Gunung Latimojong: Terbaik!

Cuaca buruk akhir-akhir ini tentu saja sangat berpengaruh di gunung. Beberapa gunung ditutup dengan alasan keamanan, agar tidak ada pendakian karena hujan dan badai mampu menumbangkan pohon, menimbulkan kabut yang berakibat ke jarak pandang, dan membuat trek licin tentunya. Akhir tahun dengan musim penghujan bukanlah waktu yang cocok untuk melakukan pendakian, memang.

Di sisi lain, Latimojong kerap “memanggil-manggil” saya. Hati saya malah mengatakan bahwa ini adalah waktu yang tepat untuk mendaki Latimojong! Seperti kata pepatah, mountain is calling and I must go (serius, saya kalau naik gunung nunggu “dipanggil” dulu).

Saya join dengan grup backpacker dari beberapa kota. Jumlah kami berduabelas. Menjelang hari H, akun-akun gunung di Instagram mulai memberitakan info-info bencana maupun kecelakaan. Seorang teman pendaki perempuan yang saya kenal bahkan dikabarkan meninggal di Gunung Binaiya, ia tertimpa batang pohon (atau ranting, entahlah simpang siur beritanya) tepat di kepalanya. Group WhatsApp dibuat, seorang teman di group rajin meng-update cuaca di Enrekang bersumber dari sanak familinya yang tinggal di sana, seorang lainnya rajin mengirimkan forecast cuaca Gunung Latimojong. Aduh, aduh, malah bikin panik!

Saya sengaja tiba lebih awal di Makassar untuk berkeliling, khususnya untuk berkunjung ke Perpustakaan Katakerja baca di sini. Namun ternyata Makassar diguyur hujan setiap hari, siang dan malam. Duhhhhhh!

Terus terang, baru kali ini saya deg-degan menjelang pendakian. Tidak mungkin dibatalkan karena semua telah dipersiapkan dan tiket sudah di tangan. Saat tiba di Makassar, saya kerap membatin ulang, apa saya mengundurkan diri dari tim dan batal mendaki saja ya? Tapi sudah kepalang. Terlalu mubazir.

Tidak henti-hentinya saya meminta restu kepada ibu untuk mendoakan agar Latimojong tidak hujan saat kami kunjungi. Kalau saja ibu saya melarang untuk pergi, maka saya tidak akan pergi. Tapi yang terjadi malah sebaliknya, ia dengan mudah mengijinkan saya pergi kali ini. Pertanda yang bagus, batin saya. Saya berdoa tidak henti, selebihnya biar Tuhan yang mengatur.

Hari H tiba, pendakian kami berjumlah dua hari satu malam, lebih cepat dari pendakian pada umumnya yang tiga hari dua malam. Pendakian dimulai dari Desa Karangan, kami bermalam dulu di rumah kepala desa yang sampai pulang tidak saya ketahui seperti apa wajahnya ha..ha.. Flash tip: Biasanya akan disiapkan sarapan dengan menu sarden dan telur. Sebaiknya minta juga untuk dibungkuskan nasi sebagai bekal yang bisa dimakan di Pos 2.

Lagi-lagi jadi cewek sendiri

Awal Pendakian

Belanja-belanji dulu di Pasar Baraka. Di sini juga kami turun dari travel yang mengantar dari Makassar selama tujuh jam (sila hubungi saya untuk kontaknya). Kemudian lanjut naik Jeep hingga Desa Karangan. Terjadi perbaikan jalan dengan banyak traktor parkir di jalan yang sempit, sehingga kami harus turun Jeep dan lanjut berjalan kaki menuju Desa Karangan dengan jarak kurang lebih 2 km dan tanpa penerangan.

Kondisi Antar Pos

Gunung Latimojong memiliki total tujuh pos, tanpa pos bayangan. Agar lebih mudah, saya membuat intisari untuk mendeskripsikan kondisi pendakian antar pos Gunung Latimojong.

Pohon Kopi Latimojong. Kopi bisa dibeli di warga sekitar, harganya Rp.25.000/250 gram.

 

Pos 1 – Pos 2: Pendaki akan melewati pohon-pohon kopi dan akan mulai memasuki hutan. Trek lumayan vertikal. Duh, baru di awal saja sudah curam bagaimana di akhir? Ha…ha… Tapi nervous terbayar karena suasana indah Pos 2; goa & air terjun yang tidak tinggi tapi deras! Maksi (makan siang) dulu….

Pos 2 – Pos 3: Ini yang paling sulit (katanya). Jarang akar dengan kontur tanah merah dan licin, sehingga di beberapa titik terdapat rotan yang dapat dipegang sebagai bantuan (seperti Tanjakan Setan, Gunung Gede). Flash tip: sebaiknya siapkan tali webbing untuk membantu teman-teman rombongan, karena simpul rotan yang ada suatu waktu bisa saja terlepas atau putus.

Pos 3 – Pos 4: Sebenarnya tidak securam pos sebelumnya, namun terasa sangat menyiksa, mungkin karena tenaga kita sudah terkuras di pos sebelumnya. Kaki saya sendiri bergetar saat melalui pos ini karena kelelahan, ternyata saya nggak sendiri, Bang Anchu, teman yang jalan di depan saya, mengaku merasakan hal yang sama.

Pos 4 – Pos 5: Posisi sudah mulai tinggi, pemandangan Enrekang sudah dapat terlihat dari bibir hutan.  Hari sudah mulai gelap saat kami melalui trek ini.

Pos 5 – Pos 6: Adalah awal pos menuju summit kalau ingin bermalam di Pos 5. Jalur lumayan sempit dan tinggi.

Pos 6 – Pos 7: Pendaki akan menemukan Hutan Lumut yang fenomenal itu. Selanjutnya adalah batas vegetasi penghabisan hutan di pinggir jurang.

Pos 7 – Puncak Rante Mario: Ada enam bukit yang harus dilewati setelah tiba di padang rumput dengan batuan granit berwarna putih persis marmer. Ada juga jalur menuju Puncak Nenemori (Latimojong memiliki beberapa puncak, Puncak Rante Mario adalah yang paling tinggi).

 

Selalu lupa mau foto tenda. Ini juga foto seadanya punya Bang Andra (in frame: Bang Octa)

 

Rencana awalnya, kami berniat untuk mendirikan tenda dan bermalam di Pos 7, namun kondisi tim tidak memungkinkan sehingga kami pun bermalam di Pos 5. Basecamp Pos 5 enak, lahannya luas muat sekitar 15 tenda, banyak pohon sehingga mudah untuk menggunakan flysheet, juga ada sumber mata air yang meskipun jaraknya hanya 150 meter tapi trek lumayan bikin dengkul gemeter ha…ha…

Ingat apa yang saya khawatirkan di pendakian kali ini? Yak, hujan! Ajaibnya, selama pendakian tidak turun hujan sama sekali! Saya senang bukan kepalang. Barangkali itu juga berkat doa ibu yang tidak putus-putus. Saya selalu percaya kekuatan doa, karena menurut ajaran agama Islam, kan doa adalah senjata kaum muslimin *mendadak religius* *subhanallah*.

Saat di puncak memang kami terkena badai angin, tapi hujan yang kami rasakan pun hanya hujan kabut. Jadi, tidak bisa dihitung sebagai hujan. Seturunnya dari Rante Mario pun cuaca menjadi sangat-sangat-sangat cerah. Terlihat betapa cantiknya padang hijau di awal Pos 7, meskipun nggak secantik Cemoro Sewu, Gunung Lawu.

We made it!

 

Akhir Pendakian

Kami turun dari Pos 5 tepat jam 6 sore. Di akhir pendakian, tim akhirnya terpecah-pecah menjadi beberapa rombongan. Kekurangan dari pendakian bersama orang baru yang belum kamu kenal adalah ketidaksamaan ritme jalan. Bukan sombong, tapi bagi saya dan Bayu ritme jalan yang pelan dengan banyak berhenti itu lebih menguras energi apalagi saat turun gunung. Saya dan Bayu berniat untuk memisahkan diri dari tim di trek Pos 2 ke Pos 1, memang sudah terlalu terlambat, tapi kami mempertimbangkan letak basecamp yang masih jauh sementara saat itu sudah pukul 11 malam dengan kondisi perut yang kosong dan kaki sudah lelah. Kalau mau egois, bisa saja kami turun duluan sejak awal untuk memisahkan diri dan sudah tiba di basecamp jam 10 malam. Namun kami menghargai kebersamaan tim dan menjaga perasaan dua orang teman yang tidak fit saat itu. Tapi akhirnya, tenaga kami pun habis karena cara jalan yang dipilih menurut kami kurang efektif. Oleh karena itu, saya dan Bayu akhirnya meminta ijin untuk jalan duluan dan terpisah di Pos 2 ke Pos 1.

Bang Aryo sudah turun dari Pos 5 pukul 4 sore untuk mengabarkan Jeep yang kami pesan bahwa kepulangan diundur menjadi besok pagi, jadi dia pasti sudah sampai di basecamp. Tepat pukul 1 malam, saya dan Bayu tiba di basecamp, disambut oleh gongonggan para anjing piaraan yang dimiliki setiap rumah. Ramainya bukan main haha!

Sesuai prediksi kami, pasti akan ada bagian dari rombongan yang merasa lelah, bosan, lalu memutuskan untuk duluan. Terbukti, Bang Anchu dan Bang Ajieb menyusul kami setengah jam kemudian. Mereka pun ngebut karena diamanahkan untuk mencari ojek menjemput dua orang teman kami, atau tim SAR untuk evakuasi, atau apa sajalah (untungnya tim kami memiliki HT untuk berkomunikasi). Bagaimana mencari bantuan di malam selarut ini??? Akhirnya, sisa rombongan baru tiba di basecamp pada pukul 5 pagi saat saya sudah terlelap di balik hangatnya sleeping bag, jadi nggak lihat kapan mereka datang.

Ke simpulan, pendakian kali ini adalah yang paling tidak terorganisir selama yang pernah saya alami. Terlebih lagi soal makan, agak terkejut juga ending-nya jadi saya yang masak padahal beberapa orang membawa nesting dan kompor sendiri (nasib jadi cewek satu-satunya). Sebenarnya tidak apa-apa saya yang masak (maklum biasanya naik gunung malah cowok-cowok yang masak, jago-jago pula mereka), hanya saja semua akan lebih baik bila dipersiapkan sejak awal dengan matang, tau gitu saya sudah memikirkan dan menyiapkan menu dari rumah. Akibatnya, bahan makanan yang kami bawa sangat standar, bahkan berkali-kali tim masak mie. Duh…………… hari gini naik gunung masih makan mie? Baru kali ini naik gunung nggak makan enak hu…hu…. Padahal kan makanan jadi satu-satunya sumber energi untuk mendaki sehingga harusnya bisa memenuhi gizi dan nggak sembarangan. Hiks! Kangen tim yang biasa naik gunung bareng dan makan lezat!

Bang Rafif – Bang Aldy – Bang Ajieb – Bang Aryo – Bayu – Naya (urutan melingkar dari kiri)

 

Soal itinerary dan persiapan boleh mengecewakan, namun faktor alam untungnya berkata lain. Gunung Latimojong sangat baik! Cuaca sangat baik, tidak hujan tapi tidak panas! Tuhan sangat baik! Fixed, Latimojong menjadi salah satu gunung favorit saya. Alamnya indah, airnya banyak, goa yang cantik, hutan lumut, kebun kopi, Burung Anoa, semuanya! Saya nggak masalah untuk balik lagi ke Latimojong, terasa belum afdol karena belum mengunjungi puncak lainnya yang ada di Latimojong, pasti dari sana bisa melihat keindahan Enrekang dari sisi lainnya.

