Filosofi Mati Karenina

MATI. Acap kali disebut-sebut sebagai jalan terbaik. Jangan-jangan kalimat itu hanya untuk membesarkan hati mereka sendiri? Hati orang-orang yang menyesal belakangan, setelah seorang lain direbut kematian, hingga mereka terpaksa putus hubungan. Atau penyesalan akibat tidak mengindahkan orang itu selagi hidupnya? Berarti, kematian berjasa banyak bagi setiap orang yang mati. Kematian memberikan hak seutuhnya pada orang yang seharusnya mendapatkannya, hanya saja hal tersebut diberikan akhirnya pada tubuh yang sudah tak lagi bernyawa. Esensinya sama kan? Hak terpenuhi. Kematian selalu melaksanakan tugasnya dengan baik. Dan orang-orang bodoh itu baru berniat memperbaiki segalanya setelah nyawa itu pergi. Mirisnya begitu. Budaya para manusia di alam fana ini.

Banyak hal yang kebanyakan orang tidak pahami. Kematian bisa jadi adalah mimpi bagi sebagian besar orang lain. Mereka selalu menanti-nanti. Kematian itu terlampau dekat lebih dari nyawa mereka sendiri. Mati menjadi pilihan. Bukan jalan akhir karena mereka tidak punya pilihan. Mati adalah bukti dari eksistensi manusia. Mereka tidak benar-benar mati, mereka hanya hidup dalam dunia yang tak lagi sama. Mereka kemudian menjadi hidup karena telah memilih untuk mati.

Kesimpulannya masih sama. Di saat miliyaran orang di luar sana menganggap kata mati adalah hal yang tabu, ada segelintir manusia yang berharap dihadiahkan kematian sebagai kado natalnya. Mati itu indah. Semua orang harus menyadarinya, suatu saat nanti.

Tertanda,

Karenina
Gadis yang berkali-kali gagal bunuh diri

Topeng dan Senja

Senja yang kesekian datang lagi. Satu-satunya semangatku untuk menanti hari esok hanya karena ingin bertemu senja.

Usiaku masih belia, namun entah bagaimana kedewasaan selalu kusuka, seperti senja dan mungkin saja kematian.

Aku merindukan setiap hal yang bahkan tak pernah datang kepadaku.

Hari berlalu tanpa benar-benar kutahu. Tidak ada jejak yang benar-benar kutinggalkan. Aku ingin berlalu, lewat semua alam sadar semua insan.

Masih tak sampai pada pemahamanku bagaimana orang-orang itu bisa bertahan dengan topeng-topeng mereka.

Tuhan, aku lebih baik hidup sendiri. Daripada terus berada dalam kepalsuan kebaikan hati.

Aku ingin berpulang kepada senja. Bersatu dengannya dan menyaksikan kekejaman dunia bersama dari atas sana. Lewat topeng-topeng di wajah para manusia.

Pencerahan Pagi Hari

Hari ternyata sudah pagi. Sebuah sinar menyerupai warna oranye muda menerobos masuk lewat celah ventilasi yang sempit. Persis lampu sorot panggung yang berwarna keemasan. Kusapu pandangan ke arah atas dinding sebelah manapun. Dan pencarianku itu hanya menyisakan desah nafas yang berat. Bahkan jam dinding saja belum terpasang di sana. Hari sudah pagi dan aku masih belum tertidur. Detik-detik yang berlalu dari malam tadi sampai detik ini hanya memberikanku kesepian yang teramat dalam lagi. Bukan begadang yang disengaja, melainkan terlalu banyak beban yang berkeliaran di alam pikirku dan tetap tak mau diam, sehingga tak mengijinkanku untuk pergi tidur barang sebentar pun.

Tidak ada kegiatan yang benar-benar kulakukan sepanjang malam sampai sekarang ini. Sebentar-sebentar menatap kosong pada atap kamar, lalu menangis tanpa suara, dan paling banyak kuhabiskan untuk membuka-tutup semua jejaring sosial tanpa meninggalkan jejak apapun. Beberapa uang yang tersebar tepat di hadapanku menjadi keriting. Mulai basah disebabkan tetes air mata yang sering tiba-tiba menetes lalu kering lagi. Uang-uang merah ini. Aku tak pernah yakin membutuhkannya.

Pandanganku tak lepas dari empat dinding yang membentuk kamar terlalu luas ini. Bau khas cat masih tercium jelas meski sudah kering sejak dua hari yang lalu. Sebenarnya, tidak perlu mencat ulang karena kamar apartemen yang ini baru saja di cat oleh penyewa sebelumnya. Tapi Daniel sekuat tenaga memaksa untuk melakukannya, padahal aku sama sekali tak merasa senang dengan itu. Daniel selalu berinisiatif tinggi untuk hal-hal yang tak pernah kubutuhkan. Ya, Daniel juga selalu memaksakan kehendaknya pada siapa pun. PADA SIAPA PUN. Juga pada aku yang disebutnya sebagai wanita paling istimewa di hatinya. Saat mengingatnya senyumku tercuat, sifat Daniel itu selalu menghasilkan sebuah senyum miris di wajahku. Satu-satunya hal yang bisa kulakukan karena menangis tidak lagi bisa dan hanya terasa percuma.

