Dekap

Serupa musim yang seringkali ditunggu-tunggu, dunia lantas menggugurkan harap demi harapku. Dan barangkali, aku terlahir dari air mata. Sebab setiap rasa yang terbersit menyerupa duka yang dapat tumpah kapan saja. Rasanya aku tak memerlukan lagi sebuah pelarian yang jauh, karena pada akhirnya yang kubutuhkan tak lebih dari sebuah tempat persembunyian yang dapat membuatku merasa aman. Padahal mungkin akan jauh lebih baik bila tak hanya bersembunyi. Demikianlah aku selalu bermimpi menjadi seorang petarung ulung, yang suatu hari membawa kapal menyebrangi lautan, lalu di hari lainnya terjun ke hutan menebas pepohonan dan membunuh macan. Aku begitu bermimpi menjadi seorang pemberani. Berita membahagiakannya, di dalam sebuah dekap milik seseorang aku tak perlu merasa ingin menjadi seorang pemberani. Di dalam dekap itu aku begitu bangga menjadi seorang pecundang yang butuh diselamatkan. Bukan tak pernah menjadi daun yang gugur di patahnya ranting, aku hanya tak pernah memiliki kesempatan untuk melakukannya. Aku ingin menjadi diriku sendiri, yang tak perlu selalu menguatkan orang lain. 

Dekap, aku mendambamu.
Ixelles, 12-11-2016

Dana dan Recalling

People do not just randomly appear into our lives, there is a reason behind it.

 

Seseorang mengirim pesan ke direct message akun twitterku. Yang biasa kirim pesan dan bicara tidak penting mungkin banyak. Namun yang ini saya seperti mengenal namanya.

“Halo, mbak. Hadiah milik mbak sudah sampai belum ya?”

Percakapan kami dimulai dari sana, sebuah pertanyaan tentang hadiah lomba blog beberapa waktu lalu dari Apple Indonesia. Saya begitu ingat tidak ada spesifikasi ketentuan jenis karya, yang penting temanya harus seputar Kartini Era Kini. Dan laki-laki itu yang berhasil menggagalkan cerpen saya dengan foto-foto kreatif dan sarat makna miliknya.   Harus saya akui, karyanya menarik dan berhak menyandang gelar juara. Namun bukan soal kompetisi itu yang ingin saya bahas, tetapi mengenai apa yang terjadi setelahnya.

Saya menerka-nerka dan baru sekarang menerka-nerka (dasar cewek nggak peka), apakah saat itu dia benar-benar ingin bertanya tentang hadiahnya? Atau tentang hadiah saya? Atau mencari topik untuk bisa berbicara lebih banyak dan menjalin pertemanan? Atau mungkin memang bertanya tapi lebih banyak rasa ingin untuk bertemannya? Intinya, kalau saja dia tak cemas akan hadiah dijanjikan yang tak kunjung sampai mungkin kami tak pernah menjumpa satu sama lain di akhirnya.

Berhari, berminggu, bahkan berbulan-bulan setelah itu kami mulai berteman di dunia maya. Begitu sangsi untuk menyebutnya sebagai sebuah pertemanan, karena yang terasa hanya canggung dan ketidakcocokan saat bicara tentang apapun. Meskipun begitu pada dirinya saya seperti menemukan diri seseorang yang begitu lama tak bertemu. Seseorang yang sudah saya kenal baik.

Dana benci berlama-lama berkutat dengan sosial media. Itu yang saya tangkap dari sudut pandangnya. Barangkali ia punya trauma tentang ini. Entah bagaimana dan mengapa justru saya merasa sering sekali ia memantau saya di segala sosial media. Tidak ada jejak memang dari seorang stalker, tapi sebagai seorang social media analyst dan enthusiast saya sangat tahu bahwa ia kerap kali dengan sengaja menemukan saya di dunia maya. Dugaan itu terbukti saat ia tahu tentang keberadaan saya di luar kota, sementara saya tidak posting apapun di sosial media saya, kecuali mention saya kepada seorang teman di twitter yang hanya dapat dilihat jika kita sengaja membuka perfil si empunya. Gotcha! Dana melakukannya. He did stalk me all the time. 

Anehnya saya tidak merasa terganggu, tidak seperti biasanya. Semua berjalan natural seperti yang saya katakan tadi, seperti ia adalah bagian dari relasi terdekat saya sehari-hari. Saya masih mencoba untuk mengingat-ingat, mirip siapa sosok Dana sebenarnya. Sejak itu, saya perkenankan ia jadi bagian di hidup saya dengan mengajak bertemu meski pertemuan itu gagal. Menariknya, saya tahu kita akan bertemu dalam waktu dekat di kota lainnya.

Dua minggu kemudian ia mengabarkan akan tiba di Jakarta untuk sebuah agenda. Sebagai tuan rumah yang baik saya merasa perlu untuk menjemput dan menyambutnya. Sungguh, biasanya saya merasa tidak perlu menjumpa pria asing yang saya kenal di dunia maya pada dunia nyata. Namun perihal Dana menjadi berbeda.

Di Stasiun Pasar Senen pukul 10 pagi saya menemuinya. Seorang laki-laki dengan tinggi badan sedikit melampaui saya. Kurus, sopan, dan sederhana. Saya benci harus banyak bercerita karena Dana adalah tipe orang yang sebenarnya bukan pendiam, hanya saja sangat berhati-hati untuk berbicara. Saya tahu dia adalah seorang yang cerewet bila berada di lingkaran terdekatnya. Saat pertama kali menjumpanya, saya menduga dia memiliki karakter koleris sempurna, makin ke sini ia justru bertingkah seperti seorang plegmatis. Pengamatan saya belum selesai sampai di situ. Apapun karakternya, saya merasa sudah familier dengannya. Masih berpikir-pikir di mana dan bagaimana kita pernah bertemu sebelumnya. Benar kah itu sebuah memori lama atau hanya DEJAVU.

