Australia Youth Leadership Homestay Program 2018

Sebagai perasaan senang saya atas tingginya antusiasme teman-teman yang menanyakan tentang Homestay Program kemarin, saya akan jelaskan secara rinci melalui postingan blog ini. Bagi yang males baca juga bisa tengok Vlog yang akan saya buat nanti, masih mengumpulkan keberanian nih hehehe.

Tanggal 27 Februari 2018 kemarin saya berangkat ke Sydney, Australia bersama tiga orang delegasi lainnya. Kami memiliki latar belakang minat yang berbeda-beda. Saya di bidang pariwisata, Mumu adalah seorang guru, Maizal sebagai Jurnalis, dan ada juga Julian yang merupakan dokter sekaligus PNS. Asal daerah kami juga berbeda-beda. Kami mengikuti program Australian Youth Leadership Homestay Program 2018 yang diadakan oleh Gerakan Mari Berbagi, sebuah Non-Government Organisation yang kini sudah menjadi yayasan. Organisasi ini berfokus kepada pembentukan pemuda untuk berkontribusi di masyarakat dengan tidak memandang perbedaan budaya, suku, maupun agama. Program Homestay ini kurang-lebih adalah reward atas apa yang sudah kami lakukan kepada lingkungan sekitar.

Jadi, program ini prosesnya memang panjang. Homestay Program ini hanya diperuntukkan bagi para alumni Youth Adventure & Youth Leaders Forum yang setiap tahunnya diadakan oleh Gerakan Mari Berbagi. Untuk mengikuti YA & YLF diperlukan proses seleksi yang tidak sedikit, nah untuk Homestay Program kami juga perlu melewati proses seleksi lagi.

Ada tiga negara yang ditawarkan kepada calon delegasi; Jepang, Australia, Belanda. Saya memilih Australia karena saya tidak memiliki alasan untuk tidak memilihnya he..he.. Saya bahkan nggak pernah terpikir akan travelling ke Australia karena apa-apa serba mahal, apalagi Sydney. Ternyata program ini yang mengantarkan saya ke Aussie, benar-benar seperti mimpi.

 

 

Seperti apa Tahap Seleksi Youth Leadership Homestay Program?

Tahap seleksi ada beragam (pertama sekali tentu saja seleksi berkas, baru interview); pertama saya masuk ke post visi-misi. Saya ditanya tentang latar belakang saya dan apa tujuan pergi homestay nanti. Ini bukan travelling lho ya, jadi harus ada goals yang didapat. Karena latar belakang dan minat saya adalah budaya dan pariwisata, maka saya jelaskan bahwa saya ingin mengunjungi komunitas-komunitas berbeda yang tidak ada di Indonesia dan lakukan company visit ke perusahaan travel di Sydney. Yang meng-interview saya saat itu adalah board member kami yang memang asal Sydney; Richard. Ada juga bule lainnya yaitu James. Ada satu GMBers (non-alumni homestay), dan satu lagi Doki (alumni homestay Australia).

Seleksi kedua adalah kontribusi. Apa saja yang sudah saya lakukan baik untuk masyarakat maupun untuk GMB. Seleksi ketiga tentang potential cases, calon delegasi ditanya tentang bagaimana bila nanti harus tinggal di rumah keluarga yang memiliki anjing (bila ia muslim) atau bagaimana bila harus tinggal di rumah pendeta atau pasangan sesama jenis, dsb. Tips: Jawablah jujur dan jadi diri sendiri. Sebelum seleksi interview latihan dulu di depan kaca dan persiapkan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan yang kira-kira akan keluar.

Setelah itu, terpilihlah total 15 delegasi untuk tiga negara. Australia 4 orang, Jepang 6 orang, dan Belanda 5 orang (ending-nya satu orang dari tim Belanda mengundurkan diri karena sudah bekerja dan terikat lembaga).

 

Seperti apa pengalaman Homestay Program selama di Australia?

Saya akan menjadi sangat emosional bila menceritakan soal ini. Benar-benar merasa bersyukur karena saya ditempatkan di rumah Richard (board member GMB asal Australia) yang saya sering panggil Papa, ternyata jadi Papa beneran akhirnya. Saya tidak sendiri dan akan satu rumah dengan Mumu. Sedangkan Maizal dan Julian tinggal di rumah Fred dan Paula.

Richard dan Anne tinggal di daerah sub-urban Hills District, bernama Castle Hill (ada juga Baulkham Hills, dll). Sebuah kawasan sub-urban yang sangat elit karena rumahnya besar-besar. terletak lima puluh menit dari pusat kota Sydney. Saya bahagia sekali dapat tinggal di rumah Richard karena mereka memiliki halaman belakang yang nampak seperti hutan yang terawat. Semua pepohonan itu Richard dan Anne sendiri yang menanam puluhan tahun lalu. Ada food step, box berisi buku bacaan dan alat tulis untuk para cucu, juga ada nama semua cucu terpatri di setiap pohon. Kamar saya memiliki jendela yang menghadap ke halaman belakang. Yang kalau pagi terdengar burung-burung bernyanyian bahkan bertengger di dahan (burung di Australia indah-indah warnanya!). Ada juga corner di rumah Richard yang menjadi teras penghubung ke halaman belakang. Tempat yang sangat cocok untuk bersantai sambil minum teh, baca buku, atau ngobrol. Benar-benar rumah idaman saya!

