin membicarakan apa-apa yang ku tak ingin. Namun segalanya menjadi harus karena waktu berputar dan rasa makin terasah. Sementara aku masih bergetar membayangkan tubuhmu dijamah orang lain. Lebih luka lagi bila binar matamu terpancar sepaket dengan itu. Seharusnya senyumku yang melekat di bibirmu, juga dahiku yang rekat di punggung tanganmu sebagai bentuk lain dari sujud-sujud panjangku.

Aku mengaduh tiada sampai ke telingamu. Satu tahun rupanya masih belum cukup untuk memberi warna-warni baru di pucat langitku. Terkadang semua seperti tak nyata, tapi sering juga terlihat jelas seperti Dejavu. Ada kah aku tersisip di sela-sela ingatanmu? Pernah kah terlintas kilat mataku di antara tatap mata itu yang bertautan?

Sepagi ini aku meracau apa. Terlalu pagi untuk mengigau. Nampaknya aku harus kembali pergi tidur panjang agar tak terkenang. Sampai nanti saat aku tak lagi melihatmu di mana-mana.

 

di atas kereta Jakarta Kota, 09.18