Sehari, dua hari, tiga hari, saya mulai mengenal Dana lebih dekat. Semua tentangnya jauh berbeda dari apa yang saya nilai melalui sosial media. Bukan berarti baik atau pun buruk, namun lebih kepada praduga yang bisa saja benar atau salah. Salah satunya adalah sangat prinsipil. Di mata saya, ia merupakan sosok yang idealis dan visioner. Saya belajar banyak padanya tentang religiusitas yang diajarkan kepada saya tidak menggunakan kata-kata melainkan tindak perbuatan. Juga tentang bagaimana mengolah finansial, Dana  berbakat untuk berwirausaha. Sepertinya, ia pintar mengelola keuangan.

“Nay?”

Panggil Dana membuat saya tersentak. Sering kali di saat kami jalan bersama, saya termanggu. Menerawang dan mereka rupa sosok seseorang yang makin lama makin jelas muncul di benak saya.

Dana tinggal di hostel yang sangat dekat dengan kost tempat saya tinggal. Hari itu hari terakhir menuju kepulangannya ke Semarang dengan flight terpagi. Sudah hampir memasuki waktu Subuh saat saya membangunkannya pagi itu. Terlambat satu jam, ia bergegas terburu-buru dengan sesekali mengaduh lalu mencari ojek online menuju Halim Perdana Kusuma. Driver ojek yang ditunggu ikut panik karena ditelpon berkali-kali dan tidak kunjung sampai. Saya lebih banyak diam bukan karena untuk menenangkan, tetapi karena sesuatu begitu kuat mengganggu benak saya sejak beberapa hari lalu.

Ojek datang dan Dana akan segera pulang. Tak lama setelah berpamitan saya tahu kini sosok siapa di dalam hidup saya yang menjelma seorang Dana. Dengan perawakan dan sifat yang sangat mirip dengan miliknya. Ialah almarhum mantan, yang telah pergi sejak 2012. Ada kah ia bereinkarnasi dalam tubuh milik Dana? Beberapa hari setelah itu, saya bersegera mengunjungi pusaranya. Barangkali ini pertanda bahwa ia tengah merinduku. Atau barangkali adalah saya yang secara tidak sadar tengah lama menahan rindu.

 

 

 

 

 

 

Jawaban Ibu

Kutanya pada ibu, kriteria bagaimana yang harus kupasang untuk bekal pencarian calon suamiku.

“Yang mampu dan mau mengerti keadaan kita.”

Tak ada pertanyaan kedua apalagi tiga. Air mataku jatuh setelahnya. Membungkam seluruh tanya.

Pengorbanan dan Cinta

Bila apa yang kau berikan untuk cinta kau sebut sebagai pengorbanan, maka itu bukan cinta padamu. Sebab kepada cinta tak seharusnya kita perhitungan, mengharap balas dari apa-apa yang telah kita perjuangkan. Sejatinya cinta dibayar ikhlas, bukan hasrat menuntut balas.

Kau selalu tahu, begitu sulit bagiku keluar dari belenggu yang kerap menjadi rantai gerak-gerik itu. Aku tak pernah mencintai diriku sendiri karenanya. Pada mataku hanya terpancar gelap malam. Sajak-sajakku bercerita tentang ketakutan dan rasa benci. Namun kau yang bersikeras mengatakan bahwa aku jauh lebih baik dari segala kecemasan itu. Padang bunga dengan keindahan yang memekakan mata tak cukup untuk melukiskannya. “Kamu cantik dan kau hanya perlu percaya”, namun sayangnya aku begitu sulit untuk mampu percaya. Rasa cantik itu selalu berhasil kau persembahkan padaku entah bagaimana. Kau meyakinkanku lebih dari diriku sendiri, sama seperti aku mencintaimu lebih dari aku mencintai diriku sendiri.

Aku tak mau mengingat-ingat bagaimana aku cemas bukan main saat tahu kau jatuh sakit. Tak berlama-lama aku mengajukan ijin ke kantor, meninggalkan begitu banyak deadline dan abai akan pesan atasan, lalu bergegas menuju rumahmu tanpa ba-bi-bu. Berjam-jam kuhabiskan waktu untuk memasak makanan kesukaanmu, membereskan begitu berantakannya kamar itu, mencuci piring, melakukan banyak hal hingga terlupa makan seharian. Barangkali kepal tanganku berpengaruh pada suhu tubuhmu, sebab genggamanmu menghangat tak berapa lama kemudian. Peluhmu jatuh satu-satu menetes pada bantal. Kau menyuruhku pulang, namun aku tetap bertahan hingga malam ditelan fajar. Pagi harinya, sebuah hangat menguar dari punggungku. Sebuah selimut membungkus aku yang terduduk. Hangat lainnya kurasa sinar mentari yang berasal dari balkon kamarmu, tapi ternyata tidak. Hangat itu berasal dari tubuhku. Kau mendapati wajahku merah padam, aku hanya membalas tawa. Melihat kau sembuh karena aku yang merawatnya membuat aku menjadi paling cantik sedunia. Aku demam tinggi berhari-hari setelah itu.