Yang paling berkesan adalah keluarga Richard yang nampak sempurna di mata saya. Anak yang semuanya sudah menikah (Richard punya 4 anak; Adam, Matthew, Daniel, Bede) dan 12 cucu yang lucu-lucu parah! Saya dan Mumu bahkan sempat menjadi baby sitter untuk empat cucu karena orang tua mereka mau “pacaran”, jadi menitipkan anaknya ke Grandad dan Nanny (ini hal lazim yang biasa terjadi di Australia). Saya bahagia dapat menjadi bagian dari lovely family ini. Mereka semua sangat welcome dan menyenangkan. Rasanya pengin jadi anak adopsi Richard dan Anne dan tinggal di sana terus!

 

Apa saja yang dilakukan selama Homestay Program?

Sebenarnya ini adalah kesempatan bagus untuk magang di perusahaan di Aussie, tapi berhubung magang di Aussie itu suliiiiit nggak seperti di Indonesia, maka saya pikir lebih baik company visit saja. Bosan juga kalau dipikir-pikir harus magang di satu tempat dan melakukan hal yang sama tiap harinya, ketemu orang yang sama tiap harinya. Sayang banget kan apalagi sedang di Sydney! Malah enakan company visit bisa liat perusahaan dan ketemu orang berbeda, bisa memperluas networking juga.

Ada satu perusahaan yang saya idam-idamkan yang sejak lima bulan sebelum sudah saya hubungi untuk magang. Meskipun saya juga melamar magang ke company lain, saya sih target utamanya magang di perusahaan itu, namanya World Expeditions. Monika Molenda, Reservation Manager yang sejak November membantu saya mencarikan posisi untuk intership, sayangnya tidak ada divisi yang membutuhkan tenaga magang. Bisa gitu ya, kalau di Indonesia tawaran tenaga anak magang pasti nggak akan ditolak dan dimaksimalkan. Mengapa saya ngotot untuk kunjungan ke World Expeditions adalah karena visi dan misi perusahaan yang “gue banget”. WE adalah sustainable travel company yang mengadakan trip ke berbagai penjuru dunia, bahkan awalnya bukan keliling Aussie, melainkan Himalaya. Nggak heran suasana kantornya dibuat dengan dekorasi ala Nepal. Bikin jatuh cinta deh pokoknya!

Selain company visit, delegasi juga dianjurkan untuk ocmmunity visit. Khususnya mengunjungi komunitas yang tidak ada di Indonesia, apalagi yang tabu. Seperti komunitas LGBT. Beruntungnya kami saat ke Sydney bertepatan dengan perhelatan LGBT terbesar di Australia, yaitu The Mardi Gras! Sebuah festival LGBT ke 40 tahun sekaligus persemian menikah sesama jenis. Ribuan pengunjung datang dari berbagai penjuru Australia, bahkan ada juga yang dari luar negeri datang khusus ke Sydney untuk ikut merayakan The Mardi Gras. The festival was going wild!

Selain LGBT, kami juga mempelajari tentang masyarakat beragama lain, seperti mengunjungi gereja kristen katolik yang makin hari makin sepi pengunjung. Religiusitas masyarakat Australia kini menurun dan banyak yang memilih untuk tidak beragama. Selain itu saya juga mengunjungi komunitas agama Bahai. Lucunya, di Indonesia ternyata sudah ada komunitasnya, saya malah tahu lebih dulu di Sydney. Saya sengaja mengunjungi temple di hari diadakannya ibadah (seminggu sekali). Saya mengikuti rangkaian ibadah yang hanya berlangsung setengah jam itu. Nggak sia-sia perjalanan dua jam menuju Bahai Temple karena sepulangnya saya justru tak hanya dapat informasi baru, malah dapat banyak sahabat yang asik-asik. Kita ke pantai, kaokean, makan bareng, dll. Seru kan kalau rukun dalam keberagaman.

 

Apa saja pembelajaran yang didapatkan setelah mengikuti Homestay Program?

Cinta. Ini adalah valua pertama yang saya pelajari dari Richard dan Anne. Hingga usianya yang kini 70 tahun (Anne 66 th), mereka berdua masih sangat romantis. Saya selalu merasa kagum dengan bule-bule yang mau menikah dan membina rumah tangga, apalagi sampai punya anak-cucu. Apa resep keharmonisan Richard dan Anne? Baca ulasan lebih lengkapnya di sini.

Pola Asuh. Anak-anak Richard semuanya telah menjadi orang sukses dan memiliki keluarga yang harmonis juga. Saya belajar banyak dari pola asuh yang diterapkan oleh Richard dan Anne dalam mendidik dan membesarkan anak-anak mereka. Daniel, satu-satunya anak perempuan mereka, memilih untuk bekerja setelah lulus SMA. Ia tidak mau kuliah, namun Richard dan Anne tidak memaksakan kehendak mereka dan memberikan kebebasan kepada Daniel asalkan ia dapat menanggung resikonya dan sadar atas pilihan yang diambil. Terlepas dari itu, Richard dan Anne akan selalu mendukung keputusan apapun yang diambil oleh anak-anaknya. Duh, senangnya!

Toleransi. Tidak hanya kepada beda agama, tapi juga suku. Bisa bayangkan apa jadinya kalau warga Australia membenci orang kulit hitam, sedangkan penduduk asli Australia sendiri aslinya adalah Aborigin yang berkulit gelap? Teman-teman saya yang beragam Bahai pun mengaku tidak pernah mendapat tindak diskriminasi dari orang-orang beragama lain, karena agama merupakan hal yang bersifat pribadi dan privasi. Meskipun ada juga warga Aussie yang masih rasis, namun jumlahnya sangatlah kecil. Saya kemudian menemukan titik perbedaan itu, bukan bermaksud membandingkan, tapi kita harus membuka mata dan banyak belajar dari negara lain, khususnya negara maju. Cara paling jelas untuk bisa menjadi masyarakat seperti di negara maju adalah berpikiran yang juga maju, alias terbuka terhadap perbedaan dan hal baru.