Terima kasih banyak, Latimojong! Terima kasih sudah menjadi penutup manis tahun 2017!

 

Naik Gunung Saat Menstruasi

Udah bikin rencana naik gunung dari jauh-jauh hari tapi ternyata si “bulan”datang?

Sesuai request, saya tulis postingan ini agar teman-teman nggak perlu panik, semua akan baik-baik aja asal kita antisipasi sejak awal. Saya pribadi justru lebih sering naik gunung pas lagi menstruasi. Bukan disengaja, tapi memang menstruasinya yang kadang kecepetan dateng jadi nggak sesuai dengan perhitungan. Keseringan naik gunung pas lagi menstruasi justru jadi hal yang wajar dan menyenangkan buat saya, mungkin karena sudah tahu apa saja yang harus saya persiapkan. Selama ini saya menerima banyak pertanyaan dari teman-teman pendaki perempuan seputar mendaki saat menstruasi. Mari kita breakdown di sini….

  1. Mendaki saat menstruasi, boleh nggak sih?

Banyak yang bilang, jika saat hari keberangkatan ternyata kita menstruasi, maka lebih baik pendakian dibatalkan saja. Hal ini umumnya ditujukan kepada hal-hal mistis, yang sangat lekat dengan gunung. Menurut saya, semua kembali ke kepercayaan masing-masing dan bagaimana menyikapinya. Alangkah lebih baik jika kita lebih fokus pada dampak apa saja yang dapat muncul jika mendaki selama menstruasi dan bagaimana mengantisipasinya, khususnya faktor pribadi. Jika teman-teman beragama muslim, maka sangat disarankan untuk memperbanyak dzikir selama pendakian, sebagai pengganti ibadah solat wajib yang tidak bisa ditunaikan.

 

2. Baru pertama kali naik gunung, pas menstruasi pula. Gimana dong?

Pertama-tama, kamu harus kenali dulu seperti apa diri kamu saat menstruasi, misal gejala apa aja yang biasanya timbul dan solusi apa yang bisa dilakukan untuk mengatasinya. Saya sendiri saat menstruasi biasanya akan muncul nyeri bahkan bisa sampai pingsan. Gejalanya banyak seperti nyeri perut, sakit kepala, sendi ngilu, dan otot pegal. Satu-satunya solusi terbaik untuk mengatasi ketika sedang sakit seperti itu adalah dengan beraktifitas, apalagi mendaki gunung. Medan yang sulit dan bawaan yang berat membuat saya terfokus kepada pendakian dan jadi lupa pada rasa nyeri yang ada. Nah, itu kalau saya. Kalau kamu tipe orang yang justru nggak boleh ngapa-ngapain ketika lagi nyeri haid, lebih baik disiasati dengan cara seperti membawa daypack (tas gunung ukuran 25-35 liter). Orang yang baru pertama kali naik gunung biasanya akan mengalami euforia, seperti pengin bawa banyak barang ataupun keril gede biar kelihatan keren kayak pendaki-pendaki lain. Jangan deh, daripada nanti kamu menyusahkan diri sendiri dan orang lain kalau harus bawain keril kamu. Kerilnya sendiri aja udah pasti berat, kan?

Kalau kamu biasa minum jamu atau obat pereda rasa nyeri (atau minyak angin) sebaiknya dibawa dan ditaruh di bagian yang udah dijangkau. Terus terang, kalau di “darat” saya sering ngerasa nggak kuat nyeri dan minum jamu kunyit asem kemasan yang katanya nggak baik buat kesehatan bila dikonsumsi terus-terusan. Tapi kalau lagi mendaki saya nggak pernah merasa perlu minum gitu-gituan dan kuat dengan sendirinya, mungkin karena kepikiran puncak. Semangat!!!

 

3. Kalau menstruasi ganti pembalutnya gimana dan sampahnya buang di mana?

Jawabannya, ganti di tenda, tapi itu kalau sudah sampai di camp area. Nah, kalau belum?

Mungkin banyak teman-teman yang kalau lagi menstruasi dalam sehari bisa ganti pembalut sampai lima atau enam kali. Saya juga begitu soalnya he..he.. It’s okay, kalau sedang di pendakian dan teman-teman merasa sudah “penuh” atau tidak nyaman, minta waktu sebentar kepada teman-teman rombongan dan mencari tempat yang aman untuk mengganti pembalut. Saya sarankan untuk memakai pembalut malam yang uurannya lebih panjang dan lebar. Kemudian masukkan ke dalam plastik, simpan di plastik khusus sampah pribadi dan letakkan di dalam keril. Pastikan tidak tercium bau darah karena dapat memicu datangnya hewan buas (kalau naik ke gunung yang ada hewan buasnya). Ketika sampai di camp area nanti, teman-teman bisa kembali mengganti pembalut dan membersihkan daerah kewanitaan dengan tisu basah yang setelah dipakai dibungkus plastik, lalu dimasukkan ke plastik khusus tadi untuk dibuang jika sudah sampai di rumah nanti — Ingat, jangan buang di gunung!!! Akan lebih baik jika teman-teman sudah menempelkan pembalut dengan underwear dari rumah, jadi tidak perlu repot memasang, karena saat di dalam tenda teman-teman akan sulit bergerak apalagi berdiri.

 

Itu dia tiga tips utama yang harus kamu perhatikan jika ingin mendaki saat menstruasi. Persiapkan fisik sebaik mungkin ya, dengan banyak minum air putih, makan yang bergizi, dan latih emosi — naik gunung biasanya sangat menguji kestabilan emosi kita, apalagi kalau lagi menstruasi yang senggol-dikit-bacok coba?

Lagi-lagi, kamu yang lebih mengerti sekuat apa dirimu. Jika memang ragu dan tidak mampu, lebih baik bersabar dulu dan undur pendakian sampai waktu yang pas. Itu tadi tiga pertanyaan yang paling sering ditanyakan, kalau ada pertanyaan lainnya bisa langsung kontak ke line nayadini atau email nayadini@icloud.com.

 

See you, travellers!

 

Nay.

 

Menemukan Pria Idaman di Gunung

Beberapa waktu lalu saya mendapat undangan untuk turut menulis di hipwee.com. Ajakan itu tentu merupakan sebuah kehormatan bagi saya yang pamali untuk ditolak. Saya ingin menulis tentang sesuatu yang bertema travelling namun dikemas ringan. Jadilah sebuah artikel sesuai dengan yang saya amati selama beberapa kali mendaki gunung: Bahwa gunung adalah tempat paling ideal untuk menunjukkan apakah dia adalah pria yang tepat atau bukan. Yang mungkin tidak bermakna sama dengan judul artikel di Hipwee: Cowok Naik Gunung Itu Suami-able Banget. Judul terebut dibuat oleh editor Hipwee. Mungkin agar terlihat fenomenal dan menarik. Namun bagi saya agak berlebihan dan memiliki makna yang berbeda dengan yang saya maksud. Tidak apa-apalah asal bukan isinya yang diubah total, pikir saya.

 

Makin ganteng ya mantan aku kalo lagi naik gunung

 

Pada awalnya, hanya ada tiga poin yang saya buat, namun saya tambah dua lagi karena jenis tulisan Listicle pada Hipwee harus minimal sebanyak 5 poin. Berikut adalah alasannya mengapa paling tepat menilai seorang pria idaman ketika naik gunung:

  1. Jiwa Kepemimpinanya

Jelas, akan terlihat seperti apa dia menyikapi para anggota tim. Jiwa kepimimpinan itu dapat dilihat secara personal, tidak serta merta harus jadi pemimpin regu terlebih dahulu. Yang ditunjuk menjadi ketua regu dan memandu tim belum tentu memiliki jiwa kepemimpinan daripada yang tidak. Yang  sweeping di belakang juga belum tentu tidak bisa memimpin, siapa tahu justru dia malah lebih mengayomi karena memastikan segalanya aman terkendali.

  1. Sikapnya Memperlakukan Perempuan

Saya memiliki begitu banyak teman laki-laki dan mereka sering memperlakukan saya sama rata, seperti teman laki-laki lainnya. Saya tidak masalah dengan hal ini karena dengan begitu saya merasa mereka mengakui bahwa saya tidak manja dan sama kuatnya dengan mereka. Namun mereka sering kali tidak tahu bahwa diam-diam saya menilai karakter mereka sebagai seorang laki-laki. Saya sangat senang mengamati orang lain khususnya dari hal-hal kecil yang biasanya dianggap tidak penting. Pada artikel di hipwee tersebut saya menjelaskan bahwa hal-hal kecil bagi saya sangat penting dan menentukan hal besar. Seperti misal sensitifitasnya. Sedekat-dekatnya teman laki-laki dengan seorang perempuan, tetap saja kita bisa menilai bagaimana sifat mereka menyikapi hal tersebut. Terlepas dari dia menyimpan perasaan kepada kita atau tidak. Faktor satu ini bagi saya cukup untuk mewakili bagaimana ia memperlakukan ibunya di rumah.

  1. Ibadah yang Dijaganya

Naik gunung itu capek, dingin, susah air, boro-boro deh kuat wudhu mau gerak aja mager. Nah, ada banyak banget emang alasan buat meinggalkan ibadah. Banyak juga yang berpikiran, “Tuhan pasti ngerti kalau kita lagi kesulitan air dan dalam keadaan kotor (literally)” atau “Kita kan musafir, dikasih kemudahan masa’ nggak digunakan.”. Entahlah…. tapi banyak juga yang masih bisa menjaga solatnya kalau mendaki gunung. Jadi, menurut saya kembali lagi kepada pribadi masing-masing. Dan hal-hal semacam itu kerap menjadi pertimbangan besar saya terhadap seseorang. Urusan seseorang dengan Tuhan-Nya memang privasinya. Namun merupakan salah satu kriteria terpenting bagi saya untuk menentukan calon pasangan.

 

Itu lah 3 dari lima artikel listicle yang saya buat di Hipwee. Dua poin lainnya bisa kamu lihat sendiri melalui link di bawah ini. Jika ada ketidaknyambungan antara sub judul dengan artikel, maka itu adalah perbuatan editor Hipwee ya. Huhuhu.

http://www.hipwee.com/list/mencari-pria-idaman-paling-tepat-adalah-di-gunung-ini-5-alasannya/

 

Gunung Raung: Meraung-raung Menuju Sejati

Bagi saya, mendaki gunung bukan merupakan sebuah ambisi, melainkan sebuah hobi yang kebetulan dapat tersalurkan karena adanya ketersediaan waktu, uang, dan teman perjalanan. Pendakian terbaru ini dapat saya kategorikan sebagai sebuah pendakian dadakan. Semua berawal dari ajakan Jacklyn (partner nanjak Gunung Kerinci bulan Maret lalu, baca di sini) yang begitu tiba-tiba. Seharusnya bulan ini saya menginjakkan kaki di Gunung Tambora, tapi batal karena cancellation tim yang begitu tiba-tiba. Jadwal sudah terlanjur diluangkan, bisa saja alih destinasi ke tempat lain, tapi kalau alih destinasi menjadi ke Gunung Raung…… rasanya seperti tidak mungkin. Medan Gunung Raung yang terbilang ekstrim tentu saja yang menjadi alasan utama dari keragu-raguan itu. Batal Tambora dan malah jadi ke Raung, ngeri juga. Kalau bukan karena Jacklyn yang mengompori, mungkin saya tidak akan pernah menyambangi Puncak Sejati.

 

April – Arina – Vyna – Naya (- minus Jacklyn yang menyusul karena malam itu ketinggalan pesawat)

Disebabkan tidak ada kereta langsung dari Jakarta – Kalibaru (Banyuwangi), maka saya transit di Jogja terlebih dahulu (Flash tip: Kebanyakan orang melakukan transit di stasiun Surabaya Gubeng, khususnya bagi yang ingin naik pesawat). Kebetulan memang ada event yang harus disambangi di daerah Bantul, maka saya memutuskan untuk menetap di Jogja sampai akhirnya tiba hari H. Hurra!