Aku tidak tahu lagi harus bertahan berapa lama untuk semua kesendirian ini. Tangisku pecah untuk kesekian kali. Teringat saat uang-uang itu masih kering dan diserahkan kepadaku. Daniel sudah terlalu sering berjanji membelikan ini dan itu. Nyatanya, ia selalu tidak punya waktu dan malah membelikan hal lain yang tidak benar-benar kubutuh. Nafasku memburu. Semua seharusnya tidak melulu seperti ini. Aku sudah tidak mau menahan semua lebih lama lagi. Kamar sewa ini terlalu bagus. Tiba-tiba, aku merasakan dadaku sesak lagi. Mendadak ada rasa panas yang menjalar ke seluruh tubuhku. Terbayang bagaimana Daniel biasa menikmati setiap jengkalnya dengan paksa. Aku sudah tak mau lagi. Aku sudah tak mau aborsi berkali-kali.

Kukemas barang-barangku. Kuseka sisa air mata di lingkaran bawahnya yang semakin menghitam pagi ini. Akan kucari kontrakan sempit yang tersembunyi. Sebelum Daniel datang lagi.


“Never allow someone to be your priority while allowing yourself to be their option.”
-Mark Twain





Rindu Tanpa Batas Waktu

…di pusaran kerinduan di sudut Lombok

Kepada kamu ketika rindu itu menjadi buta,

Hari ini aku datang lagi, sesuai janji kita. Hampir setiap hari aku terpaku memandangi kalender, menghitung dengan tidak sabar, harus berapa lama lagi untuk tiba di tanggal ini. Semua angka di sebelum angka sembilan itu telah kucoret dengan tanda silang hingga angkanya tidak terlihat. Satu demi satu. Meski mungkin saja pada kenyatannya kamu disana sudah lupa. Setidaknya, aku telah menepati janjiku, padamu, pada para peri yang menjaga indahnya Air Terjun ini.
Semua hal disini adalah kesukaan kita. Masih segar dalam ingatanku tentang perkataanmu, bahwa Air Terjun Benang Kelambu adalah satu-satunya air terjun yang dapat menarik perhatianmu, yang menjadi kesukaanmu hingga kau membawaku kesini untuk turut menikmati keindahannya.  Kamu masih ingat kan? Tanah basah yang mengigit. Derai air yang turun dengan tenang, derasnya menentramkan. Aroma hujan yang selalu tercium meski langit cerah. Aku menarik napas lagi. Mencoba menghadirkan kembali bayanganmu yang tak habisnya kurindukan. Engkau tersenyum. Membawaku dengan berjingkat hati-hati karena sengaja tak menggunakan alas kaki dan meninggalkannya di jembatan tadi. Seperti biasa tidak ada kata yang terujar, kita hanya butuh sebuah senyum untuk menggambarkan begitulah sebuah kesempurnaan. Di saat itu masing-masing kita akan membatin, “Terimakasih, Tuhan” dan tidak ada lagi yang mampu dikatakan. 
Kebahagiaan kita sesederhana itu, Sayang. Sebilah tangan yang saling bertautan. Duduk bersisian tanpa berujar selama beberapa lamanya. Sampai salah satu dari kita tidak sengaja mengatakan sebuah ujaran saking indahnya Air Terjun yang ada di hadapan kita. Kemudian pembicaraan dimulai. Suaramu yang damai, tawa dan candamu yang renyah di telingaku. Aku menikmatinya, dengan seksama mendengarkan sambil sesekali tersenyum sebagai timbal-baliknya. Padahal andai kau bisa mendengar, detik itu aku sedang membatin, berkata pada diri dan Tuhan, tentang kamu. Bahwa tidak ada habisnya cinta yang kuhadiahkan untukmu setiap harinya. Rindu juga begitu. Rinduku kepadamu semakin mengakar di tiap detiknya. Saat kau dekat maupun jauh, aku selalu merindu.
Jalan kaki sejauh 1 kilometer demi sampai di Air Terjun Benang Kelambu ini adalah rekor terbesarku. Kehadiranmu menangguhkan ketidaksanggupanku. Dan bahkan, perjalanan menuju kesini adalah potongan kenangan yang juga tak bisa kulupakan. Kita menikmati setiap jengkal perjalanan ini. Hamparan persawahan dengan latar perbukitan dan Gunung Rinjani yang menjulang tinggi, lalu memasuki hutan hijau yang menyegarkan mata, kicau burung di antara senandung lagu yang kita nyanyikan bersama, dan suara hewan-hewan, entah apa, yang saling bersahutan menciptakan sebuah harmoni yang tak bisa ditawar keindahannya. Suasana itu seringnya membuat lupa, membuatmu lupa tentang mobil yang kau tinggalkan di parkiran tanpa kunci stang yangs emula kau khawatirkan, membuat kita lupa tentang tujuan kita di atas sana yaitu Air Terjun ini yang mungkin saja masih sangat jauh sekali letaknya. Tak jarang aku mengaduh akibat sesuatu, baju yang tersangkut ranting, sendal yang tak sengaja terendam lumpur hingga mengenai kaki, apapun itu kau selalu siaga membantu meski terkadang pada awalnya kau tertawa melihat kebodohan yang terjadi padaku.