Disiplin. Satu pengalaman yang sering kali membuat saya malu ketika mengatakan dari Indonesia adalah budaya telat. Orang-orang Aussie sangat mengenal Indonesia sebagai masyarakat dengan penganut jam karet. Bahkan pesawat saja sering ngaret! Selain itu, orang juga terbiasa mengantre, meskipun masih lebih jauh rapi orang Jepang, tapi ini pun sudah cukup membuat saya takjub. Khususnya antrean bis. Haltenya kecil, antriannya mengekor panjang sampai bermeter-meter dan mereka tertib. Buang sampah juga bagian dari disiplinnya orang-orang Aussie. Akhir-akhir ini mereka membuat campaign, “Don’t be a tosser!” buat orang-orang yang suka buang sampah sembarangan.

Itu dulu rangkuman kegitan Homestay Program saya selama di Aussie kemarin. Intinya, saya merasa bersyukur dan beruntung dapat mengikuti program ini. Sebuah keputusan terbaik yang pernah saya ambil dalam hidup saya. Pengalaman-pengalaman yang saya dapatkan luar biasa, pastinya tidak akan saya dapatkan kalau kunjungan saya ke Sydney hanya untuk travelling saja dan bukan untuk Homestay Program ini. Semoga dapat bermanfaat untuk teman-teman semua.

See ya!

 

Nay.

 

 

 

Refleksi Homestay Program Hari 1: Cinta

Saya tidak pernah menyangka. Pelajaran yang akan saya dapatkan pertama kali setibanya di Australia dalam Homestay Program ini adalah tentang cinta.

“Go on,” sahut Richard ketika saya berkata ingin mengajukan sebuah pertanyaan. Saya ragu, tapi rasa keingintahuan saya selalu lebih besar dari rasa takut yang saya punya.

Kami menuju Car Park bandara yang sangat ramai. Saya diam-diam sembari mengamati setiap hal untuk dibandingan dengan kondisi di Indonesia. Tidak sulit menemukan di mana mobil Richard terparkir sebab semua teroganisir dengan baik, juga karena jumlah mobilnya tidak sebanyak di Jakarta. Karcis parkir ditelan mesin dengan sukses, pertanda kami dapat meninggalkan bandara dan meluncur ke rumah Richard yang terletak agak jauh dari pusat kota.

“Do you still love Anne just like the first time you met her and decided to marry her?” saya memerhatikan air mukanya, siaga kalau-kalau ekspresi di wajahnya berubah masam atau malah bingung. Namun, ternyata tidak membutuhkan waktu lama untuk mendapatkan jawaban karena dalam hitungan detik ia segera menjawab,

“Of course yes.”

Saya tidak habis pikir, bagaimana caranya menjalin cinta selama berpuluh-puluh tahun, tidak berkurang dan hilang sedikitpun? Seperti sebuah keajaiban. Mereka tidak pernah mengumbar kedekatan yang vulgar memang, tetapi ikatan itu dapat dengan kuat saya rasakan. Jika ada kata-kata yang sering belum disampaikan Richard, namun sudah dapat ditangkap dengan baik oleh Anne. Sama halnya dengan Anne yang sering sekali dibantu oleh Richard di dapur dan bahkan ruang makan, bahkan mencuci dan memasang sprei. Sepasang kekasih dengan anak-anak yang sukses dan 12 cucu di sebuah rumah yang rindang, bukankah semua akan terlihat lebih mudah jika kita sebagai individu menghormati satu sama lain, tidak perlu semua orang, setidaknya orang yang paling kita sayang?

“Apa kuncinya?“

„Toleransi dan menghormati. Yang pertama adalah yang utama.“

Saya bergumam. Toleransi yang biasa digembor-gemborkan di jalanan, di media, rupanya dapat dimulai dari lingkungan terdekat dan terkecil bernama keluarga. Orang-orang di negara maju sangat toleran, itulah mengapa mereka bisa maju. Sama halnya dengan Richard dan Anne yang memutuskan untuk menikah, karena mereka sangat toleran satu sama lain.  Sebab banyak orang di Australia yang memutuskan untuk tidak menikah, karena pernikahan bukanlah keharusan dan bukanlah sesuatu yang mudah, membutuhkan „perjuangan“ salah satunya perihal toleransi.

Program yang saya ikuti ini adalah salah satu jalan menuju sukses yang telah dilakukan orang-orang di masa mudanya, namun apakah cinta menjadi salah satu faktor kesuksesan mereka? Cinta jelas adalah sebuah value (nilai)  yang dapat mendukung kesuksesan tersebut. Atau justru cinta adalah sebuah goal (tujuan) bagi banyak orang yang menjadi tolak ukur kesuksesan. Termasuk saya.

Tidak banyak saya mengenal orang-orang sukses di Indonesia (atau mungkin pengetahuan saya saja yang kurang luas) sukses pula dalam kisah percintaannya, meskipun dalam hal ini cinta bisa bermakna apapun; cinta untuk keluarga, orang tua, teman, dan lain-lain. Cinta yang saya maksud adalah tentu tentang pasangan jiwa (soulmate), meskipun belum tentu menjadi pasangan hidup dan tidak harus menjadi demikian. Mungkin itu pula alasannya mengapa Ridwan Kamil (Walikota Bandung Periode 2013-2018) menjadi sangat terkenal dan diidolakan banyak kawula muda. Sebab tidaklah mudah menemukan figur seorang pemimpin sukses yang langgeng dengan pasangannya, bahkan untuk sosok yang satu ini kadang malah kelewat romantis dan bikin baper (bawa perasaan) anak-anak muda lewat postingan Si Cinta (Bu Atalia, istri beliau).