Jika ingin langsung berangkat dari Jakarta, transit (di manapun) lalu sambung kereta ke Kalibaru, menurut saya akan sangat menghabiskan tenaga. Bayangkan, untuk perjalanan dari Jakarta ke Jogja saja membutuhkan waktu tempuh delapan jam dengan kereta, lalu dari Jogja ke Kalibaru menghabiskan waktu 14 jam, sehingga total menjadi 22 jam di kereta! Belum lagi jeda waktu transit bila jam keberangkatan terpaut jauh dengan jam tiba kereta sebelumnya. Jadi, saya tidak menganjurkan untuk kamu langsung transit seperti itu.

Saya berangkat dari Stasiun Lempuyangan, Jogja bersama Arina (@fasyaarina). Sri Tanjung membawa kami menuju stasiun Kalibaru, Banyuwangi selama 14 jam. Kami bertemu dengan teman-teman serombongan lainnya di stasiun Surabaya Gubeng. Belasan orang sudah berkumpul dan siap menjumpa puncak sejati. Terus terang, ini pendakian dengan rombongan teramai yang pernah saya lakukan, di gunung dengan tingkat kesulitan ekstrim pula. Namun asal semua dipersiapkan dengan baik saya rasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan bila kita sudah berpamitan dengan keluarga, berdoa, serta bersikap wajar selama pendakian.

Setelah berjam-jam merasa bosan di atas kereta (tidur – ketawa – tidur – baca novel – tidur – jajan popmie dan kopi – tidur lagi – dst.) akhirnya kami tiba juga di stasiun Kalibaru. Pukul 19.58 WITA dan sudah terlalu malam untuk bermalam di Pos 1. Oleh karena itu, kami memutuskan untuk bermalam di basecamp alias rumah warga. Dengan menggunakan ojek dari stasiun Kalibaru menuju kaki gunung. Motor trail tentunya! (Flash tip: Daripada menyewa losbak saya lebih menyarankan kamu untuk memilih ojek, karena medan berbatu dan ongkos ojek juga tidak terlalu mahal).

Arina – Bang Omenk – Naya di Camp 5

Pendakian dimulai esok hari. Dari basecamp ke Pos 1 kamu harus menggunakan ojek (lagi). Perjalanan yang ditempuh kira-kira 10 menit. Jalur yang menanjak dan sempit akan memberikan sensasi tersendiri saat naik ojek hehehe. Tiba di Pos 1 alias rumah Pak Sunarya kita akan disambut oleh pisang goreng dan kopi Lanang. Pak Sunarya, merupakan “Mbah Marijan”-nya Gunung Raung. Konon katanya beliau lah yang membuka jalur Gunung Raung, sehingga dapat dinikmati oleh para pendaki seperti sekarang ini.

Raung memiliki 4 pos dan 9 camp. Pada umumnya para pendaki akan langsung menuju Camp 7 pada petang hari dan mendirikan tenda di sana, lalu melakukan pendakian di malam harinya. Namun bagi yang rombongan jumlah banyak atau yang ingin sedikit bersantai bisa menuju Camp 4 dan mendirikan tenda di sana. Baru lanjut ke Camp 7 keesokan harinya. Karena speed kami berbeda-beda, maka cara kedua tersebut yang kami pilih. Perjalanan kami diiriingi oleh hujan gerimis, baru saat di Camp 3 gerimis sudah mulai berhenti. Pendakian dilakukan dengan sangat santai. Diisi dengan kepulan asap rokok yang tidak berhenti-henti, karaoke, sampai berfoto dengan boomerang. Pada awalnya saya menyetujui permintaan Arina untuk beriringan dengannya (jauh sebelum hari H), ketika hari mulai gelap rombongan masih bersantai di Camp 3, saya dan Bang Irfan (@dolitirfan) pamit untuk jalan duluan menuju Camp 4. Tentu saja saya tidak mau menyusahkan orang dengan keterbatasan penglihatan saya karena saya rabun ayam. Saya dan Bang Irfan tiba di Camp 4 pukul 17.25 WITA. Hanya ada satu tenda 2-3 orang yang sedang berdiri di sana. Teman-teman rombongan sampai di Camp  4 satu jam kemudian.

Kami mendirikan 4 tenda malam itu. Lahan Camp 4 cukup untuk mendirikan  6 buah tenda ukuran 4-5 orang (Flash tip: Jika ingin masang flysheet bawalah yang ukuran besar, karena letak pohon cukup berjauhan). Suhu Camp 4 menurut saya tidak terlalu dingin, mungkin karena masih banyak pohon. Keesokan harinya setelah makan beralaskan kertas nasi yang berbaris-baris, kami melanjutkan pendakian menuju Camp 7, tepatnya pada pukul 10 pagi.

Sarapan di Camp 4 sebelum berangkat Camp 7

Akibat hujan track yang merupakan tanah merah menjadi licin dan becek. Mulai dari Camp 4 ini track lebih sulit dari sebelumnya. Beberapa spot sengaja diberikan webbing untuk membantu pendaki turun dan naik, untuk vegetasi banyak pohon duri di mana-mana dan jari saya sempat tertusuk hingga menjadi bengkak dan bernanah, pohon-pohon besar juga sering kali melintang di tengah track. Spot yang menjadi favorit saya adalah setelah Camp 6 menuju Camp 7, terdapat hutan lumut dan saat itu suasana sedang kabut, membuat pemandangan jadi sejuk dan mencekam (huehehehe lebay). Rombongan terpisah-pisah menjadi banyak regu saat itu. Saya memutuskan untuk beriringan dengan Arina, tidak lagi bersama Bang Irfan yang pasti sudah tiba di Camp 7 dan mendirikan tenda. Saking betahnya saya dan Arina bahkan sempat sisiran dulu memberi kesempatan untuk rambut kami bernafas, di hutan lumut tersebut (maklum kami menggunakan hijab berhari-hari dan tidak mungkin bisa sisiran di tenda karena isi tenda dicampur laki-laki dan perempuan.

Camp 7

Kami tiba di Camp 7 pada pukul 4 sore dan tenda sudah tegak berdiri. Saya dan Arina menemukan spot menarik untuk memasang hammock. Lalu tinggal bersantai menunggu malam (summit time) tiba dan sambil menunggu anggota rombongan lain yang masih di belakang. Kelebihan dari melakukan pendakian Camp 1-7 dalam dua hari adalah kamu bisa sedikit lebih bersantai dan memiliki jeda waktu banyak untuk beristirahat.

Hammock menghadap ke Gunung Argopuro

Niat untuk berangkat summit pukul 3 menjadi setengah 5. Sama seperti sebelumnya, saya dan Bang Irfan meluncur lebih dulu menuju Camp 9, kali ini juga beserta Bang Mangku yang katanya masih mengantuk dan mau tidur dulu di atas sambil menunggu yang lain. Saya pun demikian hehehe. Di Camp 9 kami memakai webbing dan carbiner yang tentu saja dibantu oleh yang sudah berpengalaman. Kemarin saya tidak memakai safety helm, akan sangat baik bila kamu menggunakannya karena track summit seluruhnya adalah bebatuan dan kerikil.

Baru atu dari sekian tanjakan

Jembatan Sirothol Mustaqim 

Puncak 17

 

Hampir menuju Puncak Tusuk Gigi

Jika biasanya kamu summit ke puncak gunung sambil menikmati sunrise setelah itu kembali turun ke camp saat matahari sudah memasuki waktu dhuha, maka pada Gunung Raung tidak demikian. Summit Raung memakan waktu seharian. Untuk menuju Puncak Sejati pendaki harus terlebih dulu melewat Puncak Bendera, Jembatan Sirotol Mustaqim, Puncak 17, dan Puncak Tusuk Gigi dengan cara rappling yang menuntut para pendaki untuk bergantian satu dengan yang lainnya. Itu lah yang menyebabkan pendakian menuju puncak menjadi cukup lama. Menuju Puncak Tusuk Gigi artinya sudah semakin dekat dengan Puncak Sejati. Lumayan sulit menentukan jalur untuk dipijak kaki karena semua medan adalah batu dan kerikil. Untungnya, pendaki terdahulu meninggalkan jejak dan tanda menuju Sejati, yaitu dengan mengikat tali rafia warna-warni pada edelweis-edelweis kecil di sepanjang track. Pukul 12.30 WITA saya menjadi perempuan pertama di rombongan kami yang menginjakkan kaki di Sejati. Semakin haru saat mengingat perjuangan menuju Sejati itu dilakukan dengan tenggorokan yang kerontang dan kepala pusing karena belum masuk makanan sejak tadi malam. Terus terang, ini penting! Flash tip: Jangan sampai pergi summit Sejati dalam keadaan perut kosong, karena rappling dan sepanjang jalan datar sekalipun membutuhkan konsentrasi dan keseimbangan. Perut lapar bikin badan jadi miring-miring, Kapten. Duh!

Je – Me

Beruntungnya kami, cuaca Puncak Sejati cerah hari itu. Menurut warga sekitar Raung selalu diguyur hujan setiap hari selama beberapa minggu ini, bahkan rombongan orang Malaysia yang baru turun kemarin mengatakan bahwa mereka tidak mendapat kesempatan untuk mencumbu Sejati karena hujan dan badai mengguyur tiada henti. Meskipun cerah tidak berarti segalanya menjadi mudah. Yang menjadi PR dari summit Sejati adalah turunnya, karena track lumayan panjang dan tidak landai, sehingga masih membutuhkan aktivitas tali-temali. Cuaca yang cerah seharian itu ternyata tidak seratus persen baik juga, karena angin kencang berkali-kali meniup ke arah kami yang statusnya berperut kosong. Saya punya firasat buruk tentang ini. Benar saja. Jebir selaku orang yang diamanahkan untuk memasak ingin buru-buru turun ke Camp 7 dan mempersiapkan makanan untuk teman-teman serombongan. Saya pun turut serta dan kami lari menuju Camp 7 tentu saja dengan perut kosong. Bayangkan Puncak Bendera – Camp 7 hanya ditempuh hanya dalam 40 menti, yang seharusnya satu setengah jam. Kepala pusing, mata nggak fokus, perut lapar, kepala pusing, akhirnya kami tiba di Camp 7 dan langsung memasak bahan makanan yang tersisa. YAP, KAMI KEHABISAN LOGISTIK DAN AIR. Maka, kami masak seadanya yang pernting perut teman-teman terisi. Bahkan saya sampai perlu mengemis air ke tenda lain. Satu setengah jam kemudian suara yang kami kenal berteriak-teriak mendekat menuju tenda logisitik.

“Mang Dodoy hipotermia!”

Nah!

 

Segera saya dan Jebir memasak air panas, memasukkannnya ke dalam termos, lalu diantar menuju Puncak Bendera. Alhamdulillah…. tanpa perlu diantar tak lama kemudian Mang Dodoy tiba di Camp 7 bersama teman-teman yang membantunya. Malam itu terjadi evaluasi besar-besaran mengenai air, logistik, dan segala macamnya. Saya yakin selain Mang Dodoy sebenarnya semua pun merasa tidak enak badan dan lelah, karena harus summit seharian dalam keadaan berperut kosong. Namun untungnya semua masih kuat menahan, terlebih para rombongan perempuan. Saya tidak hentinya memperhatikan setiap anggota perempuan di tim ini, khawatir akan ada yang tumbang. April sempat menggigil dan muntah-muntah saat baru turun dari Puncak dan tiba di Camp 7, tapi hal itu wajar karena memang kami semua telat makan dan menurut saya sakit yang dialami oleh April masih terbilang wajar. Saya bersyukur bahwa semua anggota perempuan di rombongan ini sehat dan selamat, seperti Arina, April, Jacklyn, dan Vyna. Kata Ariel NOAH, kalian luar biasa! hehehe.