Kamu dan Air Terjun Benang Kelambu ini adalah satu kesatuan dalam memoriku yang paling mudah diingat. Dirimu sama indahnya dengan Air Terjun itu, memberi gemercik basah yang nakal dan menenangkan, 

aku masih memerhatikanmu, yang diam seraya memejamkan mata. Menghirup udara perlahan dengan  genggaman tangan yang masih terkait denganku. Imajiku berputar pada memori pertama kita mendatangi tempat sakral kita ini. Aku berujar padamu, dengan tidak bisa membedakan apakah itu sebuah pertanyaan atau seruan,”Menurutmu, kenapa Air Terjun ini dinamain Benang Kelambu?”. Kedua bola mataku membesar, dengan tersenyum dan tak sabar menunggu jawabanmu. Kamu membuka mata, menatapku lalu menggumam cukup lama, “Mungkin karena Air Terjun ini lain dengan yang lainnya. Suaranya nggak ribut bergemuruh, tapi tenang dan berderai, sampai bentuknya terlihat halus dan teratur, mirip jalinan benang kelambu.” Selalu saja kamu memberikan jawaban yang rasional. Aku mengangguk-angguk, lalu buru-buru menggeleng. “Salah! Bukan itu!” Seruku. Alismu bertaut tidak terima mendengar tanggapanku yang sok tahu. “Dinamakan Air Terjun Benang Kelambu, karena setiap pasangan yang datang kesini nantinya berjodoh sampai nikah! Ha..ha…” Mendengar candaanku, kamu tidak tertawa. Malah separuh tersenyum lalu diam. Awkward moment. Detik itu aku bingung, dan sekarang aku sudah mengerti.

Tiga bulan yang lalu kita berjanji akan datang kesini lagi sebagai rangka memperingati hubungan kita yang telah genap usianya. Kita juga berjanji untuk saling bertukar hadiah. Dan sekarang, ini, kubawakan sendal gunung yang kau impikan dan dulunya pernah kau tunjukkan di sebuah toko padaku. Tahukah, aku membelinya dengan gaji pertamaku, aku membelinya sehari setelah kita mengucapkan janji kita itu disini. Kubungkus dengan rapi, dengan kertas kado berwarna merah kesukaanmu, dengan ornamen pita yang merumbai dan sepucuk kartu kecil bertuliskan,“Happy for us! Always be here next to me, then i’ll call it LIFE :)”. Aku menyerahkan hadiah itu padamu dengan penuh sumringah. Kamu hanya diam memerhatikannya, bahkan tak mau menggapainya dari genggamanku. Kamu menggeleng perlahan dan tetap diam, tidak menyambut pemberianku dengan menyenangkan. “Ini hadiah yang sesuai perjanjian kita tiga bulan lalu! Sebentar, aku buka ya. Kamu pasti suka!” Aku membungkusnya dengan sepenuh hati, malah kini merobeknya dengan beringas saking tidak sabarnya. Setelah bungkusnya terlepas, aku menyodorkannya padamu. “Lihat! Ini sepatu gunung yang kau idam-idamkan sejak dulu!” Senyumku lebar, senyummu melengkung terbalik.”Kenapa?” Kau menggeleng, “Aku sudah memilikinya, dari dia.” Detik itu hatiku menciut, tubuhku menjadi kerdil, dan kebahagiaanku sekejap hancur. Aku paham, saat otakku menerjemahkan kata ‘dia’ menjadi ‘kekasih’. Aku diam, tidak ada kata yang tersisa selain tangis yang meraung-raung di dasar hati. Bayanganmu sekejap menghilang. Terhisap masa lalu yang tak ingin kuingat lagi dan terkenang sebagai luka yang perihnya tak kunjung hilang. Aku lupa, kau sudah kembali padanya. Aku lupa, kau sudah jadi milik dia seutuhnya. Aku lupa, waktuku sudah habis. Kemudian aku tertawa sendiri. Air mataku tetap saja tak mau berhenti turun, sebagai tanda rinduku yang tak akan pernah usai. 
“You may be out of my sight… 
but never out of my mind.. 
i miss you,”


Air Terjun Benang Kelambu, Lombok