Saya muak mendengar kisah perceraian terjadi setiap hari di Indonesia seolah-olah adalah sebuah hal yang mudah dan murah. Ya, perceraian membutuhkan dana untuk banyak hal. Faktanya, di Indonesia ada sebanyak 40 pasangan bercerai setiap jamnya. Data ini saya dapatkan dari sebuah berita di tahun 2013 yang disampaikan oleh pihak Kementerian Agama RI. Kasus perceraian meningkat setiap tahunnya di Indonesia, berarti sangat besar kemungkinan bahwa di tahun 2018 ini jumlahnya bertambah dan menjadi lebih banyak.

Pikiran saya semakin bercabang, mengidentifikasi tentang apa saja hal yang pernah saya temui di Indonesia berkenaan dengan cinta dan pernikahan. Maksud saya, orang-orang Australia, Richard dan Anne sekalipun yang bukan pasangan religius, dapat menjadi sepasang kekasih yang sangat tulus dan sempurna di mata saya. Tidak pernah sekalipun saya bertanya apa agama mereka atau bisa saja mereka menganut atheisme. Sebab bagi saya, agama merupakan suatu hal yang personal dan setiap orang memiliki caranya masing-masing untuk berinteraksi dengan Tuhan, dalam konteks agama apapun.

Di sisi lain, orang-orang Indonesia yang umumnya beragama dan bahkan ada pula agama mayoritas, yang sejatinya percaya akan makna Ketuhanan dan begitu mencintai Tuhannya berkat karunia yang diberikan, seharusnya lebih bisa membina rasa cinta kepada manusia dan menerapkan apa yang mereka lakukan untuk Tuhannya. Namun yang saya dapatkan justru berita perceraian di mana-mana, KDRT tidak sedikit terjadi baik di pedesaan maupun ibu kota. Yang justru pernah membuat saya berpikir untuk tidak mau menikah, karena takut bila harus mengalami perceraian. Dari sini jelas terlihat, bahwa cinta dan agama bukanlah dua hal yang menjadi satu kesatuan, meskipun sangat erat berkaitan satu sama lain. Agama adalah agama. Ada cinta di dalam agama, namun tidak begitu dengan cinta, karena di dalam cinta seharusnya ada toleransi dan ketulusan, bukan SARA. Lantas, mengapa urusan pernikahan harus dikelola oleh Kementrian Agama RI? Bukankah agama dan cinta adalah dua hal yang berbeda?

#IamGMBer

#GMBHomestayProgram

#GerakanMariBerbagi

GMB: A Place We Called Home

Apa sebenarnya bagian yang paling penting pada organ tubuh manusia?

Acara tahunan Gerakan Mari Berbagi, yaitu Youth Adventure & Youth Leaders Forum 2016 telah sukses terselenggara. 48 peserta resmi dinobatkan menjadi Pemuka Pemuda Indonesia dan menjadi bagian dari keluarga GMB http://www.g-mb.org/. YA & YLF 2016 bukan hanya acara yang ditunggu-tunggu oleh para peserta semenjak mereka lolos seleksi tahap akhir, tetapi juga ajang yang sangat dinanti oleh para alumni karena ini adalah momen yang tepat entah untuk berkumpul kembali setelah setahun tidak bertemu atau juga untuk mengenang ketika menjadi peserta.Baru beberapa hari berlalu beranda Facebook saya ramai dengan tulisan para peserta tentang betapa GMB memberikan pengalaman baru dalam hidup mereka, maka melalui postingan ini saya juga ingin bertutur kisah tentang bagaimana GMB memberikan rasa nyaman yang membuat kami selalu pulang kepadanya, karena GMB merupakan rumah kedua bagi kami dan tak jarang juga GMB merupakan keluarga pertama bagi beberapa di antara kami sebagai pengganti yang tidak ada.

Saya ingat seperti apa Naya yang dulu, dua tahun lalu, sebelum bertemu dengan keluarga Gerakan Mari Berbagi. Sebagai seorang yang supel dan talk active banyak orang yang tidak percaya bahwa saya memiliki sifat introvert yang cukup kuat. Saya memiliki kesulitan untuk bersikap terbuka, terlebih dalam mengungkapkan isi hati. Saya selalu merasa kesulitan untuk percaya. Biasanya semua hal tersebut akan berakhir dengan diam dan saya pendam sendiri.

Namun dengan GMB semua berbeda. Dua hari lalu pada rapat evaluasi setelah para peserta YA & YLF 2016 dipulangkan, semua panitia (dengan sisa-sisa tenaga di dalam tubuh dan kantuk yang bertubi-tubi) duduk melingkar di atas panggung. Para volunteer diberikan kesempatan untuk memberi apresiasi kepada satu sama lain dan bahkan mengungkapkan uneg-uneg yang dirasakannya selama mengurus acara YA & YLF 2016. Saya? Memulai kalimat dengan isak. Saya menangis hanya karena sebuah hal yang sepele. Sesuatu yang menurut saya janggal selama pelaksanaan YA & YLF 2016. Yang saking sepelenya setelah mengutarakan segalanya saya sampai ingin menghakimi diri saya sendiri, mengapa barusan saya harus menangis?! Saat itu saya memiliki keinginan untuk bertanya kepada diri sendiri apakah saya terlalu berlebihan dan kalimat barusan sebenarnya tak perlu saya ungkapkan. Namun rasa nyaman yang saya percayakan kepada GMB membuat saya tidak ingin ada sedikit pun kecacatan pada kenyamanan itu. Saya merasa segala masalah (sekecil apapun) dapat terselesaikan di keluarga ini karena ini adalah rumah bagi kami. Hari itu juga masalah saya terselesaikan, ditandai dengan sebuah hadiah peluk haru yang menenangkan. Hanya di GMB, saya berani mengungkapkan apa yang saya pikirkan dengan begitu lepas dan bahkan dengan menyertakan emosi di dalamnya. Rasanya begitu melegakan. GMB membuat kami menjadi orang yang jujur, terlebih pada diri sendiri.