Aku tak mau mengingat-ingat saat kubatalkan rencana terbang ke Amerika. Kau melarang atas alasan yang patut kupertimbangkan. Jangankan itu, apakah selama ini aku pernah menentang petuah dan tidak mengindahkan laranganmu? Nyatanya, aku selalu menurut dan itu membuatku merasa menjadi istimewa. Demikian mampu kubuktikan bahwa aku pengikut yang penurut dan setia. Kutitip napasku pada hidupmu.

Aku tak mau mengingat-ingat ketika aku mampu bersabar dengan tidak mendapatkan apa-apa di hari besarku, meski nyatanya telah kubatalkan segala janji. Kau harus bertugas ke luar kota dan aku bisa apa? Aku sabar menunggumu karena hari besarku tak akan menjadi besar bila tidak dirayakan bersamamu. Dengan bersabar, aku merasa menjadi kekasih yang berhati mulia. Sebab mencintaimu dibutuhkan kesabaran luar biasa.

Aku tak pernah mau mengingat-ingat saat kau bertanya, apa cita-cita terbesar dalam hidupku. Kukatakan dengan jelas, ialah menjadi ibu terbaik bagi anak-anakku kelak. Tidak ada yang lebih kuinginkan di dunia selain menjadi istri yang mampu menjadi nahkoda yang baik bagi suaminya, juga menyaksikan bagaimana anak-anakku kelak tumbuh cerdas dan menggemaskan. Jawaban itu kau balas dengan sebuah kecup di dahi. Hari itu menjadi hari spesial untuk kita, bulan dan tahun yang lebih spesial telah kita tentukan bersama. Kita akan segera merealisasikan segala mimpi-mimpi kita yang sejalan. Katamu, tak ada perempuan secantik aku dengan segala kelebihan dan kesempurnaan yang kumiliki. Kataku, sesungguhnya jelas dimiliki padaku begitu banyak kekurangan dan anggapan itu tentu saja berlebihan. Seperti biasanya kau selalu mampu membuatku kehilangan kata-kata untuk mendebat isi otakmu yang licik dan cerdas luar biasa, perempuan yang amat cantik pun tak akan ada apa-apanya bila tidak dimilikinya kepribadian seperti aku. Kau lebih cantik daripada yang paling cantik, bisikmu.

Balasan dan pembuktian apa yang kini bisa kudekap dari seorang kau? Engkau pergi tiba-tiba membawa serta kepercayaan diriku yang pernah kau hadiahkan. Meskipun karena disebabkan oleh banyak hal, berpisahnya kita membuat aku terjembab lagi dalam belenggu. Aku tak lebih cantik dari orang yang tak cantik sekalipun. Balas dari sikapmu seperti coreng di wajahku yang menjelaskan bahwa aku tak sepatutnya dicinta.

Bila apa yang kau berikan untuk cinta kau sebut sebagai pengorbanan, maka itu bukan cinta padamu. Sebab kepada cinta tak seharusnya kita perhitungan, mengharap balas dari apa-apa yang telah kita perjuangkan. Sejatinya cinta dibayar ikhlas, bukan hasrat menuntut balas.

Biar kukatakan bahwa aku telah berkorban untuk kau, maka itu bukan cinta padamu. Aku tak mencintaimu, ternyata. Mudah saja.

Barangkali aku bukan tak patut untuk dicinta dengan segala yang kupunya, aku hanya kebetulan mempersembahkannya ke salah pria. Mudah saja.

 

 

Rahasia dengan Langit

Pernahkah seorang perempuan mencintaimu dengan terlalu, tetapi tidak pula kaulihat perasaannya?

Hujan mengguyur rata kota sejak pagi. Langit tak berwarna apa-apa saat menumpahkannya. Hujan berjam-jam ini terasa seperti luka mendalam yang sekian lama dibungkam tiada redam. Aku tak ingin menghindar, kubiarkan langit mendekapku dengan cara yang ia suka. Kubiarkan tetesnya menjalar di kulitku yang beku. Aku bisa merasakannya, kesedihan mendalam yang telah lama disembunyikan oleh langit di balik awan-awan cerah itu. Air mataku terasa ingin terkuras saja. Ikut jatuh membaur dengan bening air mata dunia.

Gelap awan yang berarak menceritakan banyak hal. Tentang rasa takut dan sepi yang traumatis. Lekuknya persis seperti hitam rambutku yang berombak terbawa angin. Aku menengadah, menceritakan pada langit tentang rinduku yang terlalu. Langit tidak menjawab apa-apa selain tangis yang lebih deras lagi. Namun menatapnya begitu menghibur gelisah. Seolah akan disampaikannya rahasia ini pada hati di jauh sana. Bahkan kami tidak jauh, kediaman itu yang mencipta jarak di antara dua rasa yang bertaut. Kukatakan pada langit, aku tak ingin mencintaimu dengan air mata.

Tiba-tiba gemuruh angin berlari menangkapku dari belakang. Menyelimuti aku dengan sempurna. Mendekap dengan cara paling kusuka. Damai ini. Yang telah entah berapa lama kulupa bagaimana. Angin memelukku atau mungkin seseorang tengah menjelma menjadi angin dan memelukku. Kuhidu aroma khas engkau yang kutemukan di mana-mana saat sosokmu tak ada. Menjadikan aku dengan mudah untuk menemukanmu di setiap jengkal tubuhku. Aku mampu dengan mudah menemukanmu di setiap jengkal tubuhku.