Mangku – Me – Omenk – Juni – Dodoy – Angga

Gunung Rinjani: Cantiknya Torean dan Bonus Lainnya

Kata orang, Rinjani amatlah cantik. Sayang seribu sayang letaknya begitu jauh dari Jakarta, akan tetapi saya yakin suatu saat nanti saya akan menjejakkan kaki di sana dan melihat langsung keindahannya. Niat aja lah dulu, saya selalu membatin demikian jika ada teman yang memanas-manasi. Hingga sebuah keajaiban terjadi! Sebuah tiket atas nama saya mendarat masuk ke email. Wohooo!

Nggak pernah terpikir akan kembali mengunjungi Lombok untuk kedua kalinya! Pertama kali saya ke Lombok adalah dengan misi keliling gili dan wisata di kota, seperti museum dan pasar seni. Dulu, tahun 2014 saat masih jadi anak pantai, belum terpikir akan berkeinginan mencumbu Rinjani suatu hari nanti. And here I am, kembali menginjakkan kaki di bandara Lombok International Airport – Praya (LOP) pada H+3 lebaran! Yang secara logika isi kantong udah terkuras habis buat pengeluaran ini dan itu.

Kami tiba di bandara malam hari dengan penerbangan terakhir, juga Damri terakhir (Flash tip: Hubungi dulu call center Damri kalau kamu mengambil penerbangan malam hari, khawatir ketinggalan Damri terakhir, jadi bisa ditungguin). Tujuan kami adalah Desa Masbagik, tempat Andre dibesarkan. Rumah keluarga Andre sangat damai, ramah, dan menyenangkan. Rumahnya sederhana namun artsy, musik indie dan reggae juga berputar berkali-kali. Di sebelah rumahnya terdapat bale yang langsung bersisian dengan ladang luas nan hijau. Yang paling menyenangkan adalah keluarga Andre yang super baik dan ramah, penialian saya orang Lombok memang ramah dan royal terhadap tamu. Royal dengan kesederhanaan mereka. Jadi, tidak perlu takut-takut nyasar kalau ke Lombok, warganya baik-baik 🙂

Keesokan harinya kami berangkat dari Masbagik menuju basecamp Sembalun. Gunung Rinjani memiliki banyak pilihan jalur pendakian. Pendakian pada umumnya dimulai dari basecamp Sembalun dan berakhir di jalur Senaru. Jalur Senaru terhitung landai meskipun cukup memakan waktu lama, yaitu hingga 12 jam. Kami memilih untuk mendaki melalui Sembalun dan turun melalui jalur Torean. Alasannya, jalur tersebut memiliki view paling bagus, banyak bonusnya (melalui Goa & Air Terjun), dan banyak mata air, meskipun terbilang memiliki kesulitan paling tinggi dibanding Senaru, di beberapa titik awal harus merayap miring menyusuri bibir jurang.

Kami mendaki tanpa menggunakan jasa porter. Kalau ingin mendaki Rinjani dengan menggunakan jasa porter kamu hanya perlu membayar Rp.250.000/porter dan seluruh bawaan kamu akan dibawain. Bukan hanya itu, kamu juga akan dimasakin dan didirikan tenda. Bener-bener terima beres deh! Bila ingin menggunakan jasa porter kamu bisa bertanya saat registrasi di basecamp Sembalun atau bisa juga hubungi Naya (waktu di Rinjani sempat kenalan sama seorang porter dan kami bertukar kontak).

Sembalun kala Senja

Pendakian melalui jalur Sembalun membutuhkan waktu kurang lebih 9 jam sampai ke Pelawangan. Mendakilah pada pagi hari, jangan mencontoh kami yang kebangetan santai dan baru berangkat pada sore hari. Apalagi sampai terlena pada sunset di Sembalun, jadilah dikit-dikit berhenti untuk foto. Taman Nasional Gunung Rinjani memiliki kemiringan lahan bervariasi, dari mulai datar, bergelombang, berbukit, hingga bergunung-gunung. Oleh sebab itu, jalur pendakian Rinjani pada umumnya panjang, terlebih lagi Sembalun. Flash tip: Kalau mendaki pada siang hari, jangan lupa bawa payung/topi dan gunakan sunblock. FYI, itu salah satu alasan mengapa kami memilih berangkat pada sore hari.

Di Tengah Bukit Penyesalan

Pos 1 – Pos 2 – Pos 3 – Bukit Penyesalan – Pelawangan. Seharusnya demikianlah urutan pendakian melalui jalur Sembalun. Niat hati kami ingin sekali menghajar pendakian langsung hingga Pelawangan dan baru mendirikan tenda setibanya di sana. Namun, kaki salah satu dari kami kram dan sulit digerakkan, sehingga kami terpaksa untuk menghentikan pendakian dan menunda perjalanan untuk lanjut esok hari. Kami tiba di Pos 3 pukul sembilan malam. Banyak tenda yang berdiri di dekat sumber air. Sedangkan kami memilih untuk menaiki bukit dan menenda di atas. Sendirian, syahdu~. Flash tip: kamu bisa ambil air di Pos 2 atau Pos 3.

Nggak nyesel sempat bermalam di kaki Bukit Penyesalan. Sunrise-nya di pagi hari bikin meleleh dan nggak mau pulang. Wait, ada yang tahu kenapa dinamakan 7 Bukit Penyesalan?

Mari melanjutkan perjalanan menuju Pelawangan Sembalun. Kami berangkat pada pukul 09.00 pagi. Di sepanjang jalan sudah banyak pendaki yang melanjutkan perjalanan menuju Pelawangan, beberapa di antaranya adalah orang bule. Gunung Rinjani mungkin adalah gunung yang paling ramai oleh pendaki berkebangsaan asing. Ada beragam bule yang saya temui selama di pendakian, berasal dari Kanada, Belgia, Belanda, Swiss, Jerman, Prancis, Denmark, Australia, dan bahkan UK. Alasan mereka mengunjungi Rinjani adalah karena Indonesia terkenal dengan pegunungannya dan Rinjani memiliki banyak bonus, seperti pemandian air panas, danau penuh dengan ikan, air terjun, dan goa. Pastinya adalah karena Rinjani berada dekat dengan Gili Trawangan, salah satu pulau kecil di sehingga yang sangat dikenal warga asing, mereka bisa mendapatkan pantai dan gunung dalam satu wilayah destinasi bernama Lombok.

Kami tiba di Pelawangan Sembalun pada pukul 12.20 WIB dan mendirikan tenda di sebelah ujung dekat dengan sumber air (nggak dekat-dekat amat juga sih, butuh berjalan kira-kira 15 menit menuju sumber air). View sunset di sini masyaallah bagusnya, terlihat Danau Segara Anak yang membentang luas, seperti lautan karena di mana ujungnnya tidak terlihat. Flash tip: Jangan meninggalkan bahan atau bekas makanan di luar tenda. Ada banyak monyet yang akan berkeliaran di sini. Boro-boro mau ngumpetin bahan makanan.

SEMANGKA KAMI GELINDING T_T

KOL NYA JUGA IKUTAN GELINDING T_T

 

Siap-siap summit malam harinya. Kami berangkat pukul 02.00 pagi (ini kesiangan, yang lain sudah berangkat pukul 12.00 malam). Dan titik-titik cahaya terlihat berbaris di kejauhan, alias macet. Biasanya saat ingin summit, saya minum susu dulu untuk mengisi perut yang kosong. Namun ini malah ikut-ikutan makan Spaghetti Tuna. Memang dasar nggak bisa mengonsumsi makanan kalengan, baru berapa meter summit perut saya mual nggak karuan. Saya muntah-muntah di sisi jalur pendakian, kadang menunggu jalur sepi dulu karena nggak enak sama pendaki lain, takutnya malah jadi ikutan mual karena melihat saya muntah. Lucunya, bau amis tuna kalengan tersebut menguar begitu kuat saat saya mual itu. Padahal sebelumnya pas makan nggak terlalu kecium, mungkin karena lapar 😦 Flash tip: Jangan konsumsi makanan yang nggak biasa kamu makan menjelang summit!

Andre dan Ivan saya pinta untuk duluan, khawatir Ivan mau mengejar sunrise untuk koleksi fotonya, sedangkan saya akan jalan belakangan ditemani Bayu. Kami berpisah di puncak Pelawangan. Untungnya, setelah muntah saya merasa agak baikan. Setelah saya baikan, malah gantian Bayu yang mual. Oh ya, satu lagi hobi saya dan Bayu kalau summit, yaitu suka tidur di jalur. Ingat pendakian saya dan Bayu sebelumnya di Semeru?  (Pendakian Gunung Semeru http://www.nayadini.com/2016/05/gunung-semeru-komplek-di-atap-jawa.html) Kami tidur pulas sampai matahari muncul ha..ha… Kami berdua nggak pernah ngoyo buat sampai puncak. Tidak pernah memaksakan diri apalagi jika kondisi tidak fit seperti ini. Yang penting, kami akan terus berjuang untuk tiba di puncak, bagaimanapun dan berapa lamapun. Jangan pernah menyerah! Bersama kita bisa! Dua anak lebih baik. #eh

ALHAMDULILLAHIROBBIL ALAMIN, SUMMIT!

 

Di Gunung Rinjani terdapat banyak sekali pendaki berkebangsaan asing

 

Andre bilang, sekarang puncak Rinjani memiliki kontur yang sudah sedikit berbeda. Dulu, track pasirnya panjang hingga puncak Pelawangan. Sekarang hanya sampai diujung tanjakan tearkhir menuju puncak.. Apapun itu, bagi saya Rinjani memiliki jalur pendakian dan jalur summit terpanjang dibanding gunung-gunung sebelumnya yang pernah saya datangi. Baru kali ini saya mendaki dan jempol kaki saya lecet-lecet. Kamu hebat kaki! Kamu hebat! Flash tip: Bawa sunblock kemanapun bahkan pas summit. Gunakan secara berkala dan sesering mungkin. Rinjani adalah gunung terbikin-gosong, pasca summit saya dan teman-teman saling ejek muka satu sama lain yang jadi gosong bin dekil nggak karuan. Saya juga dapat bonus jerawat di mana-mana ha…ha…

Saatnya menuju Segara Anak!!! *drumroll* (lagi-lagi kebangetan santai, baru jalan pukul 04.00 sore).

Difoto menggunakan OPPO F1 plus Smartphone

Bonus view di mana-mana

Butuh waktu 4 jam untuk tiba di Segara Anak. View yang kami lalui di sepanjang jalan bikin betah. Jalan dikit, cekrek.

Beberapa kembang api heboh mewarnai langit malam menyambut kedatangan kami, persis seperti sedang berada di pasar malam. Bukan, kembang apinya dipasang bukan buat menyambut kami, pas aja kebeneran kami datang waktu kembang api itu dinyalakan oleh seorang (atau serombongan) pendaki entah siapa he..he… Segara Anak penuh tenda. Untungnya, kami bertemu rombongan abang-abang yang nenda dekat kami saat di Pelawangan, jadilah kami diberi lahan untuk mendirikan tenda bersebelahan, meski tidak dekat dengan bibir danau. Berhubung sudah malam dan di mana-mana penuh tenda.

“Untuk sementara kita nenda di sini dulu ya. Besok kita pindah ke pinggir danau dan cari pohon buat masang hammock.” kalimat Andre tersebut serempak kami iyakan. Ay, ay, captain!

