Sesal Berbalut Prosa

Menulis tentangmu tidak pernah sesulit ini. Meski masih jauh lebih sulit mencintaimu dengan cara yang seringnya tidak kumengerti. Akumu bahkan sebaliknya, begitu banyak ekspresiku yang tak kerap kau pahami.

Jika air mata mampu mengungkapkan berjuta cerita, ijinkan aku memberikan basah bajuku. Agar tersampaikan pula tentang rasa sesal atas apa yang terjadi pada kita malam tadi.

Demikian aku berusaha memberikan pembenaran. Aku hanya dihantui ketakutan-ketakutan yang akan datang. Aku takut kau tinggalkan. Dan kau dihantui ketakutan-ketakutan itu saat ini. Kau takut kehilangan aku saat kita akan melangkah lebih jauh lagi. Takut tinggal dalam dunia mimpi yang terlalu luas untuk dihuni seorang diri.

Bukan inginku untuk membahas ini berulang-ulang bahkan sekali lagi kali ini. Seperti apa yang telah kukatakan, aku hanya ingin menyampaikan bahwa semua ini bukan yang kuinginkan, begitu sulit menjadi aku. Lucunya, kamu sering pula mengalami hal demikian, ketika aku tidak mengerti bahwa begitu sulit menjadi kamu dan semua berjalan tidak seperti yang kau inginkan. Aku menyadari satu hal: selera humor kita buruk sekali, Sayang. Kita terlalu sering melewati peristiwa-peristiwa lucu yang seharusnya tidak terjadi.

Benar, aku tidak pernah tau apa yang akan terjadi nanti. Bersikeras mengantisipasi sambil sesekali berusaha pergi. Panggil aku berlebihan, nyatanya cinta yang membuatku melulu kembali dan memaafkanmu sekali lagi. Meskipun seringnya kau tidak merasa telah melakukan sebuah kesalahan. Kini berganti, rasa penyesalanku mengantarkan tulisan ini kepadamu, maukah kau memaafkanku kali ini?

Amarah menang sekali lagi dan mengalahkan kita berdua. Rindu yang tak kunjung menjumpa penawarnya.

 

Kuta, 15-04-2018

 

Bercumbu Lewat Puisi

Aku pernah melihat matahari meninggalkan warna emas saat akan tenggelam dan kuikrarkan bahwa itu adalah senja terindah yang pernah kulihat seumur hidupku. Ternyata sore ini pernyataan itu terbantahkan. Tidak ada warna jingga biasa yang dipantulkan langit. Justru magenta dengan gurat violet, seolah-olah Tuhan sengaja menggoreskan palet ungu di langit yang ranum. Seperti sadar sedang diperhatikan, cahaya terang pukul 17.42 itu masuk ke sela jendela kamar yang terbuka. Membentuk siluet tepi jendela. Aku sempat duduk menghadap jendela sebelum akhirnya tersenyum dan membatin, momen yang sempurna untuk bercinta dengan kau lewat puisi.

Aku menyendok tiga kali bubuk kopi yang kira-kira hanya tersisa 100 gram lagi, menjerang air pada cangkir, menghidu aroma nikmat tak terdefinisikan, lalu mengembuskan namamu yang menyatu pada kepul asap tipis satu-satu. Mungkin kamu tak pernah tahu, pada setiap adukannya, aku mampu bercumbu dengan kau dalam benakku. Mari kita mulai.

Aku tahu sejak dulu. Bahwa mencintaimu membutuhkan lebih dari hanya cinta dan puisi. Memutuskan untuk mencintaimu membutuhkan pula keberanian dan kekuatan yang mungkin kalau bukan karena itu kau tidak kembali ke pelukanku sekarang. Dan barangkali, kedua hal itu pula yang membuatku menjadi pemenang di benak dan jiwamu.

Begini. Jarak tak pernah benar-benar memisahkan kita. Ia hanya membantuku menabung rindu. Sebab dekat tak menentukan kita dapat bertemu. Jauh tak berarti kita tak akan berjumpa. Rindu dan kejutan istimewa akan hadir membayar kekosongan yang pernah diciptakannya, aku hanya perlu percaya. Maka dengan lantang kukatakan pada Jarak, bahwa aku punya kekuatan yang cukup. Dan kurasa itulah yang membuatku menjadi pemenang dan selalu kau cari pulang.