Diam saja dan resapi. Tidak ingin ada suatu apa kulakukan, selain menikmati waktu bersama kau. Tak ada yang kupunya dan bisa kupersembahkan untukmu selain rangkai aksara. Namun terkadang kata-kata itu terasa tak perlu. Sepasang mata kita sudah lebih dulu berbicara dalam hitungan kilat mata. Saat itu, aku ingin kau melihat, kau tumbuh di antara bulu-bulu mataku yang panjang. Kau ada di antaranya dan membuat penglihatanku benderang kapan pun aku menatap dunia. Langit seringkali bercanda, seperti saat ini, dengan meninggalkan butirnya di ujung bulu mataku dan membungkus kau di dalamnya. Senyummu terpantul di sana. Dan lagi dipantulkan genang air di jalan raya ketika langit mulai menyerah untuk membuatku lelah. Kukatakan padanya bahwa aku tengah mencintaimu dengan terlalu dan caraku. Langit kerap kali membumbuinya dengan air mata, senang sekali membuat cerita bahagia menjadi duka. Gemuruh yang dihasilkannya mendorong paksa segala gundah dan keraguan menyeruak di udara.

Aku hanya ingin memastikan, langit tak menghujanimu di jauh sana, cukup saja aku membasahi kau dengan puisi. Yang tak pernah berani muncul dan dikatakan sendiri.

Rintik hujan memelan namun tetap tak mau berhenti. Dan kini aku mendambamu, meski kita akan terpagut tanpa kata tercipta. Dengan ada kau di sisiku saja aku merasa amat sempurna. Bila kau tahu banyak tentang ini, langit pasti yang membocorkannya. Cukup percaya bahwa aku mencintaimu tanpa ragu, diam membeku hanya bagian dari ritual mencintaimu dalam syahdu.

 

 

Yogyakarta, 08-10-2016

 

Getback

Aku duduk di Getback Coffee yang ternyata tak begitu ramai di akhir pekan. Di sepulang kerja setiap Senin hingga Jumat justru tempat ini lebih banyak pengunjung. Biasanya ada banyak remaja berseragam putih abu-abu yang datang untuk berteduh dari terik matahari atau untuk foto-foto dengan mirrorless yang entah apakah selalu dibawa ke sekolah setiap harinya. Coffee shop itu terletak di sebelah SMA swasta yang cukup bonafit. Ukurannya terbilang sempit memang, tapi aku terlanjur nyaman untuk berpindah tempat ngopi. Mbak Ririn (seniorku di kantor yang gila ngopi) selalu saja memaksaku untuk mau menemaninya mampir di coffee shop populer yang ada di lobi gedung kantor kami.

Hari ini hari Minggu dan aku datang ke Getback. Beberapa menit yang lalu Yondi baru saja pamit beranjak dari kursi di depanku. Aku belum bergerak sedikitpun setelah mengatakan “hati-hati” kepadanya dan memberi senyum sebisaku. Pada kenyataannya, aku mematung meski pikiranku berlari-lari ke masa lalu. Aku benci harus mengatakan ini, tapi lagu Benci untuk Mencinta dari Naif dengan lancang bersuara dari speaker di sudut-sudut atas cafe. Seolah sengaja menyindirku atau bahkan hanya ingin memperburuk benakku yang berkecamuk.

Detik itu, aku menemukan diriku seperti terseret arus dalam hitungan detik. Kemudian terjerembab ke dalam kesedihan yang begitu pilu. Percakapan dengan Yondi terekam begitu jelas, aku ingat betul bagaimana ia tidak tahu harus memulai dari mana hingga Espresso di gelasnya sudah habis.

“Emm… gue hargai keberanian lo buat datang malam ini, padahal kita belum saling kenal.”

Yondi akhirnya angkat suara. Dari caranya bersikap, aku jelas melihat bahwa ia sangat berusaha untuk hati-hati, bahkan terkesan kikuk.

“Tapi gue kenal elo kok. Demas banyak cerita soal lo,” aku tersenyum, merasa sedikit takjub ketika bibirku bisa dengan santai dan wajar mengecap nama itu, “dulu.”

“Maksud gue ngajak ketemu malam ini adalah…..” Yondi menatapku lekat, sambil berusaha melanjutkan kalimatnya. “…demi Demas.”

Ia hanya ingin memastikan bahwa aku akan baik-baik saja ketika ia atau siapapun menyebutkan nama itu di hadapanku. Saat itu memang aku baik-baik saja. Demas hanyalah sebuah nama, sama seperti Yondi, Hesti, Agus, Budi, atau Ani, entah siapa mereka aku hanya asal sebut. Aku baik-baik saja dan Yondi seperti tidak percaya bahwa aku sudah baik-baik saja.

Selalu ada jeda cukup panjang ketika Yondi akan mulai bicara. Di saat itu aku selalu mengisi waktu dengan memutar sedotan di segelas Iced Matcha yang sebenarnya tak perlu diaduk. Hanya untuk mencari kesibukan atau membuat Yondi lebih rileks dengan tidak menatapnya sebagai aksi dari menunggu kata-katanya yang tak kunjung meluncur.

“Gue bingung harus mulai dari mana.” aku Yondi kemudian.

“Elo nggak perlu cerita kalau memang nggak bisa, anyway.”

Nope. Gue harus ceritain ini.”

Okay, then. Langsung ke poinnya juga nggak apa-apa. Just take it easy, gue orangnya santai kok.”

Yondi menarik gulungan baju di lengannya yang sedikit turun. Lalu menghela napas perlahan.

“Gue bener-bener nggak tahu kapan kalian putus. Tiba-tiba muncul notifikasi di facebook kalau Demas jadian sama cewek lain. Jujur, gue shock saat itu.”

Menarik. Yondi sudah lebih santai sekarang.