Bayu – Andre – Naya (me) – Ivan

 

Pinggir danau yang dimaksud Andre bukanlah bibir danau alias batas dilarang mendirikan tenda, melainkan sebuah dataran tinggi di atas danau. Harus berputar dulu kalau mau sampai ke danau di bawah itu, apalagi buat mancing. Ini view terbaik untuk pasang tenda dan hammock. Di hadapan kami terhampar megah Segara Anak dan cantiknya Gunung Baru Jari. Oh ya, pemandian air panas Aik Kayak dan mata air hanya terletak 15 menit dari situ. Ah, berlama-lama di Rinjani pun aku mau. Semua ada lengkap ada di sini. Satu lagi, bisa makan enak. Ikan-ikan Segara Anak hasil mancing dan dikasih orang diolah Andre dengan sangat enak. Kalau kami bawa chef, untuk apa sewa porter kan huehehehe.

Danau Segara Anak. (in frame: Ivan)

Masya Allah pemandangan dari depan tenda kami. Nb: tidak untuk dicontoh, abis makan nasi bungkus langsung tidur hahaha

Naya, dikit-dikit mau berendem air panas. Konon katanya, banyak orang yang datang ke Rinjani khusus untuk berendam di air panas tersebut dalam rangka berikhtiar menyembuhkan penyakit. Wallahualam bisshowab, sakit nggak sakit saya aja senang berendam di sana, dari mulai mandi keramasan, cuma sikat gigi, atau bahkan sekadar bengong di dalam kolam. Iya benar, pemandian air panas itu adalah tempat di mana beberapa waktu lalu meninggalnya seorang pendaki yang tenggelam karena memang pemandian air panasnya cukup dalam. Air terjunnya juga lumayan tinggi, mungkin sekitar 3 meter. Beberapa pendaki melompat dari atas air terjun ke kolam pemandian, dengan catatan, pastikan kamu bisa berenang dan tidak melakukannya sendirian tanpa pengawasan orang lain ya.

Gara-gara keasikan mandi air panas jadi lupa pulang. Kami baru jalan pukul satu siang (lagi-lagi kebangetan santai). Kami berpisah dengan rombongan abang-abang asli Lombok yang sudah dua hari ini menghabiskan waktu bersama (ciye), karena mereka akan pulang lewat jalur Sembalun lagi. Sedangkan kami akan menyusuri jalur Torean yang merupakan jalur pertama pendakian gunung Rinjani.

 

Berendam samba menatap alam yang indah nan megah. Terharu….

Sepanjang jalan sebelum memasuki hutan pemandangan yang akan kamu temui adalah keindahan yang tidak ada habis-habisnya. Kamu akan melewati Goa Susu dan Goa Manik, bahkan kami sempat masuk ke Goa Manik yang ukurannya sangat kecil.

Goa Manik

Sama seperti view pendakian jalur Pogalan, Gunung Merbabu (baca di sini http://www.nayadini.com/2016/06/buka-jalur-baru-gunung-merbabu.html ), jalur Torean, Gunung Rinjani ini membuat saya tidak henti-hentinya bertasbih. Saya dan sepertinya semua anggota tim kami jatuh cinta pada jalur Torean. Sampai-sampai kami membuat jingle dan nyanyi di sepanjang perjalanan,”Torean… Tooooorean…. Torean anak yang manis~”. Kamu pasti tahu lirik itu plesetan dari lagu apa.

Jalur Torean banyak air terjun

Selepas view megah yang disuguhkan Torean, kita akan memasuki jalur hutan yang panjang. Kurang-lebih jalurnya mirip Gunung Ciremai. Hanya ada beberapa tanjakan curam di penghabisan track pinggir jurang, sisanya jalur landai dan memanjang menyusuri hutan. Beberapa ayam hutan berkokok gagah mengisi kekosongan.

 

Jalur Torean berada di sisi pantai. Sekeluarnya dari hutan yang akan kamu temui adalah ladang jagung dan kebun cokelat & kopi. Andre meminta ijin pada warga (dengan bahasa Lombok) untuk memetik buah cokelat agar kami bisa mencicipnya. Hmm… rasanya mirip buah sirsak!

Nggak nyangka, kami berada di Rinjani 5 hari 4 malam lamanya. Itu pun masih terbilang belum puas. Suatu hari nanti harus balik lagi dan mencicip jalur lain, Senaru contohnya. I’ll be back, Dewi Anjani. Kau sungguh cantik sekali 🙂

Bersama teman-teman tenda sebelah yang bersedia berada dalam satu flysheet dengan kami di Segara Anak

 

nb: Foto dan video lebih lengkap mengenai perjalanan ini dapat kamu lihat di Steller-ku, id: nayadini

Budget (belum PP):

Alternatif 1 (jika kamu ingin mampir dan bermalam di sekitaran Lombok)

Tiket pesawat Jakarta – Lombok : 600.000/orang

Tiket pesawat Lombok – Jakarta :  800.000/orang

Damri Bandara LOP – Mataram/Senggigi/Selo : 25.000 – 35.000/orang

Transport Masbagik – basecamp Sembalun : 25.000/orang

Simaksi : 10.000/malam

 

Alternatif 2

Tiket pesawat Jakarta – Lombok : 600.000/orang

Tiket pesawat Lombok – Jakarta :  800.000/orang

Transport Bandara LOP – basecamp Sembalun : 500.000/mobil

Simaksi : 10.000/malam

Saya tidak pernah ikut open trip, jadi ini adalah catatan perjalanan lepas alias backpacking. Jika anggota timmu memiliki pengalaman cukup tentang mountaineering dan ingin backpacking menuju Rinjani, boleh tanya saya untuk kontak transport antar-jemput keliling Lombok dan/atau porter melalui email nayadini@icloud.com. Jika tidak, saya sarankan untuk ikut open trip pendakian. Open trip pendakian Rinjani ada banyak, apalagi di tengah tahun menjelang 17 Agustus-an seperti ini. Biasanya dikenakan biaya sebesar Rp. 1.400.000.

Selamat mencumbu Anjani!

 

Salam,

Nayadini.

 

 

 

 

 

 

 

Gunung Kerinci: Perjuangan Menggapai Atap Sumatra

Biasanya, kamu naik gunung diajak atau ngajak?

Kalau dipikir-pikir, saya naik gunung selalu karena diajak. Banyak alasannya. Pertama, kalau ngajak duluan terus tau-tau nyusahin pas nanjak kan nggak enak :’). Kedua, bingung juga mau ngajak siapa karena biasanya pada susah diajak jalan terbentur jadwal cuti, kecuali ada teman yang memang sudah lama minta diajak naik gunung. Kalau bukan karena diajak mungkin saya nggak akan pernah menginjakkan kaki di gunung tertinggi Pulau Sumatra, Kerinci. Thank you Andre and Bayu! Ah, dan satu perempuan lagi kenalan baru saya yang tangguh dan menyenangkan, Jacklyn.

Gunung Kerinci terletak di Provinsi Jambi, untuk mencapainya dari pulau selain Sumatra terdapat dua pilihan rute perjalanan, via Bengkulu atau Padang. Jika via Bengkulu bisa naik pesawat menuju Bengkulu Bandar Udara Fatmawati Soekarno (BKS), kemudian melanjutkan perjalanan ke Kerinci menggunakan travel melalui kabupaten Mukomuko menuju Kota Sungai Penuh atau Kerinci selama 10-11 jam. Jika via Padang mendarat di Bandar Udara Internasional Minangkabau, kota Padang (PDG), dan menyambung travel ke Jambi lebih kurang 7-8 Jam jalur darat. Rute terakhir lebih menghemat waktu, maka pilihan itu yang kami pilih.

Flash tips: Di saat long weekend berangkat lah 4 jam lebih awal dari biasanya atau kamu berpotensi ketinggalan pesawat karena akses menuju bandara MACET TOTAL.

Pilihlah penerbangan di sore hari, sehingga kamu bisa tiba di Padang pada malam hari dan naik travel semalaman, lalu tiba di Jambi pagi harinya (untuk info kontak travel Padang-Jambi bisa hubungi saya). Kamu bisa minta dijemput oleh travel tepat di depan bandara. Pemandangan Padang sangatlah indah, tapi jangan harap kamu dapat bersantai-santai selama di perjalanan (yang pernah naik Angkutan Lintas Sumatra pasti tau he..he…). Lelah dan mual akibat perjalananmu akan terbayar setelah kamu tiba di Jambi dan melihat indahnya hamparan kebun teh yang maha luas di kaki gunung Kerinci.

Disambut senja Sumatra

 

Suasana basecamp lumayan ramai saat itu, ada beberapa rombongan pendaki dari Padang dan Bengkulu. Beberapa akamsi (anak kampung situ) merupakan ranger yang biasa bolak-balik Kerinci menjadi guide rombongan pendaki. They are all nice dan berbicara bahasa jawa, bukan bahasa minang! Mereka sangat ramah dan menyenangkan. Letak basecamp lumayan dekat dari si fenomenal tugu macan, tetapi lumayan jauh ke pintu rimba (jalur desa Kersik Tuo, jalur termudah Kerinci), kira-kira sejauh 2 km. Kamu bisa berjalan kaki atau minta diantar oleh orang basecamp.

Andre – Bayu – Jacklyn – Me (cewek culun style mode on)

Melalui rute via desa Kersik Tuo rute pendakian Gunung Kerinci pos 1 – pos 2 – pos 3 – shelter 1 – shelter 2 – shelter 3. Durasi pendakian hingga shelter 2 memakan waktu 8 jam. Alhamdulillah kami tiba di shelter tersebut sesuai predisi dan ekspektasi.

 

Shelter 1

 

 

Rombongan yang nenda di sana waktu itu adalah orang asing dengan kewarganegaraan beragam

LANJOOOOT!

Menuju shelter 2,  tingkat kesulitan mulai menggemaskan

Shelter 2 finally! Celana kami menggambarkan betapa gundukan tanah pasca hujan yang curam tak bisa dihindari

 

Kamu bisa memilih untuk nenda di shelter 1, 2 atau 3. Namun saya dan tim sepakat untuk bermalam di shelter 3 dengan alasan masih sanggup, meskipun rombongan lain memutuskan untuk membangun tenda di shelter 2. Gunung Kerinci terkenal dengan kesulitan trek pendakiannya, foto-foto testimoni yang sering kamu jumpai di media sosial khususnya Instagram adalah trek dari shelter 2 menuju shelter 3. Trek tersebut merupakan medan tersulit yang dimiliki Kerinci. Lumayan memacu adrenalin, menguji kekompakan, dan ketahanan tubuh ketika kami melewatinya dalam keadaan gelap gulita ditambah gerimis, sehingga tanah lumayan licin. Akar pohon yang besar-besar melintang di sana-sini menambah nikmatnya trek yang sudah sulit. Sedap! :’D

 

OTW Shelter 3, jalur paling fenomenal

Kondisi medan pasca hujan sebagai sebuah sambutan manis until muka ketemu lutut

 

Kami tiba di shelter 3 sudah gelap sekali, sehingga tidak punya foto pemandangan tenda di lokasi untuk dipasang.

Enaknya nenda di shelter 3 adalah kamu menghemat waktu dan tenaga ketika summit. Orang-orang jalan sekitar jam 2 malam, sedangkan kami baru jalan pukul 5 (harusnya jam 4, cuma kami pada malas-malasan, maklum kecapean huhuhu).

Setelah berjalan sekitar 90 menit kita akan bertemu lahan dataran luas yang disebut Tugu Yuda. Tempat ini diberi nama Tugu Yuda karena dahulu kala ada pendaki bernama Yuda yang hilang di sini, setelah turun dari puncak.