Merah muda dan ungu di langit telah berubah gelap, saat kopi panas itu untuk kedua kalinya kuembuskan namamu. Aku tak pernah bilang melalui semua ini mudah, bahkan aku tak pernah melalui hubungan dengan cara yang seperti ini sebelumnya. Lebih tepatnya, selalu gagal dan berujung sia-sia tanpa tatap muka. Mencintaimu menuntutku jadi pemberani. Siapa yang akan menemaniku ke sana ke mari nanti? Saat malam mendadak mencekam dan kejahatan kota metropolitan menjadi lebih seram daripada film horor Jepang atau Thailand? Tidak ada. Bagaimana kalau di sana rupanya kamu kerap bertemu dengan perempuan lain yang menarik hati meski tanpa komitmen dan janji-janji? Bisa saja terjadi. Dan, anjing! aku benci membayangkannya. Itu kubilang, mencintaimu butuh keberanian. Namun sedemikian rupa pikiran buruk itu bercabang ratusan dan mencipta praduga, satu harapan (atau mungkin lebih tepatnya doa) yang kupunya bahwa kau menggilaiku dan tak akan mendua, tiga, apalagi empat. Biar, aku membesarkan kepala. Cukup saja gila harta dan tahta sebab itu membuat sejahtera, tapi gila wanita, aku selalu percaya kau setia. Lebih tepatnya, kau tak punya banyak waktu untuk itu dan untuk itu hanya aku yang dapat mengerti dan menerima.

Demikian aku merumuskan jurus jitu mencintaimu; cinta, keberanian, dan kekuatan. Perempuan lain belum tentu punya, jadi aku rasa aku tak perlu cemburu karena sudah pasti mereka tidak sekuat dan seberani aku.

Kopiku hampir habis saat notifikasi darimu muncul di layar gawai. Terlebih lagi bubuk kopi itu. Barangkali aku harus ke pulau seberang dekat-dekat ini, untuk membeli stok kopi dan menjumpamu bukan lewat puisi.

Rindu, sekali.

 

 

Masih Sama

Sekali lagi, namamu menyeruak di setiap jeda dalam napasku. Lebih lagi, bayang tentangmu mengombak mencipta gejolak di dada. Dunia serta-merta benderang, bahkan langit sore menjatuhkan bintang-bintang.

Sementara kau tersisip menjelma rindu dalam spasi-spasi rangkai kata yang kucipta. Aku kini memiliki hobi baru, mereka-reka setiap waktu apa yang sedang ada dalam pikirmu. Adakah aku terbersit di dalamnya?

Pertemuan denganmu menjadi ritual yang paling kutunggu, sering kali membuat resah dan gelisah, namun aneh terasa semua berlalu begitu cepat tatkala kita tengah berjumpa. Kemudian yang bisa aku lakukan hanya bersabar untuk pertemuan berikutnya.

Kita serupa aktor melodrama, dan aku benci mengakuinya. Melakoninya adalah satu-satunya cara yang kubisa, meski sering kali bahagiaku diputar-balik praduga. Aku ternyata menginginkanmu sebanyak yang tak kuduga, tanpa kusadari doa-doaku menjadi lebih panjang dari biasanya. Namamu berulang kali dipantulkan benakku sendiri, terpantul berkali-kali di telinga dan di hati. Hanya saja pada hati, tertinggal juga debar yang tak kumengerti.

Aku tak ingin bermain judi. Maka dari itu, ada kah buku petunjuk yang akan mengantarkanku ke mana seharusnya aku melabuhkan diri? Jika salah jalan kutempuh, akankah kita berjumpa di persimpangan jalan dan pulang bersama?

Segala yang pernah terasa tak mungkin kini menjadi ingin. Melihatmu berjuang keras membuatku ingin menjadi pendukung paling utama. Segala mimpi yang kau cita-citakan seperti ingin kubantu untuk wujudkan, karena mimpi kita selaras nyatanya.