Keterbukaan itu rupanya tak hanya dirasakan oleh saya seorang. Satu per satu alumni kemudian turut angkat suara. Mereka tak segan mengungkapkan perasaan mereka kepada siapa saja di keluarga ini. Entah rasa senang atau sedih. Entah pula kata maaf atau terima kasih. Dan dengan caranya sendiri-sendiri. Sederhana, karena kami merasa akan selalu diterima seperti apapun keadaan kami. Di keluarga ini siapapun sangat tidak dibenarkan untuk berpikiran negatif bahkan meski hanya di dalam pikirannya sendiri. Tidak boleh ada yang merendahkan dan membicarakan keburukan orang lain, tidak boleh tidak menerima perbedaan, tidak boleh tidak berubah menjadi lebih baik. Keluarga ini adalah sumber energi positif bagi siapa saja. Sering kali tanggung jawab yang diamanahkan kepada kami membuat kami menghindar dan menghilang bak ditelan bumi. Masing-masing kami pernah ada di fase itu. Fase di mana kami merasa jenuh, lelah, dan lemah motivasi. Pada akhirnya setelah itu kami akan menyesalinya, begitu menyesal tidak mengakui bahwa GMB adalah rumah bermagnet yang akan selalu membuat kami kembali dengan cara yang tak kami sadari dan di luar kehendak kami. Menjauhnya kami adalah disebabkan oleh asumsi-asumsi pribadi yang tidak beralasan. Sebenarnya, tidak pernah ada GMBers yang menjauhi atau menyudutkan seorang alumni yang tetiba pulang setelah menghilang sekian lamanya. Siapapun akan kami sambut dengan hangat. Tidak ada yang akan menyalahkan, melalui rasa sungkan tersebut sebenarnya ia sedang menyalahkan dirinya sendiri dengan mengasingkan diri.

Saya merasa tidak menyesal telah mengorbankan waktu, tenaga, dan pikiran untuk pelaksanaan YA & YLF 2016 meski tanpa dibayar. Begitu pula alumni yang lainnya, terlebih lagi board member. Sudah menghabiskan jatah cuti di kantor, membolos sesi kuliah, bahkan mengurangi jam istirahat. Kami bangun sebelum peserta membuka mata dan kami masih terjaga saat para peserta tengah terlelap me-recharge tenaga. Keluarga ini makin kuat dengan bertambahnya anggota baru di setiap tahunnya. Keluarga ini makin hebat dengan lahirnya pemuda-pemuda tangguh yang berintegritas, seperti Ivan, sang ketua acara yang juga terpaksa merangkap menjadi bendahara. Saya merasa bangga terhadap semua panitia YA & YLF 2016. Begitu bangga dan bahagia melihat para GMBers tumbuh semakin hebat dan luar biasa.

Bagi saya, definisi keluarga atau sahabat tidak semudah ketika bibir yang mengucapkannya. Maknanya jauh lebih dalam dari itu. Pemahaman itu hanya dapat dirasakan dengan adanya chemistry yang kuat dan tidak terlihat oleh mata. Dan chemistry itu sangat jelas ada di antara kami para GMBers dan mengikat antara satu dengan yang lain tanpa keterpaksaan. Bagi yang bukan keluarga sudah bisa dipastikan mereka tidak akan turut merasa berduka ketika melihat saya menangis, tetapi mungkin malah menganggap saya remeh dan sikap negatif lainnya. Nyatanya? Tidak. Keluarga sudah pasti akan memikul beban bersama dan melindungi rahasia sesama. Dan para GMBers amat saling menjaga pribadi satu dan yang lainnya.

Ini pesan sederhana untuk para GMBers yang baru saja menyelesaikan YA & YLF 2016. GMB adalah rumah yang akan melindungi, menumbuhkembangkan, mendukung apapun dan bagaimanapun kalian. Ingat kah yang dikatakan Bang Az inisiator GMB kala kita akan berpisah seusai acara? Apa bagian tubuh yang paling penting dari organ manusia? Ialah bahu. Pulanglah ketika kalian butuh bahu untuk bersandar.

 

Saya selalu senang melihat foto ini. Keceriaannya tidak dibuat-buat, seperti foto di studio dengan skenario.

Selamat datang para GMBer 2016. Sejauh apapun kalian melangkah nantinya, akan selalu ada kami, rumah untuk kalian kembali.

 

 

For Free

Seleksi tahap dua Youth Adventure & Youth Leaders Forum 2015 telah usai dilaksanakan selama dua hari. Bahagianya rasa hati setelah seluruh persiapan yang kami lakukan selama berbulan lamanya telah selesai. Namun ada satu kalimat yang terus terngiang di telinga saya dari salah satu peserta seleksi tadi siang, “Ngapain sih kalian mau capek-capek jadi volunteer kayak gini?”