“Kenapa? Bukannya lo memang biasa jadi tempat curhat dia? Dia nggak pernah cerita soal rencana untuk putusin gue?” tanyaku dengan nada sedatar mungkin. Seolah tidak begitu tertarik dengan pembicaraan ini, meskipun diam-diam aku membatin bahwa akan ada pembicaraan yang seru malam ini dengan Yondi. Seru yang kumaksud adalah sesuatu yang berbeda, yang mungkin saja tidak pernah kuduga. Bagiku cerita bersama Demas hanyalah bagian dari kenangan yang pernah mewarnai hari-hariku, sama seperti kenangan-kenangan lainnya. Tidak ada bumbu-bumbu perasaan yang bagaimana saat kisah itu harus tergali kembali. Atau kasarnya, bagiku Demas sudah lama mati dan mengharapkannya menjadi milikku lagi adalah menyalahi kehendak Tuhan.

“Nggak pernah. Gue shock karena tau-tau dia jadian dengan orang lain. Secepat itu.”

Aku tertawa.

Say thanks to his bae dong. Kalau nggak karena ceweknya nge-tag di FB, elo mungkin nggak bakal tahu kalau dia udah putus sama gue dan jadian sama cewek itu.”

Yondi tidak terlihat sama sekali ingin tertawa. Jelas ia bisa menerjemahkan tawaku adalah sebuah sarkasme yang tak lucu. Humor yang tak berguyon. Ia mengangguk setuju, Yondi adalah teman Demas sejak kecil. Tentu ia tahu bagaimana seorang Demas selalu menjaga hal privasinya terlebih lagi di sosial media. Menulis status hubungan di facebook adalah salah satu contoh keajaiban yang seperti tidak akan pernah mungkin dilakukannya.

“Permasalahannya, dia jadian dengan cewek itu setelah putus sama lo atau sebelum.”

Kali ini aku hanya tersenyum.

“Elo yang lebih kenal siapa Demas.”

“Udah gue duga.” Yondi menghempaskan pundaknya ke sofa. Satu tahun lalu saat aku dan Demas sering berkunjung ke kafe ini sepulang kuliah ia sangat senang duduk di situ. Tapi dulu belum sofa, masih kursi dengan bantalan busa yang empuk meski tegak. Bantalan busa itu ditutup tenun berwarna merah dan stripe kuning.

“Udah? Itu aja?” maksudku, apakah hanya itu yang ingin ditanyakan Yondi dari pertemuan malam ini denganku. Namun Yondi langsung menggeleng dan duduk tegak kembali.

“Bukan. Ada yang lebih penting yang mau gue omongin.”

Aku mengangguk. Kali ini benar-benar memasang tampang menunggu.

“Beberapa hari lalu Demas kirim SMS ke gue, pakai nomor baru.”

Aku tidak tahu kalau Demas ganti nomor dan memang tidak perlu tahu. Apakah ia ganti nomor untuk mencegah aku menghubungi dia? Siapa bilang aku mau menghubunginya?

“Dia nyuruh gue ke rumahnya. Terus terang, kita memang udah lama banget nggak pernah ketemu. Terakhir waktu lo mau wisuda, gue nemenin dia ke florist.”

Aku memutar bola mata, “Kalian udah nggak ketemu seteahun?”

Yondi mengangguk. Selanjutnya ia bercerita bahwa Demas merasa tertekan menjalin hubungan dengan pacarnya saat ini. Saat Yondi menceritakan bahwa HP Demas disita oleh pacarnya sungguh aku ingin tertawa. Namun wajah Yondi sangat serius dan iba, aku urung untuk mengajaknya bercanda.

Jika ada istilah untuk yang lebih parah dari over-protektif, istilah itu akan sangat tepat untuk menggambarkan bagaimana sikap (sebut saja Mawar, aku lupa namanya dan tidak mau ingat) Mawar kepada Demas. Yondi mengatakan demikian. Bahkan kata yang keluar dari mulut Yondi saat itu adalah “freak“. Pacarnya Demas adalah seorang freak.

Pertemuan gue malam itu dengan Demas berakhir dengan lesu. Gue nggak yakin Demas nangis depan gue karena itu anak paling anti mengeluarkan air mata. Tapi gue kenal siapa Demas.”

Aku yakin tidak salah dengar, saat Yondi mengatakan,

“Demas bilang, gue kangen Alya. Demas kangen elo, Al.”

 Sehalus mungkin aku berusaha menahan untuk tidak terkejut. After all this time dan semua yang sudah dia lakukan kepadaku, sekarang dia dengan mudahnya mengumbar rindu?

“Gue rasa bukan karena ceweknya begitu lalu dia membandingkannya dengan lo dan akhirnya merasa menyesal,” gelas kedua Yondi diantar waitress, “tapi ya itu bisa jadi salah satu faktornya.”

Kedua mataku menatap tajam kepada Yondi, menunggu ia mengklarifikasi kalimatnya.

“Maksud gue, ketika dia meninggalkan lo dan memilih cewek itu pasti dia berekspektasi bahwa cewek itu adalah sosok yang lebih baik atau lebih cocok buat masa depannya, bukan? Nyatanya, enggak sama sekali. Demas patut menyesal buat itu.”

Tidak ada kata yang benar-benar ingin aku ungkapkan. Jauh di dalam hatiku ada rasa hangat yang menjalar ke seluruh tubuh. Setahun berlalu semenjak aku memantapkan hati untuk membuang jauh-jauh semua memori tentang Demas ternyata tidak menjadi jaminan bahwa semua sudah selesai. Perasaanku belum selesai.

“Gue nggak tahu apakah lo udah punya pacar lagi atau bahkan udah tunangan. Sebelum gue ngajak lo ketemu malam ini gue berusaha cari informasi, setidaknya lo belum menikah. Gue nggak mau jadi perusak rumah tangga orang.”