Aku melihat masa depan pada kedua mata yang kaupunya. Bagian ini tak akan bosan kusampaikan, karena memang ia satu-satunya petunjuk yang kudapatkan dengan tanpa kuminta. Segalanya tergambar jelas di sana. Tentang mimpi-mimpimu dan keinginanmu untuk melibatkan aku di dalamnya, namun ada urung di sisi lainnya.

Untuk pertama kalinya, begitu sulit merajut kata kala hati sedang berbunga. Entah karena terlalu bahagia, atau pula karena telah habis daya karenamu. Yang ingin kulakukan hanya melihatmu terus-terusan dari kejauhan, kemudian diam-diam menyimpan senyum  dan menabung rindu satu per satu.

Semestaku mengatakan kita akan dipersatukan masa depan. Notifikasi darimu mungkin akan menjadi satu-satunya pengobat rindu bila hariku tak berhadiahkan temu. Aku tahu semua tak akan melulu berujung kecewa, aku tahu trauma tak selamanya menyisakan duka dan cerita yang hampir sama. Kau — kuyakin — akan menjadi cerita paling sukacita dalam sejarah panjang hidupku nantinya. Dan semua tak hanya tentangmu, melainkan tentang kita dan hal-hal menarik lainnya.

Pada Sepasang Mata

Bertahun-tahun aku bertahan menyimpan elegi tentang seseorang yang tak mau kuingat lagi di satu sudut rahasia. Aku selalu berharap seluruh yang pernah kulakukan akan luruh dan terabaikan. Namun, selalu gagal terlaksanakan. 

Perlahan, saat tak kukehendaki, muncul sebuah tanya yang membuat lega dalam benak tak dinyana. Bayang-bayang kelabu kian sirna di sawang. Butuh triliunan detik untuk aku bisa menerjemahkan konspirasi semesta, yang kala itu paradoks dengan warna langit berwarna nila — seolah sedang berkelahi dengan waktu sehingga lebam seluruh permukaannya. Kembali padamu, pria yang membuat kata-kata jadi tak berharga. Mulai saat itu, saat tatap kita beradu dan seribu kata membeku, batinku kerap menciptakan gema tanpa makna. Atau aku yang terlalu takut untuk dengan baik menyimpulkan maknanya. Berhari-hari setelahnya, kau menjelma poros yang menarik kesemua energi dan emosiku di saat yang sama.

Pada matamu, aku menemukan kisah-kisah bahagia dengan sosok diriku di dalamnya. Aku tak ingin besar kepala, namun matamu mencumbu isi kepalaku berkali-kali dan aku tahu dengan jelas kau sengaja melakukannya. Rasa cemburu muncul satu per satu, semisal saat seluruh waktumu dapat memiliki utuh dirimu sedangkan aku tidak. Juga saat mimpi-mimpimu merebut seluruh perhatianmu sehingga tak ada lagi tersisa untukku. Di antara cabang-cabang dari rencana yang kau punya, aku ingin ada namaku tertulis di salah satu dahannya. Rasa-rasanya, aku jadi tak mengenal diriku sendiri, dalam waktu teramat singkat ini aku begitu yakin ada potangan jiwaku kau miliki. Aku tidak paham bagaimana kau bisa terasa tak asing bagiku. Melihat sosokmu seperti melihat diriku sendiri, teramat aku mengenalinya, atau mungkin lebih tepatnya melihatmu seperti melihat seseorang yang selama ini bersemayam dalam mimpi dan doaku.

Tuan, adalah sebuah kegembiraan yang tenang, membayangkan kita menua bersama-sama dengan kesamaan yang kita punya.

 

Pernah

Pernahkah kamu merasa genap memiliki segalanya malah membuatmu merasa kosong tidak memiliki apa-apa?

 

Saat di mana kamu tersadar bahwa lelah dari kakimu yang berlari ternyata tidak berpindah ke manapun, tidak menuju kepada apapun. Hanya membuat dirinya lelah dan membuat dirimu hampir putus asa. Kanal yang dijanjikan tak jua kau temukan. Membawamu pada pertanyaan menghakimi yang menimbulkan benci terhadap apa itu mimpi. Dan hari-hari dalam hidupmu hanya terasa seperti sebuah pengulangan panik dalam kisah yang sering kautampik.