Hmm……. capek? Banget. Tapi belum pernah saya kepikiran omongan peserta yang kritis itu. Benar juga. Kebanyakan dari kami mungkin tidak pernah memikirkan kenapa kami mau merelakan tenaga, waktu, dan uang untuk menjadi seorang volunteer. Sama seperti peserta yang penuh perjuangan untuk tiba di lokasi seleksi, terbang jauh-jauh dari Bali dan setelah selesai seleksi langsung menuju bandara untuk kembali ke Bali lagi, atau daerah mana pun yang amat jauh di Indonesia. Volunteer pun membutuhkan perjuangan dan pengorbanan untuk acara, lebih tepatnya peserta. Saya percaya, menjadi panitia acara adalah sebuah keputusan, tetapi menjadi volunteer sebuah acara adalah pengabdian.

Untuk mengurus Youth Adventure & Youth Leaders Forum 2015, saya harus menginap di rumah tante yang ada di Jakarta, tepatnya di kawasan cempaka putih. Jelas jauh dari lokasi acara, tapi hanya rumah tante satu-satunya tempat saudara yang bisa ditumpangi. Hal itu lebih baik karena berangkat dari rumah saya di Tangerang dan harus tiba di Kemenpora, Senayan jam enam pagi adalah hal yang tidak mungkin. Barang bawaan saya banyak sekali, karena saya diamanahan untuk menjadi MC mengatur jalannya acara selama dua hari seleksi. Saya membawa sepatu high heels, blazer, kemeja, peralatan mandi, peralatan solat, laptop, dan lain-lain.

Meskipun sama-sama di Jakarta Pusat ternyata jarak dari Cempaka Putih ke Senayan jauh sekali. Naik Trans Jakarta harus dua kali transit, naik angkutan umum lainnya harus tiga kali sambung, sedangkan panitia harus tiba di tempat pagi sekali. Maka tidak ada pilihan lain selain naik taxi. Pagi itu lembar lima puluh ribu terakhir di dompetku terbang melayang dengan mudahnya. Bagi seorang fresh graduate yang belum memiliki penghasilan tetap setiap lembar uang di dompet adalah berharga. Satu-satunya yang terpikir hari itu adalah bagaimana caranya aku pulang nanti.

Benar saja, malam hari aku bermaksud menghemat pengeluaran dengan menebeng taxi bersama-sama dengan yang lain, agar ongkos yang keluar jadi patungan. Kami berhenti di stasiun cawang dan aku memutuskan untuk naik bis ke arah Rawasari. Seingatku ada bis ke arah sana, tapi sampai setengah jam lebih kutunggu bis itu tidak datang juga. Nurul memutuskan untuk pulang duluan karena kost-nya dikunci pada jam sepuluh malam, sedangkan ini sudah lewat jam sepuluh. Nuzul dan Soni memaksa untuk menungguku sampai mendapatkan bis yang dimaksud, meskipun sudah berkali-kali kukatakan bahwa aku tidak apa-apa ditinggal dan hafal dengan seluk-beluk Jakarta. Sudah hampir satu jam bis itu tidak datang juga, pikirku jangan-jangan bisnya sudah tidak ada jam karena ini sudah terlalu malam. Ujung-ujungnya, aku naik taxi juga. Dan ongkosnya benar-benar lima puluh ribu rupiah. Jika ditambah ongkos taxi patungan tadi berarti total ongkosnya malah jadi enam puluh ribu. Uang yang baru aku ambil dari ATM langsung hilang lagi. Aku lemas menatapi lembar lima puluh ribu terakhir untuk ongkos esok hari.

Hari selanjutnya adalah hari minggu. Kawasan Sudirman pasti ditutup oleh aktivitas car free day. Aku tidak tahu harus lewat mana dan naik apa. Maka aku tidak punya pilihan lain selain memanggil taxi. Sengaja kupilih taxi selain biru agar ongkos lebih murah, tapi ternyata sama saja. Belum lagi ongkos taxinya. Aku sudah cemas sekaligus deg-degan memerhatikan argo yang terus berjalan sekencang laju taxi di dalam tol. Memang sih kami tiba di lokasi tepat waktu, hanya lima belas menit saja dari waktu yang seharusnya satu setengah jam perjalanan. Namun ongkos yang tertera di mesin argo luar biasa: Rp. 79.900 + tol = Rp. 88.000. Uangku kurang!!!!! Aku panik seketika. Sesungguhnya ada mesin ATM BRI di depan Kemenpora, tapi yang jadi masalah adalah saldoku kosong. Badanku panas dingin, sambil tangan sibuk menggali-gali isi tas yang sebenarnya tidak penuh. Detik itu aku berusaha berpikir sejuta cara untuk membayar taxi, tapi justru tidak satu pun ada ide muncul di kepalaku. Di tengah aktivitas menggali-gali palsu itu aku menemukan sebuah harapan. Ada kantong berisi uang perbendaharaan online shop yang sedang kurintis. Ada lembar seratus ribu di sana. Ya Tuhan….. rasanya ingin aku sujud syukur di dalam taxi saat itu juga. Segera kuberikan lembar itu tanpa tambahan. Lalu meluncur ke lokasi acara dengan tepat waktu. Dan jeng…jeng….. tidak satu pun panitia sudah sampai. Perjuanganku untuk tiba di lokasi tepat waktu jadi sia-sia sudah…………………