Semakin Yondi menceritakan tentang inti dari pertemuan ini justru aku merasa semakin tidak ada gunanya. Harus kukemanakan harga diriku untuk seorang Demas yang tidak tahu malu? Namun ada yang berkata lain. Ada suara kecil yang muncul dari benakku yang mengulang-ulang nama itu dan menarik seluruh emosi dan memori besertanya.

Semua orang menuduh kalau status kesendirianku ini adalah karena masih ada nama Demas baik di hati maupun pikiranku. Aku tidak pernah mau menanggapinya serius, karena tuduhan itu bisa jadi benar adanya. Seperti candu, kesalahan Demas yang seberat apapun selalu termaafkan bagiku. Dan aku membayangkan betapa hancurnya ia kini, setelah kehilangan pekerjaan dan usaha yang bangkrut karena terlalu banyak menuruti keinginan Mawar yang bukannya membantu untuk lebih maju malah mempersulit keadaan. Aku kenal bagaimana Demas. Aku tahu dengan baik apa saja yang harus kulakukan saat Demas menghadapi masa-masa sulitnya.

“Demas butuh lo, Al. Please maafin dan kasih dia kesempatan.”

Demas pernah berkata, bahwa bersamaku dia menjadi berani untuk bermimpi banyak hal, karena semua mimpi-mimpi itu terasa realis dan mungkin untuk dicapai. Orang-orang terdekatnya juga tidak segan memujiku karena merasa Demas mengalami banyak perubahan sikap maupun habit ke arah yang lebih baik. Dari hal terkecil sekalipun, yaitu penampilan. Berpasangan dengan Demas benar-benar memunculkan sifat keibuanku. Bahkan untuk urusan baju saja ia memintaku untuk menyetrika. Mamanya berkali-kali melarangku untuk tidak terlalu melayani kemanjaan Demas. Setiap Demas dimarahi mamanya soal itu aku malah tertawa, sebab aku melakukan apapun untuk Demas dengan sama sekali tidak merasa terbebani.

Membayangkan Demas hancur membuat aku ikut hancur. Yang muncul adalah rasa kesal karena bersama gadis itu justru Demas menjadi berantakan. Jika Demas menjadi lebih baik bersamanya daripada denganku tentu saja aku ikhlas.

“Demas nggak tau kalau kita ketemuan malam ini. Tapi gue yakin dia akan cari tahu tentang lo.”
Itu kalimat penutup dari Yondi sebelum dia berpamitan. Ia sukses membuatku kacau malam ini. Yondi berhasil menguak rindu yang selama dua belas bulan lamanya telah kuabaikan. Ia juga berhasil membuat aku berharap muncul notifikasi dari Demas di ponselku.

Anganku melaju. Membayangkan kami akan duduk bersama lagi di Getback Coffee.

Hanya Waktu

Selalu ada yang terasa kosong tiap kali aku membuka mata. Yang terbaca hanya gelap dan ketiadaan manusia. Juga selalu terasa hampa tiap kali aku memejam mata. Selalu bayangmu muncul di sana. Ada yang kurang dari kehidupanku. Kurang hadirmu.

Aku bertahan dengan tidak menerima siapapun yang mencoba untuk menapaki isi hatiku lebih jauh lagi. Kubangun pagar tinggi-tinggi mengurung hati dan egoku. Semua butuh waktu. Aku butuh waktu untuk tak lagi mencintai engkau. Seolah terlupa tentang perilaku-perilaku buruk yang pernah kau lakukan. Semua seolah termaafkan.

Kau menghilang dari duniaku. Meninggalkan aku begitu saja di tengah labirin gelap yang pada akhirnya hanya memuatku jatuh ke dalam lubang bernama rindu. Kau seperti tak pernah ada di dunia, kau bagai tak nyata. Namun rasa yang kau tinggalkan adalah satu-satunya bekas jejak yang tak fana. Pada awalnya kupikir mungkin ini baik. Semesta berusaha bekerjasama agar hidupku kembali sedia kala, seperti sebelum ada kau dan kita belum saling mengenal. Bukankah semua baik-baik saja? Namun sayangnya, menghilangnya kau tak membuatku lantas mudah untuk melupakanmu. Dan bahkan untuk menerima orang baru.

Setengah tahun berlalu dan aku masih akan terus menikmati betapa perihnya menanggung rindu yang tak akan mungkin terbayar temu. Sudah tidak ada kemungkinan-keungkinan yang berusaha kuciptakan untuk menghibur diriku sendiri agar bisa menjumpamu, atau lebih-lebih dipersatukannnya kita kembali. Kau tak akan pernah melakukannya, semua itu tidak akan pernah terjadi. Aku tak henti-hentinya gundah gulana, bertanya pada kau dalam benakku sendiri, “Apa yang sebenarnya ada di pikirmu tentangku dan semua ini?”.

Aku seolah tak mampu percaya bahwa kini kau bahagia. Seperti apa yang pernah terlontar dari kata-kata di mulutmu bahwa hanya aku yang dapat menghadiahkanmu begitu banyak bahagia dan cita-cinta. Bahkan dengan cara membodohiku, aku begitu mudahnya menerima. Seolah tak cukup, setelahnya kau hujam aku dengan luka yang sempurna. Dan mau kah kau tahu, sayang itu tak jua mau sirna. Aku masih mencintaimu dalam kesendirian dan traumaku.

Pagi ini, pagi-pagi sekali, aku terduduk di teras, menyisir rambut yang sudah rapi dengan jari sambil membaca buku ditemani secangkir kopi. Sebuah mobil menderu lalu berhenti tepat di depan rumah.