Sesuai info yang saya kutip dari ilmugeografi.com, Gunung Kerinci merupakan gunung tertingi  di pulau Sumatra, tepatnya di provinsi Jambi. Gunung Kerinci termasuk ke dalam bagian Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) dan merupakan jajaran dari bukit barisan dengan koordinat letak 1°41’48”LU dan 101°15’56”BT dan termasuk dalam golongan gunung berapi yang masih aktif. Oleh karena itu, puncak harus steril pukul 9 pagi. Kondisinya sama seperti Mahameru yang harus steril pada pukul 10, bila teman-teman pernah ke Gunung Semeru.

 

 

Sunset pertamaku di Jambi

 

08.00 WIB Alhamdulillah…. puncaaaaak! Disuruh pura-pura ketawa malah jadi ketawa beneran

 

We did it!

 

Dari atas puncak kita bisa melihat pemandangan Jambi yang berbatasan dengan Bengkulu dan Padang. Ada juga bayang Danau Gunung Tujuh, kalau kamu ke Kerinci sempatkan juga ke siri ya. Dan jangan lupa Danau Kaco juga. Indah mirip Labuan Cermin!

 

 

Barengan menuju puncak. Yes yang di tengah itu dedek Khansa (10 th) dan dia sudah mendaki banyak gunung Indonesia. Masya Allah….

 

*zoom in* Khansa 7 Summiters

 

Nenda semalam lagi di shelter 1 karena kami mendapat pesan dari orang basecamp jangan turun lewat dari magrib. Cuma kami yang dipesenin begitu, entahlah. Kami nurut aja.

Shelter 1

 

Tenda satu-satunya

 

Tidak terbayangkan haru dan bahagianya bisa menginjakkan kaki di titik tertinggi Sumatra. Semua tentu saja berkat ridho Tuhan semata, juga kerja sama antar anggota tim. Terima kasih Andre, Bayu, dan Je!

Nggak lama kami turun, Kerinci mengalami Erupsi yang menyebabkan pendakian di tutup. Betapa Allah begitu baik kepada kami, sebab kemarin Indrapura maish baik-baik saja.

 

 

Kebun teh Kayu Aro adalah yang terluas di dunia (fokus ke erupsi di belakang)

 

Bagi saya, mendaki gunung memiliki hikmah tersendiri dan melalui itu saya berharap dapat menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Banyak teman dan keluarga terheran-heran saat saya hendak mendaki gunung, apalagi sampai ke bagian barat Sumatra, “Liburan kok capek-capek?”. Setelah diledek seperti itu biasanya saya hanya tertawa. Kalau dipikir-pikir ya benar juga, naik gunung capek. Apalagi ke Kerinci, capek di jalan. Tapi hikmah dari perjuangan saya ke Kerinci ini telah menjadi hal yang tak akan pernah saya lupakan seumur hidup. Menjadi titik balik di usia muda saya, bagaimana saya mampu mengalahkan kekhawatiran atas kemampuan diri sendiri. Orang yang ngajak aja yakin saya mampu, masa saya enggak?

Mungkin saja bagi sebagian orang yang sudah menyambangi banyak gunung, mendaki Kerinci bukan lah apa-apa. Namun bagi saya yang pemula dan masih awam, pendakian kali ini amat berharga. Alhamdulillah, saya mulai berhenti merendahkan diri sendiri dan bersyukur atas karunia apapun yang Tuhan berikan. Berbanggalah atas dirimu sendiri. Kalau bukan kamu yang mengapresiasi diri sendiri, siapa lagi? 😉

 

Kembali ke Jakarta dengan oleh-oleh pesanan mama dan sogokan buat orang kantor yang ditinggal cuti ha…ha

Budget (belum PP):

Tiket pesawat Jakarta – Padang (promo): 500.000/orang

Travel Bandara Minangkabau – Kersik Tuo, Jambi: 70.000/orang
Transport basecamp – pintu rimba via Kersik Tuo, Jambi: 15.000/orang
Simaksi: 7.500/hari

Gunung Semeru: Komplek di Atap Jawa

Mendaki gunung saat ini tidak hanya menjadi hobi bagi saya, tetapi seperti napas yang saya butuhkan dan tak bisa ditunda. Kali ini giliran Semeru. Gunung tertinggi tanah Jawa. Tidak harus tinggi sebenarnya, udara segar bisa saya peroleh di mana saja selain di gunung. Namun pendakian kali ini memang pada awalnya diinisiasi seorang kenalan yang ending-nya malah dia sendiri yang membatalkan janji sementara tiket sudah kadung dibeli.

Pendakian di awal bukanya kembali Semeru (pendakian Semeru ditutup untuk beberapa lama dan baru dibuka per 1 Mei 2016), plus beriringan dengan long weekend yang benar-benar long. Dulu sekali saya sama sekali tidak tertarik mendaki Semeru, karena konon semenjak tersohor berkat film layar lebar beberapa waktu lalu gunung ini makin ramai dan kotor. Semangat untuk menapaki Mahameru itu sebenarnya makin surut kalau saja tidak disemangati oleh teman saya yang memang sudah lama mendamba Ranu Kumbolo. Namun pada akhirnya, saya justru malah bersyukur pada ketidaksengajaan itu. Semeru masuk ke dalam daftar gunung favorit seorang Naya. Everything happens for a reason, right? Flash tip: Mengunjungi Semeru lebih mudah dengan kereta daripada pesawat, karena letak bandara sangat jauh menuju basecamp.

Kami berangkat dari Stasiun Pasar Senen pada sore hari dengan kereta ekonomi Majapahit, lalu tiba di Stasiun Malang keesokan harinya pada pukul 11.00 siang. Letak basecamp dari stasiun cukup jauh dan harus menyambung angkutan berkali-kali, sehingga akan lebih mudah jika menyewa angkutan untuk sampai ke sana. Namun karena jumlah kami hanya berempat beberapa waktu sebelumnya Bayu mencari barengan melalui internet untuk sharing cost dari stasiun menuju basecamp Tumpang. Bertemulah kami dengan rombongan pendaki asal Semarang yang cowok semua berjumlah 8 orang. Kemudian sepanjang jalan terisi gelak tawa dengan jokes yang jawa banget. Flash tip: Gunakan hashtag #caribarengan di Instagram atau bisa di grup-grup pendakian di Facebook.

Windari – Alek – Bayu – Naya – Mas Wafa (satu dari sekian rombongan asas Semarang)

Butuh waktu kurang dari satu jam untuk bisa tiba di basecamp Tumpang. Ada yang berbeda di pendakian Gunung Semeru sekarang, registrasi pendakian dilakukan di Tumpang, bukan lagi di Ranupani. Hal tersebut mungkin diberlakukan untuk membuat prosedur registrasi yang kian ramai tetap kondusif. Flash tip: Bawa fotokopi identitas dan surat keterangan sehat dari dokter, jangan lupa dikopi 3 rangkap.

Basecamp Tumpang berbentuk barisan ruko. Selain ruko pendaftaran registrasi ada juga warung dan tempat penyewaan peralatan mendaki. Harganya bahkan lebih murah dari jasa penyewaan yang biasa saya gunakan di Jakarta. Kalau ada barang bawaan yang lupa kamu bawa, kamu bisa menyewa di sana. Dari mulai tenda, sleeping bag, matras, kompor & nesting, hingga sepatu gunung. Namun ini untuk urgent saja, kalau-kalau ada bawaanmu yang tertinggal di rumah. Sebaiknya tetap persiapkan seluruh barang bawaan dari rumah dengan matang. Takutnya stok item di penyewaan sedang kosong (untuk kontak untuk penyewaan mountaineering di basecamp Tumpang bisa tanya melalui Naya).

Prosedur registrasi pendakian Gunung Semeru ternyata semakin repot saat ini. Di basecamp Ranu Pani pendaki harus ikut briefing pendakian dari Taman Nasional kurang lebih setengah jam, di saat anggota tim berada di aula mengikuti briefing pendakian, ketua tim harus melaporkan butki pelaporan di basecamp Tumpang di tempat berbeda. Mengikuti briefing adalah wajib hukumnya. Briefing tidak dilaksanakan 24 jam, briefing kloter terakhir adalah pukul 05.00 sore. Pendaki yang ketinggalan briefing terakhir tidak boleh berangkat mendaki dan harus menunggu sampai keesokan harinya. Ketatnya prosesur pendakian Gunung Semeru ini diberlakukan karena jumlah pendaki Semeru semakin banyak dan jumlah korban hilang juga semakin banyak. Petugas dari TNBTS menjelaskan dengan detail korban-korban yang hilang dan selamat dari pendakian Gunung Semeru. Pada umunya mereka hilang di kawasan Blank 75, setelah summit puncak Mahameru.

Karena ketua tim kami sudah pernah mendaki Semeru sebelumnya, maka kami memutuskan untuk berangkat mendaki malam itu juga, atas ijin dari petugas TNBTS tentunya. Bismillah…..

Kami tiba di Ranu Kumbolo pukul 11.00 malam. Cuaca lumayan dingin sekalipun di sana ramai pendaki dan tenda sangat padat dan rapat. Ramainya Ranu Kumbolo hari itu baru terlihat saat pagi harinya. Kuota pengunjung Gunung Semeru hanya 500 orang per hari, tapi dengar-dengar dari porter jumlah pendaki Gunung Semeru pada libur panjang itu mencapai 3.000 orang banyaknya. Jika dilihat dari penuhnya Ranu Kumbolo saat itu saya sangat percaya kalau jumlah pendaki hari itu mencapai angka ribuan.

Ramainya Ranu Kumbolo

 

Film 5 cm yang tayang pada tahun 2013 lalu di bioskop benar-benar memberikan dampak yang dahsyat akan ramainya pendakian Gunung Semeru. Para pendahulu mungkin akan bersedih melihat Semeru yang sekarang, bahwa Ranu Kumbolo tak lagi suci, meskipun tidak ada lagi pendaki yang boleh berenang atas larangan pihak TNBTS. Di Danau Ranu Kumbolo banyak buih-buih sabun bekas mencuci muka, sikat gigi, atau bahkan mencuci peralatan masak dan makan. Seharusnya, aktifitas seperti itu dilakukan beberapa meter dari bibir danau, sehingga kotorannya tidak terbawa ke danau. Pendaki juga kerap kali melanggar batas larangan mendirikan tenda di tepi danau. Hal ini sangat tidak baik karena aktifitas pendaki akan berkontribusi terhadap kotornya danau.

Perumahan Semeru Indah :’)

 

Hal lain yang menyedihkan dari pendakian Gunung Semeru saat ini adalah banyaknya kotoran manusia di sepanjang jalur pendakian. Sebenarnya pihak TNBTS telah menyediakan toilet umum di dua sisi Ranu Kumbolo. Bentuknya adalah bilik-bilik berpintu dengan lubang di tengah bawah, tanpa WC dan air. Para pendaki yang ingin buang air harus membawa air di dalam botol. Namun, bukan hanya kotoran yang di buang ke lubang, tetapi botol-botol bekas air juga diikutsertakan. Sehingga lubang toilet menjadi kepenuhan dan isinya jadi…. huek! Saya saja nggak mau buang air di toilet tersebut, karena jorok dan bau minta ampun. Namun jika kamu tidak mau buang air di toilet umum tersebut seperti saya, hendaklah mencari lokasi yang aman dan jauh dari jalur pendakian. Pihak TNBTS juga telah mengajarkan tata cara untuk buang air (besar), ialah dengan menggali lubang. Dengan catatan jika kamu belum kebelet dan masih mampu membuat lubang. Buang air di jalur pendakian adalah cara yang sangat tidak pintar, tentu saja hal tersebut sangat merugikan pendaki yang akan lewat. Padahal, pihak TNBTS sudah mengimbau di saat briefing mengenai etika dan tata cara pendakian Gunung Semeru.

bersama Kakak Marcel. Lah bisa reunian di sini. Terakhir ketemu di konser Barasuara :’)

 

Pos selanjutnya yang kami tuju adalah Cemoro Kandang. Setelah melewati Tanjakan Cinta pendaki akan melalui Oro-oro Ombo, yaitu padang luas yang dipenuhi bunga berwarna ungu, Verbena Brasiliensis Vel. Tidak secantik penampakannya, bunga ini ternyata adalah tumbuhan parasit asal Amerika Selatan yang mengancam ekologis di sekitarnya dan menyerap banyak air, bahkan sempat menutupi permukaan air Ranu Pani. Banyak yang mengira bunga tersebut adalah lavender, sehingga beberapa waktu lalu bunga ini menjadi topik yang sangat ramai diperbincangkan di media sosial Intagram, karena muncul foto-foto pendaki yang memetik bunga ini dan dianggap merusak ekosistem dan tidak mencintai alam. Padahal, saat briefing pendaki sangat dipoerbolehkan untuk memetik bunga tersebut dan membawa pulang, dengan catatan tidak tercecer sembarangan karena VBV sangat mudah tumbuh dan mereproduksi diri secara seksual dengan memproduksi benih.