Aku benar-benar tidak punya uang lagi. Hanya tinggal selembar sepuluh ribu di kantong yang sudah kucal dan tidak memiliki rupa. Makan siang tadi aku pun berhutang pada salah satu panitia, akan kubayar segera setelah ada pemasukan dari kas online shop. Untuk menghemat biaya aku memutuskan untuk ikut teman-teman yang naik kereta, sebelumnya kami nebeng mobil Bang Az sambil rapat-rapat kecil membahas persiapan acara YA & YLF 2015. Kami diberi tumpangan sampai stasiun Sudirman. Aku turut serta, meskipun rumah tante jauh dari stasiun. Tapi setidaknya aku tahu stasiun terdekat dan tahu rute untuk menymbung angkutan umum setelahnya. Aku transit di stasiun Manggarai dan naik kereta lain ke arah Jakarta Kota, lalu turun di stasiun pertama yaitu Cikini. Saat itu jam di tangan sudah menunjukkan pukul 22.30. Tidak menyangka sudah satu setengah jam perjalanan dari Kemenpora dan aku belum juga sampai di rumah. Setelah cukup jauh berjalan dari stasiun ke Cikini, kutunggu Kopaja atau Metromini yang seharusnya lewat, tetapi jalanan sepi sekali, tidak ada satu pun bis yang lewat. Aku sudah deg-degan. Jika malam kemarin aku masih punya harapan untuk memilih taxi setelah tidak kunjung mendapatkan bis yang ditunggu, maka malam ini aku tidak punya pilihan. Beberapa pria yang luntang-lantung di sekitar halte membuatku tidak nyaman karena sahut-menyahut menggoda,

“Assalamu’alaikum, cantik.”,

“Capek banget kayaknya, sayang?”,

“Neng, bis udah nggak ada, abang anter ya,”.

Makin tidak beres sahutan itu. Aku segera berlalu menuju keramaian. Tidak ada pilihan lain selain berjalan kaki menuju Salemba. Walaupun badanku terasa sudah remuk sekali setelah dua hari mengurus acara seleksi, ditambah sedang menstruasi hari pertama yang berimplikasi badanku jadi linu dan nyeri semua, makin parahnya lagi aku rabun senja hingga aku tidak mampu melihat dengan jelas. Kondisi jalan di depan Metropole yang biasanya macet kali ini sepi dan gelap. Tiba-tiba saat ingin melalui jembatan di bawah pohon-pohon besar suasana mendadak jadi mencekam. Tidak ada orang lain yang juga berjalan kaki di depan atau pun di belakangku. Aku tidak mampu melihat dengan baik ke depan. Terbayang isu begal yang sedang marak terjadi di tengah malam di jalanan yang sepi seperti ini. Kuputuskan untuk berhenti di dekat pohon agar tidak terlihat siapa pun, lalu menunggu siapa pun yang lewat. Untungnya, tidak lama kemudian ada seorang mahasiswa sebayaku muncul dari belakang, ia juga berjalan kaki. Seperti dia adalah anak UI Salemba yang berjalan mengarah ke Salemba juga. Aku segera mengekor langkahnya yang tergesa. Tidak terlalu dekat, tapi tidak terlalu jauh. Kami melewati RSCM, YAI UPI, lalu akhirnya UI Salemba. Mahasiswa itu sudah jalan jauh di depan. Jalanan sudah ramai jadi aku sudah merasa aman sekarang. Buru-buru kuseberangi jalan raya saat lampu merah, di situ aku merasa tubuhku melayang sudah, tenagaku sudah hampir habis.

Untuk berapa lama kutunggu angkot 04 arah Rawasari, tapi jalanan sepi. Tidak ada yang lewat. Aku mulai panik. Kuputuskan untuk mampir ke Seven Eleven untuk membeli pembalut sambil terus menatap ke jalan. Tetapi tidak juga ada 04 yang lewat. Tiba-tiba ada sebuah angkot yang lewat ke arah Rawasari, tapi sepertinya bapak itu tidak sedang menunggu penumpang. Segera kudekati Bapak itu dan bertanya mau ke arah mana. Dia bilang mau pulang ke arah Rawasari. Memang rejekiku. Aku meminta ijin untuk ikut dan segera melompat ke dalam, tanpa lagi peduli bila si Bapak ini punya niatan jahat akan membawaku sesukanya. Aku percayakan diriku sepenuhnya. Setelah hampir terkantuk-kantuk, tepat pukul sebelas malam, akhirnya aku tiba di depan gerbang perumahan mlik tante. Rasanya terharu, mungkin ini berlebihan tapi aku benar-benar merasa sedih yang bahagia. Akhirnya setelah perjuangan panjang, aku tiba dan bisa istirahat juga.

Dua hari yang melelahkan sekaligus membahagiakan. Aku sudah punya jawaban atas pertanyaan kritis salah satu peserta itu. Kenapa aku mau bersusah-susah menjadi volunteer tanpa dibayar? Karena dengan melakukannya membuatku bahagia dan merasa berguna. Itu saja.

Untuk para volunteer lain di luar sana, teruslah jalani yang kauyakini. Aku yakin para volunteer di luar sana memiliki kisahnya sendiri-sendiri. Suatu hari nanti perjuangan kita akan menjadi cerita yang membanggakan. Setiap perjuangan akan berbuah pelajaran.

Keep writing, keep sharing!

Nayadini.