Seperti tersambar petir, kau muncul dari dalam sana. Melepas jaket dan bergeming menatapku. Demi Tuhan, tidak seharusnya aku mengkhayal lagi tentang kedatanganmu. Sudah pasti kau tidak akan pernah datang! Sudah pasti kau akan menikah dengan gadis lain dan teramat bahagia.

Aku tergesa berlari menuju kran air, membasuh muka, lalu menatap ke depan teras lagi. Demi Tuhan, kau nyata adanya! Itu kau!

Detik itu aku merasa air raksa menjalari seluruh aliran darahku. Terasa perih dan menyengat, membayangkan kau mengantar sebuah undangan. Untuk apa mengundangku? Masih kurang puas membuatku terluka dengan bahagia milik kalian berdua?

Kau mendekat. Demi Tuhan, kau mendekat!

Ingin rasanya aku menangis haru dan meluapkan semua rindu, namun auramu terasa asing, sehingga hal itu menjadi tabu. Aku bisa apa selain menatapmu lekat-lekat secara nyata, sebab selama ini kau hanya muncul dalam mimpi-mimpi semata. Persetan dengan luka apa yang akan kau ciptakan lagi setelah ini, bertemu kau sekali lagi terasa seperti mimpi.

“Ayra,” Dingin tanganmu mendarat di ujung dagu setelah menyisir panjang rambutku.

Sungguh, aku amat ingin berkata-kata. Berkata amat banyak. Mencaci maki kau kalau bisa, yang muncul tiba-tiba dan kini berani-beraninya menyentuhku setelah kau injak-injak harga diriku dengan mudahnya.

Tidak ada kata selanjutnya keluar dari mulutmu. Kau terbenam di pundakku, berguncang dengan tangis yang begitu tiba-tiba.

“Maaf…” lirih, kata itu hampir tidak terdengar kalau saja bibirmu yang basah air mata tidak menempel ke telingaku. Setelahnya, kau menangis lagi. Membenamkan wajahmu sedalam-dalamnya karena tak ingin aku melihat air mata itu.

Untuk pertama kalinya, aku melihat kau menitikkan air mata. Apa lagi ini?

Setelah beberapa lama akhirnya tak ada lagi sedu-sedan dari mulutmu. Kau mengeringkan muka, lalu bersimpuh di lututku dengan menggenggam kedua tanganku.

“Hanya kau, Ayra. Hanya kau yang bisa.”

Aku berusaha mencerna pepatahku. Semua butuh waktu. Apakah juga dengan luka? Bahwa tidak segala hal yang pernah menyakitimu tidak akan memberikan bahagia suatau saat kelak?

Aku, Kau, dan Bandar Udara

Sore merangkum detik. Dan aku menikmatinya satu per satu. Menjumpamu adalah haus yang terbayar, namun tak ingin kuhabiskan airnya sekaligus. Sebab jika kau pergi aku akan mati kehausan.

Akhir pekan selalu jadi alasan yang masuk akal mengapa bandara amat ramai. Gate check in yang kecil dan hanya ada dua membuat penumpang harus sabar mengantre dan tentu saja aku harus bersabar menggendong carrier lebih lama lagi. Ruang tunggu ternyata tidak bisa terlalu banyak diharapkan. Hampir tidak ada tempat duduk tersisa dan kalaupun ada orang-orang menaruh barang-barang sesukanya, membajak alias melarang secara halus siapapun duduk di kursi sampingnya. Saat satu penerbangan berangkat baru lah ada slot untuk siapapun duduk, termasuk aku. Napasku terengah, punggungku lelah. Aku mencuri pandang ke sebelah, menatap dadamu yang lapang dan berangan rebah di sana. Tidak berandai sampai menggantungkan lengan ke leher bermanja-manja, cukup bersandar di sebelah pundakmu dan sepertinya aku akan merasakan nyaman yang menyeluruh. Rasa nyaman yang aman.

Aku membuka buku. Membalik lembar demi lembarnya tanpa benar-benar membaca. Berusaha mencuri lirik padamu dari sudut mata dan tidak ingin melewatkan gerak-gerikmu setiap detiknya. Seperti…. menabung rindu. Aku menyebutnya demikian. Kamu gelisah tak karuan, bingung akan melakukan apa sebab aku malah mengunci diri dengan buku dan kuping yang dijejal headset. Seolah tak ingin diajak berbincang. Seolah pertemuan denganmu tidaklah spesial. Bukan begitu. Aku hanya tak ingin menciptakan momen indah denganmu lebih banyak lagi, sebab itu hanya akan menyakitkanku setelahnya. Aku hanya akan menjadi semakin jatuh dan sulit menarik diri.

Bersambung….

 

 

 

Teaser dari Tuhan

Terik merunduk. Sinar kuning keemasannya memantul di kursi-kursi besi panjang peron yang catnya mulai pudar, menunjukkan warna serupa karat yang halus terasah. Stasiun sepi sore itu. Hanya ada beberapa anak sekolah yang tertawa-tawa di peron sebelah ujung, menanti kereta gerbong khusus wanita tiba di hadapan mereka.

Tepat di hadapanku, sebuah bayang tergambar amat jelas. Aku melihat diriku, juga melihat seorang putra usia tiga di genggamannya. Anak itu tampan, alisnya menukik tajam berwarna hitam, nyaris menyatu di tengah dahi. Hidungnya mancung menawan. Ada lesung pipi yang muncul tiap kali tawanya tersembul. Kulitnya putih, kurasa mirip ayahnya, kulitku sawo matang sejak lahir. Rambutnya entah mirip siapa, tertutup rapat topi dengan dua julur yang menurup telinga, persis seperti topi tentara jepang. Di atas kepala itu ada kacamata kamuflase sebagai hiasan. Topi milik tokoh kartun Pororo kesukaannya.