Saat saya ke Semeru, Oro-oro Ombo senang mekar-mekarnya

 

Jarak tempuh dari Ranu Kumbolo ke Pos Cemoro Kandang adalah 1,5 jam. Di pos ini kami beristirahat cukup lama sambil memandangi indahnya Oro-oro Ombo dan menikmati gorengan. Wait, gorengan? YES! Di pos ini ada warung yang menjual minum dan penganan seperti gorengan dan irisan buah semangka. Bahkan di Ranu Kumbolo ada ibu-ibu yang jual nasi bungkus keliling hihihi.


Tiga jam dari Cemoro Kandang kamu akan tiba di Pos berikutnya, yaitu Jambangan.

Artinya, Kalimati sudah dekat. Yeay! Kalimati tidak seramai Ranu Kumbolo, karena banyak pendaki yang datang hanya untuk menghabiskan waktu di Ranu Kumbolo. Tekstur tanah Kalimati adalahberpasir, karena sudah semakin dekat dengan puncak Mahameru yang teksturnya berpasir dan berbatu. Flash tip: Untuk mengambil air, kamu bisa ke Sumber Mani. Jaraknya tidak dekat, butuh satu jam bolak-balik ke sana. Karena berjalan menuju Sumber Mani lumayan menguras tenaga, banyak warga yang akhirnya berjualan air di Kalimati, dengan botol bekas air mineral berukuran 1,5 liter yang dihargai Rp.10.000-15.000 per botolnya. Semua bisa jadi uang di negara kita tercinta ini 😀

 

Bersantai di Kalimati

 

EITS ADA SIAPA TUCH!?

 

*zoom in*

 

Pendaki pink! Bentar lagi pasti jadi artis dan mask tivi hmmm

 

SUMMIT ATTACK!!!! Banyak pendaki yang sudah berangkat menuju puncak dari Kalimati pada pukul 11 malam. Kami saja baru tidur pada pukul 09.00 WIB. Oleh karena itu, kami baru berangkat pada pukul 2 malam, untuk menghindari kemacetan di jalur pendakian. Dibutuhkan waktu 5 jam untuk bisa tiba di puncak Mahameru. Sambil menunggu Windari dan Alek yang masih tertinggal di belakang, saya dan Bayu tidur di sisi jalur pendakian. Ngantuk beraaaat! Tidak terasa sampai fajar mulai menyingsing. Indahnya…..

Menuju Mahameru

Semeru merupakan gunung yang masih sangat aktif dan setiap 20 menit sekali mengeluarkan abu vulkanik dan pasir. Momen ini lah yang sangat ditunggu-tunggu oleh para pendaki di puncak, yaitu untuk berfoto dengan ledakan abu vulkanik tersebut. Saya nggak punya fotonya karena nggak banyak foto-foto di atas puncak. Saat briefing pendaki diimbau untuk tidak berada di puncak lebih dari jam sepuluh pagi, karena material yang dikeluarkan oleh Semeru akan membahayakan untuk manusia.

Bangun tidur kuterus summit

Sejauh ini, jalur puncak Semeru adalah yang paling saya sukai, karena teksturnya sangat tebal akan pasir meskipun berbatu. Tekstur tersebut sangat mempermudah untuk turun dengan cara moonwalk, jalan santai yang saking santainya bisa dengan tanpa melihat pijakan lagi. Banyak pendaki yang berlarian menuruni trek, hal tersebut bagi saya sangat mengganggu dan membahayakan pendaki di belakangnya karena akan menningglakan kepulan debu yang bisa masuk ke mata.

salam WG

Setibanya di Kalimati kami lebih dulu tidur siang sebelum kembali bermalam di Ranu Kumbolo. Nenda di Ranu Kumbolo nggak cukup sekali pokoknya.

Ranu Kumbolo

 

Ranu Kumbolo benar-benar seindah yang diceritakan para pendulu, mencipta syahdu dan meninggalkan bekas dalam hati para pendaki, Tanjakan Cinta dengan mitosnya yang masih dipercaya banyak orang, Oro-oro Ombo dengan Verbena ungu yang sedang cantik-cantiknya beraksi sebagai parasit, lalu Mahameru yang gagah dan indah jadi satu. Pendakian kali ini berjalan serapi yang diharapkan. Agenda berjalan sesuai dengan itinerary yang telah disusun, durasi pendakian yang sesuai dengan ekspektasi, logistik yang cukup, dan puncak yang sempat dicicipi. Aku akan kembali, wahai sang Mahameru yang gagah!

 

 

Salam,

Indie traveler

Situ Gunung, Ranu Kumbolo Jawa Barat

Beberapa waktu lalu saya pun pernah merasakan hal yang demikian. Jadwal ngetrip udah ada, tapi kelamaan ternyata masih dua minggu lagi. Sedangkan otak udah butuh di-refresh.

Disebabkan banyaknya pertanyaan mengenai destinasi satu ini dan bernasib sama (nggak bisa cuti dan atau nggak punya budget), maka saya putuskan untuk membahas secara detail.

Eng…ing…eng….

Ini dia wisata baru yang dekat, murah, dan meriah (karena bisa piknik cantik maksudnya)!

Kawasan wisata Situ Gunung jawabannya. Terletak di Kecamatan Kadudampit, Kamodabupaten Sukabumi, dan masih merupakan bagian dari Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango. Sangat mudah untuk menjangkau tempat ini. Juga banyak pilihan wisatanya di satu kawasan tersebut. Ada beberapa alternatif transportasi yang bisa digunakan. Waktu itu saya dan beberapa teman nekad ingin membeli tiket kereta ke Sukabumi dari stasiun Bogor Palegan (yang letaknya di dekat Taman Topi).

Jadi, pertama-tama kami naik KRL dulu Depok-Bogor, lalu berjalan kaki menuju stasiun Bogor Palegan. Beruntungnya kami, tiket masih tersisa. Kami optimis mendapatkan tiket ini karena waktu itu kami tidak pergi di saat long weekend ya, juga rajin-rajin mengecek laman resmi PT. KAI mengenai ketersediaan tiket. Tidak secara spontan kami beli on the spot tanpa pertimbangan. Jadi, kalau kamu ingin beli tiketnya OTS juga, saya sarankan untuk mempertimbangkan kedua catatan yang saya dan teman-teman lakukan itu.

Perjalanan kereta Bogor-Cisaat hanya memakan waktu dua jam. Bahkan berasanya hanya setengah jam, maklum kebiasaan naik kereta ekonomi ke daerah jawa yang menghabiskan waktu seharian he…he… Ingat, meskipun lokasinya di Sukabumi tidak berarti berhentinya di stasiun Sukabumi juga, jangan sampai salah ya! Turunnya di Stasiun Cisaat, sebelum Stasiun Sukabumi.

Dari stasiun biasanya banyak angkot yang menawarkan jasa untuk carter, ojek juga begitu (Rp. 30.000/orang). Karena saya dan teman-teman berniat untuk backpacking, maka kami memilih untuk ‘ngeteng’. Sekalian berbaur dan berinteraksi langsung dengan penduduk setempat.

Stasiun Cisaat, bukan Sukabumi ya!

Dari Stasiun Cisaat kami naik angkot tujuan Pos Polisi Cisaat. Di dekat Pospol ada pasar, kami mampir dulu untuk belanja sayur-mayur. Tujuan kami adalah jalan-jalan hemat tapi makan enak, pokoknya kemping ceria! Mau jalan-jalan, nggak punya duit karena tanggung bulan.

Naek angkot yow

Dari Pasar Cisaat sambung angkot lagi berwarna merah yang langsung ke arah Situ Gunung. Makin lama angkot makin menanjak dan suasana makin sejuk. Hanya membutuhkan waktu setengah jam untuk akhirnya tiba di pintu Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango.

Tiket masuk seharga Rp.32.500/orang. Mungkin terbilang cukup mahal, tetapi sangat tidak masalah kalau harga yang diberikan sesuai dengan fasilitas yang disediakan dan kebersihan yang terjaga. We’ll see. Hati-hati, suka ada oknum yang minta harga untuk mendirikan tenda sebesar Rp. 15.000 atau lebih. Jangan mau!

Duh, senangnya nggak bawa kulkas (baca: keril)!

Ada beberapa camp ground di Situ Gunung. Pengunjung boleh mendirikan tenda di mana saja selama itu masih di dalam wilayah camp ground, asal tidak di danau. Di dekat camp ground juga terdapat kamar mandi yang terbilang bersih dan tidak bau. Kamar mandi yang terdiri dari beberapa pintu itu sangat terjaga kebersihannya, sehingga tidak membuat pengunjung merasa segan untuk sering-sering ke sana (ya kali aja ada yang hobi kebelet he..he..). Luar biasanya, tidak ada pengunjung lain di camp ground. Hanya ada kami bertiga, sehingga kami bebas mendirikan tenda di manapun. Horeeeeee.!!! *lari-lari di camp ground*

 

Sore harinya turun gerimis, maka kami putuskan untuk melihat danaunya esok hari sekalian ke air terjun. Keesokan harinya kami mengunjungi danau yang ditempuh dengan berjalan kaki selama setengah jam (dengan speed keong). Beberapa orang menyebut danau ini sebagai Ranu Kumbolo-nya Jawa Barat. Ternyata ramai sekali. Banyak pengunjung yang datang khusus untuk berkunjung ke danau ini tanpa menginap. Aroma popmie di mana-mana. Bedanya? Ada sampan dan bebek-bebekan ha..ha.. Untuk menyewanya dikenakan tarif Rp.20.000/orang. Sayangnya, saat itu sedang mendung. sehingga foto yang saya dapatkan tidak terlalu cerah. Namun sangat pas suasananya kalau ingin merefleksi diri. Sendu-sendu galau syahdu gimana gitu.

Ismi – Me – Bayu

Ada beberapa tempat yang bisa dikunjungi di kawasan Taman Wisata Situ Gunung tersebut selain danaunya. Ada air terjun Curug Sawer dan Curuyang Cimanaracun. Karena terbatasnya waktu kami tidak mengunjungi Curug Cimanaracun, hanya ke Curug Sawer yang konon adalah curug terbesar di sebuah Taman Nasional di Indonesia. Jarak tempuh menuju curug tersebut adalah 2 km jauhnya. Curug Sawer jauh lebih ramai dari danau tadi. Saya tidak betah berlama-lama di keramaian, sehingga kami di sana hanya menghabiskan waktu tidak lebih dari setengah jam. Air terjunnya deras sekali, sehingga pengunjung dilarang untuk berenang. Namun terdapat spot khusus bagi pengunjung yang ingin merasakan berbasah-basahan di curug tersebut. Oya, di lokasi curug ini juga saya melihat berdiri beberapa tenda. Mungkin boleh camping di sana. Bila kamu tertarik sila tanyakan terlebih dahulu kepada petugas di pintu masuk. Sepertinya seru mendirikan tenda di tepi curug. Next saya dan teman-teman bertekad balik lagi untuk nenda di sana he..he..