Ingin kutemukan di mana saja yang dapat menjualkan jiwanya pada selembar tubuhku. Agar bernyawa dan setiap engsel belulang tak hanya seperti dipaksa untuk menjalankan apa yang tak pernah dikehendakinya. Usia berlari kepada Jingga, tapi ketidaktahuan masih saja menjadi nama. Aku hanya tahu luka kian nganga kian nyata setelah di tungku baka, mengutip kata Adimas saat kutanya soal Mantra Tubuhmu.

Seolah aku dilahirkan oleh nyala api, atau beku suhu Antartika. Tidak kurasakan perih apapun saat darah tumpah menghujani masa lalu kita. Atau pula rasa bahagia yang dapat membuka mata. Sejumlah sabda hilang arah, terkadang menelanku hidup-hidup sebelum akhirnya dimuntahkan kembali. Aku ingin terlahir kembali, tidak sebagai tubuh tanpa jiwa ini. Atau mungkin tubuh dengan jiwa yang telah dihabisi, bukan setengah. Kata ‘hampir’ selalu membawaku pada kesia-siaan. Seperti hampir mati, alih-alih akhirnya mati.

Aku tidak ingin apa-apa. Aku hanya ingin tersaruk dalam kata-kata dan dapat kembali berani menatap dunia yang tak akan pernah kembali sama.

 

Racau Pagi

Aku tak ingin membicarakan apa-apa yang ku tak ingin. Namun segalanya menjadi harus karena waktu berputar dan rasa makin terasah. Sementara aku masih bergetar membayangkan tubuhmu dijamah orang lain. Lebih luka lagi bila binar matamu terpancar sepaket dengan itu. Seharusnya senyumku yang melekat di bibirmu, juga dahiku yang rekat di punggung tanganmu sebagai bentuk lain dari sujud-sujud panjangku.

Aku mengaduh tiada sampai ke telingamu. Satu tahun rupanya masih belum cukup untuk memberi warna-warni baru di pucat langitku. Terkadang semua seperti tak nyata, tapi sering juga terlihat jelas seperti Dejavu. Ada kah aku tersisip di sela-sela ingatanmu? Pernah kah terlintas kilat mataku di antara tatap mata itu yang bertautan?

Sepagi ini aku meracau apa. Terlalu pagi untuk mengigau. Nampaknya aku harus kembali pergi tidur panjang agar tak terkenang. Sampai nanti saat aku tak lagi melihatmu di mana-mana.

 

di atas kereta Jakarta Kota, 09.18

 

Hukuman Andalan

Keretaku terlambat. Malam makin larut dan kereta terkutuk itu belum juga muncul. Aku mulai merindukan suara berisik nan mengganggu roda kereta di atas rel panjang berbatu. Seolah masih belum cukup banyak ujian yang kudapati untuk menjumpamu. Kini masinis ikut-ikutan menghukumku dengan memperlambat pertemuan kita. Brengsek. Kau dan semesta ternyata bekerjasama untuk menghukumku.

Tugu Monas berwarna jingga detik ini, beberapa saat lagi akan berganti jadi yang lainnya. Keindahan pemandangan itu tak jua mampu menghibur dan menghilangkan kemelut dalam benakku. Kesal, sesal, dan rindu yang menggebu. Kau hadir di mana-mana, di otakku, mungkin juga di dalam paru, sehingga membuatku sesak. Barangkali juga di dalam lambung, sehingga menyebabkan aku mendadak kenyang dan tak berselera untuk makan. Menahan diri untuk tidak terlebih dulu menyapamu melalui dialogue chat membuat rinduku makin gelisah. Aku benci hanya mampu bercengkrama denganmu di dalam ruang imaji.

Masih harus menempuh waktu kurang lebih setengah hari untuk akhirnya bisa menjumpamu. Kau selalu tahu, aku tak pernah pandai menahan rindu. Kau boleh saja menghukumku karena aku pantas untuk dihukum. Namun jangan dengan cara ini. Melarangku untuk merindu selalu ampuh membuatku jera.

 

Stasiun Gambir, 02 – 12 – 2016

 

 

 

Berteman Sepi

“Nay, seriously you didn’t go anywhere today? You are in fucking Europe!”

Hari ini kalimat itu sudah ditanyakan berkali-kali oleh orang yang berbeda. Dan jawabanku tetap sama, mengangguk-angguk sebagai jawaban iya tanpa ragu.