 

dari Jejak lalu Luka

Lama tidak memberi warna di blog ini. Saya pikir, setelah lulus kuliah dan memasuki masa (belum) mencari kerja akan menjadi masa-masa paling produktif untuk menulis blog. Ternyata nggak juga. Niat untuk ikut serta #30harimenulissuratcinta yang dimaksudkan agar blog ini menjadi padat berisi juga ternyata hanya menjadi sebatas niat saja. Ke”istiqomah”an itu sudah luluh-lantak di hari kedua kedua dari 30 hari yang disyaratkan ha..ha..ha…
Meskipun sulit meulis blog, alhamdulillah saya tetap menulis (selain menulis racauan berbentuk puisi di akun twitter @Nayadini). Produktifitas menulis saya larikan ke dalam bentuk cerpen proyek-proyek @thesocwriters, meskipun lebih sering maksain orang-orang buat ikutan nulis cerpen sih daripada dirinya sendiri nulis. Well, proyek TSW (biasa kami sebut begitu) yang saat ini sedang digarap ada dua buku, yang pertama antologi berjudul Jejak dan yang kedua berjudul Luka dengan tema tindak kekerasan terhadap perempuan. Jika selama ini saya sering menjelaskan tentang asal-muasal gerakan The Social Writers, kali ini saya akan menjelaskan lebih banyak tentang asal-muasal pemilihan dan perjalanan kedua tema tersebut (tema pertama dulu ya!).

Kedua tema tersebut muncul bersamaan pada akhir bulan Februari 2014. Tepat saat saya terpikir ide untuk melahirkan sebuah gerakan sosial dalam bidang penulisan, called The Social Writers. Antologi Jejak adalah sebuah antologi bertema traveling, berawal dari adventuring yang saya lakukan dalam sebuah rangkaian acara Youth Adventure & Youth Leaders Forum 2014 (info selengkapnya kunjungi http://www.g-mb.org). Perjalanan dilakukan tiga hari dua malam dari Jogja ke Solo (harus mampir ke Purworejo dan Brebes dulu untuk melakukan kegiatan berbagi) dengan hanya uang seratus ribu rupiah. Kebayang nggak sih mau berbagi apa dengan uang hanya seratus ribu, yang buat diri sendiri aja belum tentu cukup? Tapi di situlah saya menemukan hikmah dari Adventure ini. Mungkin juga dirasakan oleh 46 peserta lainnya. Perjalanan selama tiga hari itu membuat saya belajar banyak hal. Yang membuat traveling itu berarti bukan lah destinasi, melainkan peristiwa yang dilalui selama di perjalanan itu sendiri. Kebanyakan kita mungkin hanya melihat foto-foto dari tempat tujuan traveling seseorang, padahal bisa saja pengalaman di perjalanan yang lebih berarti bagi mereka dan itu tidak bisa atau tidak pernah mereka bagi. Oleh karena itu, antologi Jejak ini hadir untuk secara tidak langsung menjelaskan, bahwa proses adalah hal terpenting dari setiap perjalanan. Bahwa ada kisah di setiap langkah yang tercipta.

Saya masih ingat, teman pertama yang saya ajak untuk bergabung di proyek menulis ini adalah Nda (begitu ia ingin disebut). Seorang alumni Jurusan Ilmu Perpustakaan UI angkatan 2006, which is kami satu almamater. Semua cewek yang suka traveling pasti iri sama sosok Ananda Rasulia, saya  lebih tepatnya. Karena Nda menjalani hidup dengan apa yang selama ini saya impikan: makan, jalan-jalan, jajan dibayar. Traveling adalah hobinya, sekaligus mata pencahariannya. OMFG, Nda kerja di sebuah majalah traveling yang ada di Indonesia *nangis kejer di pojokan*. Kebanyakan donatur cerpen yang bergabung di TSW sudah memiliki karyanya sendiri, salah satunya Nda. Bukunya berjudul Pretend ia terbtkan secara self-publishing via nulisbuku.com.

Ada banyak penulis hebat lainnya di TSW selain Nda. Dan tentu saja butuh perjuangan ekstra keras untuk menemukan, mengajak, membujuk, melobi, dan akhirnya mendapatkan donasi cerpen :’) Proses pengumpulan cerpen seharusnya berakhir pada bulan Juni 2014. Target 13 donatur sudah ada di dalam list, tetapi mendekati deadline kebanyakan malah berguguran. Maka deadline pengumpulan cerpen otomatis harus diundur, yang berarti pencetakan kedua buku juga harus diundur. Deadline berkali-kali mundur dan diperpanjang. Hingga Februari 2015 donasi TSW akhirnya genap berjumlah 15 cerpen. Yep, lima belas! Melebihi ekspektasi. Namun ada satu hal yang mengganjal di hati. Saya merasa amat berdosa pada Nda, sebagai donatur cerpen yang paling pertama. Semacam bawa kabur karya orang tanpa royalti hu…hu… You have to read this deepest sorry, Nda. Padahal mungkin aja Nda nggak mikir buruk apa-apa, mengingat dia adalah orang yang woles abis dan pemaaf *perez*.

Kendala dari pengumpulan cerpen adalah itu tadi: tidak adanya komitmen dari calon pendonor. Kalau ada yang bantu, kami senang. Kalau orang tidak jadi bantu, kami bisa apa? Gerakan ini adalah gerakan sosial, yang mana semua dilakukan secara sukarela tanpa paksaan. Maka, kami hanya bisa move on dan mencari mangsa lainnya. 

Saat ini kedua tema sudah memasuki tahap layouting dan ilustrasi cover. Saya tidak pernah sesemangat dan senyaman ini berada dalam sebuah organisasi. Karena ini adalah passion saya dan kunci suksesnya terletak pada keberadaan kedua founder lainnya, Kak Sifa dan Kak Septi. Sebuah gerakan yang bagus hanya dihasilkan oleh tim yang baik. Rencananya, kedua buku sudah siap dicetak pada bulan Maret. I really can’t wait! Buku akan dicetak sendri dan dijual juga secara mandiri. Agar royalti yang disumbangkan nantinya bisa memiliki jumlah yang lumayan.

That’s all. I’m signing out. Bubuy!!


Keep writing, keep sharing 😉

Nayadini