Banyak tukang jajanan di kawasan Situ Gunung, dari mulai cilok sampai bakso *nyum*


How to get there:
 
Alternatif 1
KRL Jakarta – Bogor: Rp.7.000
Kereta Bogor Palegan – Cisaat: Rp.25.000
Angkot St. Cisaat – Polsek Cisaat: Rp. 3.000
Angkot Polsek Cisaat – Situ Gunung: Rp. 8.000

Alternatif 2 (resiko: Jalur rawan macet)
KRL Jakarta – Bogor: Rp. 7.000
Angkot 03 dari depan stasiun sampai Terminal Baranangsiang: Rp. 4.000
Elf jurusan Bogor – Sukabumi sampai pertigaan Cisaat: Rp. 25.000

Beberapa blog dan teman mereview dengan harga tarif berbeda-beda, dibanding yang lain mungkin harga yang saya dapatkan jauh lebih murah. Maklum, punya skill menawar yang cukup mumpuni. Apalagi didukung dengan kemahiran berbahasa daerah setempat: Bahasa Sunda.

Total biaya yang kami keluarkan waktu itu kurang-lebih Rp. 96.500/orang untuk pulang-pergi Jakarta-Situ Gunung (sudah termasuk tiket masuk untuk 3D2N). Di luar pengeluaran untuk makan dan biaya tidak terduga ya 🙂

Gunung Papandayan: Untuk Pendakian Pertama

Naik gunung sekarang sudah menjadi gaya hidup yang digandrungi berbagai kalangan dan usia. Gunung semakin ramai dan dekat dengan manusia. Sosial media menjadi salah satu alasan yang mengomporinya. Salah satu gunung yang tak pernah sepi saat ini adalah Papandayan, Jawa Barat, 2622 mdpl. Banyak yang bilang Papandayan adalah gunung yang pas untuk pemula yang ingin mencicipi pendakian. Meskipun di dalam mendaki tidak ada istilah pemula atau pun ahli. Semua orang boleh mendaki gunung jika mereka mau dan merasa mampu. Yang terpenting harus bertanggung jawab dengan tidak mencoret-coret batu (ini banyak sekali di Papandayan), membuang sampah sembarangan, dan merusak ekosistem seperti memetik Edelweiss.

Terletak di kota Garut dengan jarak tempuh empat jam dari Jakarta makin mempermudah akses masyarakat Indonesia untuk mengunjunginya. Tidak perlu membawa mobil pribadi, ada banyak sekali bis patas maupun non-AC yang sampai di terminal kota Garut. Bis biasanya berangkat pada tengah malam lalu tiba di Garut jam 3 malam. Dari tempat pemberhentian bis kita harus menyambung angkutan umum untuk bisa sampai ke masjid agung kota Garut yang terletak di kaki gunung Papandayan. Tidak heran pada pukul 5 pagi masjid agung kota Garut ramai oleh pendaki yang bersih-bersih badan dan menunggu terang melanjutkan perjalanan menuju pos pertama Papandayan. Kendaraan yang tersedia adalah mobil bak terbuka. Jadi, bagi kamu yang tidak biasa, siap-siap masuk angin ya he..he….

Ke Papandayan enakan bawa mobil sendiri daripada naik bis. Percaya deh :’)

Waktu paling pas untuk memulai pendakian gunung Papandayan adalah pagi sekitar jam 7 pagi. Yang saya suka dari Papandayan adalah kabut tebal yang menutup jalur pendakian. Selain photoable (ciye anak folk), kabut membuat hamparan jalan di depan kita jadi nggak kelihatan, nggak berasa capek deh he..he… Selain itu ada hutan mati yang menjadi ciri khas Papandayan, ada juga asap belerang yang sering jadi objek foto “nyeleneh” para pendaki, juga ada Tegal Panjang dan Tegal Alun yang cantik, yaitu padang Edelweiss. Iya, Papandayan banyak bonusnya.

Ini foto perjalanan 25-26 Mei 2016

 

Hutan Mati (September 2015)

Pos pertama Papandayan biasa disebut sebagai Camp David. Entah kenapa dinamakan demikian, saya juga nggak tahu. Mungkin kamu tahu?

Pondok Saladah. Balon-balon ini untuk games, bukan untuk dijual :p

Sebelum naik, seperti biasa team leader harus melaporkan jumlah anggota pendakiannya dan membayar Simaksi atau uang kebersihan gunung. Hati-hati terhadap pungli yang berada di luar Camp David. Jangan mudah mengeluarkan uang jika memang sudah membayar Simaksi.

Sudah kesekian kali saya mendaki Papandayan dan tidak pernah merasa bosan. Pendakian pertama saya ke Papandayan justru bukan ditujukan untuk mendaki. Saya mendaki dengan ketiga teman laki-laki di kampus (Iya, sudah biasa jadi pendaki perempuan sendiri). Jumlah kami berempat dan pendakian dilakukan dengan sangat santai. Sesuai dengan misi kami di awal bahwa pendakian ini adalah camping ceria untuk refleksi diri, tidak ada itinerary seperti biasanya. Juga tidak ada target tiba di puncak jam berapa. Kami benar-benar melakukan pendakian ini untuk bersantai dan menikmati alam. Alhasil yang kami lakukan di atas adalah tidur siang di bawah pohon, main uno sepanjang hari, bereksperimen dengan bahan masakan seadanya, dan tidur lagi. Ha..ha..ha…

 

Pengalaman Petrik saat pertama kali masak pakai nesting haha

 

Soal puncak. Ini yang menarik. Tidak ada yang tahu di mana letak puncak Papandayan sebenarnya. Ada yang bilang Tegal Alun (padang Edelweiss) lah puncak Papandayan. Ada juga yang bilang puncaknya adalah bukit di balik Tegal Alun yang tidak ada jalurnya, sehingga tidak bisa dilalui manusia. Entahlah, puncak Papandayan masih menjadi misteri. Untungnya, saya bukan tipe orang yang puncak-oriented. Yang saya cari dari sebuah pendakian adalah prosesnya dan keluarga baru dari perjalanan itu sendiri.

Addin, naik gunung demi mengejar cintanya untuk seorang gadis. Konyol? Yang lebih konyol yang nganterin, SAYA.

Ada padang sabana yang cantik di Papandayan bernama Tegal Panjang. Luasnya teramat luas sehingga jika sedang musim penghujan warna hijaunya akan tampak bagus sekali. Namun itu adalah kawasan konservasi yang tidak boleh sembarangan dikunjungi. Jadi, kalau memang nggak bertanggung jawab untuk menjaga lingkungan khususnya kebersihannya mending nggak usah penasaran sama yang satu ini ya! He..he..

 

Bagi kamu yang belum pernah mendaki dan ingin merasakannya, Papandayan bisa jadi pilihan. Tetapi banyak juga yang mengeluh dan menyesal karena telah menjadikan Papandayan sebagai gunung untuk pendakian pertamanya. Sebenarnya semua tergantung dirimu sendiri. Medan yang sulit tidak akan menjadi sulit bila kita punya persiapan yang matang baik secara ligstik maupun kondisi fisik. Ini dia naya berikan tips untuk mendaki Papandayan.

 

  1. Lebih baik pergi dengan rombongan bila misi perjalananmu adalah sebagai backpackers yang hemat ongkos.

Itu akan mempermudah sharing cost untuk menyewa angkutan.

 

  1. Hindari pendakian di hari weekdays.

Sebagai seorang yang benci keramaian (ya atuh kalo nggak mau rame nggak usah jalan-jalan ke tempat umum Nay haha) dan karena ingin menikmati alam untuk refleksi diri, saya dan si teman-teman cowok itu memilih hari biasa untuk mendaki. Kebetulan waktu itu baru lulus kuliah jadi tidak masalah, sedangkan teman saya yang kerja sudah mengambil cuti dari jauh hari. Sisanya adalah freelancer yang bisa bepergian kapan saja. Ternyata mendaki weekdays itu nggak enak. Selain karena sharing cost jadi mahal, harga tiket masuk alias Simaksi juga jadi dimahalin dua kali lipat! Entah bagaimana penghitungannya. Saya pun heran sampai sekarang. Mungkin karena gunungnya sepi, pendapatan mereka jadi sedikit dalam sehari. Mungkin.

 

  1. Tidak perlu bawa air banyak-banyak.

Biasanya ketika mendaki, saya membawa 2 botol (saya pernah bawa 3) air mineral berukuran 1,5 liter. Yang cowok-cowok bawa 3 botol. Tapi di pendakian Papandayan saya hanya membawa satu botol 1,5 liter. Alasannya karena di Pondok Saladah (camp site) terdapat mata air yang sudah disediakan dalam bentuk keran-keran jadi bisa isi ulang, bahkan ada banyak toilet bersih bikinan anak ITB! Ya…. Papandayan rasa Jambore he..he… Camping ceria.

 

  1. Bawa sandal cadangan dan jas hujan karena Papandayan rawan hujan.

Mungkin karena masih termasuk dalam gunung di Jawa Barat dan Jawa barat rawan hujan (eh iya nggak sih? Haha). Saya pernah turun dari Tegal Alun-Pondok Saladah-Camp David hujan-hujanan. Hujan lebat! Pakai jas hujan aja nggak cukup. Untungnya jaket saya Cozmeed seri terbaru yang tahan angin dan air (ciye promosi) #bukanendorse.

 

  1. Jangan buang sampah sembarangan. Bawa turun sampahmu. Dan lebih bagus lagi turun gunung sambil mungutin sampah.

OKAY??? 😉 Terakhir saya ke Papandayan Alhamdulillah tidak terdapat banyak sampah di jalur pendakian. tapi tetap saja banyak sampah-sampah kecil yang mungkin menurut orang tidak penting. Padahal cukup mengganggu penglihatan saya karena berwarna-warni lain dengan bebatuan di jalur. Biasanya jika turun Papandayan kantong celana saya kanan kiri depan belakang penuh dengan sampah-sampah kecil. Mulai dari bungkus permen, choki-choki, tolak angin, chiki, sampai jas hujan bekas dibuang begitu saja di tengah jalur. Ujung-ujungnya sampah yang saya kumpulkan bisa jadi seplastik besar. Berarti nggak ngaruh, bukan? Sampah tetap sampah bagaimana pun ukurannya. Bisa mngotori alam dan merusak pemandangan. Pungut saja sampah yang kamu temukan selama perjalanan turun dari Papandayan. Di dekat Camp David ada tempat sampah besar yang sudah disediakan.

 

Addin – Petrik – Me

How to get there:
Alternatif 1
Bis Kp. Rambutan – Terminal Guntur, Garut: Rp. 50.000
Carter angkot Terminal – Mesjid Agung: Rp. 20.000
Mobil bak – Camp David Rp. 25.000/orang

Simaksi: Rp. 4.000, lalu pernah Rp. 15.000 (berubah-ubah)

Alternatif 2
Bis Kp. Rambutan – Terminal Guntur, Garut: Rp. 50.000
Carter angkot Terminal – Mesjid Agung: Rp. 20.000
Ojek – Camp David Rp. 35.000/orang

Simaksi: Rp. 4.000, lalu pernah Rp. 15.000 (berubah-ubah)

Sekian. Selamat mendaki!
Salam, Hijabtraveller
Nayadini.

ig: @nayadini