Aku hanya tersenyum lalu kembali menatap jendela. Daun-daun kuning kecokelatan berguguran dari ranting yang kurus di pinggir jalur metro. Orang-orang kalap menerjang dinginnya angin dua derajat demi agar tidak tertinggal metro yang berangkat tepat waktu. Aku menghela napas, entah untuk keberapa kali di hari ini. Bukan karena melihat apapun itu, hanya karena ingin.

Padaku, sering kali sepi terasa lebih menyenangkan dari ingar-bingar yang memekakan telinga. Terkadang, di suatu waktu, yang kuinginkan hanya duduk sambil merasakan angin berembus di sela-sela jemariku atau memandang gumpal awan yang perlahan berlarian di langit biru. Menyenangkan rasanya dapat menghitung detik yang mampir satu per satu, yang biasanya tak pernah kita hiraukan bahkan kalau bisa dirangkum menjadi hari, bulan, atau tahun sekalian.

Bukan tidak mau mengijinkan siapapun masuk dan merusak sepi itu. Hanya saja, seperti tidak semua orang berhak masuk ke dalamnya dan merusak kesyahduan. Satu orang masuk ke dalamnya adalah lebih dari cukup. Satu orang yang benar-benar mampu mengerti, sebab dengan mengijinkannya masuk ke lingkaran itu sudah merupakan kesanggupan bagiku untuk mau mengertinya. Benci rasanya tidak mampu memercayai siapapun di luar sana, terlebih lagi ketika makin banyak wajah yang muncul dalam kehidupan kita. Aku yakin aku membutuhkan ruang di benak seseorang, namun aku tak yakin seseorang benar-benar membutuhkan aku di dalam ruang di benaknya. Pemikiran semacam itu yang membuat kebebasan itu lumpuh. Kebebasan untuk percaya. Aku tahu, aku tak pernah lulus untuk mata pelajaran ini.

Tidak banyak yang tahu, aku lebih senang mengamati ketimbang mengambil peran. Dengan mengamati aku berkukuh sudah mengambil peran. Namun tentu saja dengan tidak berbicara tentang apapun. Di keramaian, aku bengap saat harus membuka pembicaraan. Berada di keramaian seringnya membuat kepalaku sakit.

Kenyatannya, kita tidak mampu menghindar dari keramaian atau apapun yang dipersiapkan Tuhan.

Akan ada masa di mana aku harus melaluinya untuk bisa tiba di sudut favorit di kamarku yang sepi dan hangat, dengan dekorasi broken white dan pastel jadi satu. Demi bersandar di bantal lebar kain blacu sambil membaca buku romansa terbaru aku harus mampu menerobos keramaian itu. Barangkali, aku butuh genggaman itu yang mampu membuatku aman berada di keramaian atau di manapun. Genggam yang mampu membawaku pulang pada nyaman dan kesepian. Barangkali, keberadaannya nanti mampu mengisi hari-hari menjadi sepi yang menyenangkan. Saat membunuh waktu, tidak ada kata yang benar-benar kita ucapkan. Hanya tubuh yang berbahasa dan semua berjalan baik-baik saja. Merasa cukup dengan apa yang ada adalah sebuah kemewahan yang bisa kita punya. Nampaknya aku mulai menginginkanmu. Seseorang yang bukan hanya akan kupercaya, tapi juga memercayaiku secara sempurna.

Aku masih terduduk di bibir jendela. Membayangkan kita bersisian dengan secangkir kopi dan sebilah buku pada tanganku. Entah padamu, apapun itu. Rasanya akan ada masanya, kita berdua menikmati sepi yang terhidang dalam secangkir kopi sembari memandang gugur daun yang bertumpukan di jalan sebelum terselimuti salju.

Satu hal lagi, aku hanya tak berani sesumbar, bahwa sepi membuat rindu akan kau menjadi lebih khidmat terasa.