Kaki-kaki kecilnya melangkah kian kemari. Kedua matanya yang bulat dan dipenuhi pupil hitam pekat melirik kereta seberang yang lewat sudah tiga kali. Anak itu tak ingin duduk, kakinya ingin berlarian sebab belum mengerti bahaya jika terjatuh ke jalur kereta. Kedua tanganku menahannya. Kaki-kakinya terus menapak tempat berbeda sambil tangan terkunci di genggamanku. Tidak menangis ataupun berontak. Tidak membuat ribut. Anak itu pintar. Anak yang teramat pintar dan menggemaskan. Seorang wanita lewat dan menyapa, anak itu menatap matanya, lalu memberikan senyum istimewa. Anak yang pintar. Anak yang tampan dan pintar.

Ini kali kesekian aku memimpikan anak tampan dan pintar itu. Memimpikannya tak hanya kala sedang terlelap dan terpejam. Aku bahkan bisa melihatnya di mana-mana di siang hari. Seperti apa rupa ayahnya seolah teka-teki. Mungkin saja, Tuhan sedang memberikan teaser tentang kehidupanku mendatang. Tentang akan datangnya seorang laki-laki, yang memberikan putra pertama berjenis kelamin laki-laki.

 

 

 

 

Pergi

Tyan

Sumber: blog Naraya

“Aku harus pergi”, katamu.


Kalau kau berharap aku akan mengantarmu hingga menghilang di gate check in bandara, maaf aku tidak bisa. Tentu saja aku sibuk. Aku tak punya waktu untuk mencarikanmu hadiah perpisahan. Bahkan sepucuk surat yang akan datang bersamanya dengan berisikan kata-kata haru dan mungkin terima kasih. Surat yang kupikir akan kaubaca kapan pun kau rindukan aku di jauh sana. Tidak akan pernah ada.

Di sana kau akan bertemu dengan orang baru. Juga “aku” yang lainnya. Tak perlu sedu-sedan itu. Suatu saat nanti kita masih akan bisa bertemu. Dunia itu sempit, tenang saja. 

Mungkin suatu saat nanti kita akan bertemu tak sengaja. Di sebuah pusat perbelanjaan ibu kota, di sebuah destinasi pariwisata, di mana saja, atau mungkin di acara pernikahanmu. Tentu saja aku yang akan paling berbahagia! Tentu aku akan datang dengan hadiah paling istimewa. Aku tahu apa yang kausuka. Aku paling tahu semua tentangmu. 

Hati-hati di sana. Aku akan baik-baik saja dan akan sangat sibuk. Maaf jika tidak sempat menghubungimu di saat keberangkatan.

N.



——–

Naraya

Malam itu ia tergeletak di sebelah leptop yang lalu mati sendiri karena terlalu lama dibiarkan. Selimut yang terlipat rapi di bawah kepalanya basah. 

Seperti hujan, air matanya turun satu per satu. Ada mendung di wajahnya, tapi tanpa suara, rintih atau pun ronta. Di dalam dadanya ada sesuatu yang seolah direnggut paksa oleh waktu. Sehingga hatinya menjadi kosong seketika, kemudian meninggalkan perih yang tak bisa diobati. Secepat ini ia harus merasakan sakit lagi. 

Bahkan, hangat ibu jari Tyan di pipinya beberapa waktu lalu masih jelas terasa. Baru kemarin sore mereka bermimpi banyak hal. Bermimpi terlalu banyak. Dan dengan tidak bertanggung jawab Tyan mengatakan akan pergi, beberapa hari lagi. Laki-laki yang telah ia berikan kepercayaan untuk banyak hal. Semudah itu.

“Pras begitu. Danis begitu. Semua sama.”

“Aku berbeda.”
“Lalu?”
Waktu itu, ia tak menjawab.

Tyan akan pergi dengan membawa serta semua indah harapannya. Naraya tertawa. Bibirnya yang basah karena tertetes air mata meledakkan tawa. Mengapa ia bisa sebodoh itu mengumbar mimpi? Membiarkan orang lain mengambil alih sebagian besar cita-citanya. Bahkan pula, sisa umurnya, mungkin saja. Lagi, Naraya tertawa. Ia bukan siapa-siapa. Naraya dan Tyan adalah teman baik saja, bukan? 

Kali ini Naraya merintih, seolah seseorang telah menusuk-nusuk ulu hatinya. Ia takut kehilangan laki-laki itu. Ia takut kehilangan seseorang yang belum menjadi miliknya.
Naraya akan mengantar kepergian Tyan dengan tangis yang tak akan habis. Ia tidak akan mungkin melakukan banyak hal di hari itu karena apapun yang ia lakukan hanya mempertegas kesendirian. Tidak ada lagi campur tangan Tyan di segala urusan di hari-harinya. Naraya tak akan mampu menyembunyikan air mata dari laki-laki itu di bandara dan atau mungkin dengan berkata bahwa ia akan baik-baik saja tanpanya. Bisa saja, Tyan hanya akan membalasnya dengan ungkapan “kau teman terbaik yang kupunya.”. Hal itu tentu saja akan jauh lebih menyakitkan daripada kepergiannya.
Naraya menulis sesuatu di blog itu. Ia menyesal telah menangis karena yang ditangisi bukanlah kekasih hatinya. Lagi-lagi Naraya tertawa, tetapi pipinya menjadi semakin basah saja.