 

 

Brusells, 21-11-2016

Tanpa Judul

Sudah dua minggu ini hujan menyelimuti langit, tetapi tidak pernah sekalipun menampakkan utas pelangi. Langit sekalipun enggan memberiku alasan untuk bisa tersenyum. Di sana hanya ada duka dan kebencian yang akhir-akhir ini marak meramaikan negara. Aku benci dihujani air mata mereka yang tercipta karena cakar mereka sendiri. Hujan air mata yang berdarah-darah. Yang kerap mereka banggakan atas nama agama.

Ayah, aku curiga tentang alasan kepergianmu adalah untuk menjumpa kedamaian dan menghindar dari nyata yang makin hari membuatku mual dan pening. Damai kah di sana, Ayah? Harus kah pula aku menjumpanya? Aku begitu paham tentang pemahamanmu bahwa aku mampu melindungi diriku sendiri. Namun, Ayah, boleh kah sekali ini aku mengaku lelah. Orang-orang beragama di luar sana kerap membuatku takut. Damai yang dijanjikan tidak kutemukan di mata mereka, yang ada hanya kebencian yang tersulut mengapi-api. Di mana dapat kutemukan refleksi cinta kasih yang diwariskan para pendahulu. Nyatanya, egoisme dan emosi selalu lebih memenangkan diri mereka. Tidak ada kedamaian bisa kudapatkan selain dekapmu yang nyaman. Dan kau salah besar dengan menganggapku gadis dewasa yang cerdas dan akan tumbuh baik-baik saja. Sebab dunia selalu lebih cerdas lagi dalam membuatku bodoh.

Terasa aneh membayangkan betapa banyak waktu dan uang mereka punya dan dihabiskan untuk hal yang benar menurut mereka. Dengan cara yang benar menurut mereka. Kau harus dengar dengan baik, Ayah. Aku berjuang hidup dan mati untuk bertahan hidup. Namun Tuhan selalu punya cara untuk menunda pertemuan kita. Aku harus lebih bersabar menahan rindu akan kedamaian. Mungkin Tuhan bermaksud menjadikanku pahlawan dan mengambil andil untuk semua kekacauan. Energi dan napasku sudah berkali-kali hampir habis, dan kutenggak karbon dioksidaku sendiri, yang terkadang membuatku tersedak dan yang termuntahkan hanya luka yang makin menganga kasat atau pun nyata. Para pandai agama di luar sana masih meneriakkan jihad fi sabilillah versi mereka, dan di sini ada saudara mereka yang hampir mati tak terpedulikan. Bila mereka benci dengan kata toleransi untuk keimanan lain, lantas apa yang sudah mereka lakukan untuk toleransi pada sesamanya? Tidak ada, Ayah. Aku tak minta dikasihani, tapi ketidak acuhan mereka malah membuatku berpikir mereka perlu dikasihani.

Aku melangkah, Ayah. Aku tak punya pilihan lain selain terus melangkah dalam penderitaan panjang seperti dongeng malam yang berperankan nenek sihir dalam balutan busana Cinderella. Menjanjikan happy ending di pukul 12 malam yang entah kapan harinya. Itu sebabnya aku tak pernah tidur menjelang tengah malam. Bersiap akan datang bahagia dan damai menjemputku di pergantian hari.

Saat ini kepalaku terasa sakit, Ayah. Perutku kosong, lebih kosong isi hati para pandai agama itu memang. Itu yang membuatku bertahan. Merasa perlu ada orang waras di dunia karena jumlahnya semakin langka saja. Tidak ada yang salah dengan memperjuangkan agama mereka, yang jelas salah adalah cara mereka. Sebagai cendekiawan, mereka seharusnya malu. Oh, mana mungkin cendekiawan bersikap demikian? Peduli apa karena mereka tak memberiku makan. Dan sekarang aku benar-benar kelaparan

Kau tak perlu merasa berhutang pada siapa-siapa atasku, Ayah. Sebab siapa-siapa tak berjasa apa-apa. Mereka sedang memperjuangkan agama mereka dengan cara yang menurut mereka benar. Biar aku memperjuangkan agamaku dengan cara yang menurutku benar. Yang tak memakai kekerasan dan sikap buruk lainnya. Kau pernah bilang, agama kita tak mengajarkan hal itu.

 

Aku rindu damai di pelukmu, Ayah. Kapan aku bisa kembali merasakannya? Menunggu tangisku jadi samudera?

 

 

Tertanda,

 

Amira.