Liburan Ke LN dengan Ikut Program

Saya tidak berasal dari keluarga kaya yang biasa familly holiday ke luar negeri. Buat saya ke luar negeri adalah sebuah kemewahan. Karena saya sangat mencintai travelling dan travelling ke luar membutuhkan biaya tidak sedikit, maka saya cari alternatif dengan mengikuti program-program kepemudaan internasional, seperti Konferensi, Course Program, atau Homestay Program seperti yang baru-baru ini saya ikuti. Jadi, semua orang bisa ke luar negeri, bukan cuma saya!

Saya pernah mengikuti Program Winterkurs di Berlin, Jerman selama kurang lebih empat puluh hari di tahun 2010 dari Goethe Institut yang seluruh biayanya ditanggung oleh pemerintah Jerman, bahkan para delegasi juga mendapatkan Taschengeld (uang saku) sebesar 75 Euro tiap minggunya. Para delegasi tinggal di asrama Goethe Institut yang memiliki fasilitas lengkap seperti ruang bermain, dapur serta ruang makan, laundry, hingga kebun apel alias ruang komputer yang dapat digunakan oleh para delegasi. Jaman itu internet belum seperti sekarang, tidak semua orang memiliki HP pintar, yang memiliki kamera juga hanya sedikit sekali. Bahkan saya sendiri tidak memiliki ketiganya saat itu. Saya hanya menumpang dari HP teman-teman lain dan mendapatkan foto dari Facebook setelah diunggah mereka. Sedih memang, tapi saya senang dapat terbebas dari keterbatasan itu. Bahwa tidak perlu kaya untuk bisa ke luar negeri 🙂

Namun saya juga pernah mengikuti program yang biayanya tidak sepenuhnya ditanggung oleh pengada acara. Seperti misalnya  Youth Leadership Homestay Program 2018 di Sydney, Australia kemarin. Program tersebut diadakan oleh Gerakan Mari Berbagi yang salah satu value-nya adalah Volunteering, jadi semua biaya dipikirkan sendiri tidak ada yang dibayari. Mengapa demikian? Alasannya, kita akan lebih menghargai apa yang kita bayar daripada yang gratis. Saya sangat setuju dengan ini. Selain itu, keterbatasan dipercaya membuat kita menjadi kreatif mendadak. Dan terbukti benar pada saya saat itu. Tiba-tiba muncul ide untuk menjahit ini dan ituuntuk saya jual. Maka Para delegasi mengupayakan sendiri biaya untuk perjalanan mereka ke negara tujuan. Meskipun pada akhirnya saya juga mendapatkan sponsor uang saku dan tiket pesawat gratis pulang-pergi. Biaya hidup selama di Aussie yang sangat memakan biaya itu sudah ditanggung host-fam, saya hanya perlu memikirkan biaya visa dan biaya oleh-oleh hehehe.

Intinya, ada berbagai banyak cara untuk bisa ke luar negeri dan mengikuti program internasional. Tidak perlu bingung jika sudah mendaftar berbagai program tapi tidak kunjung diterima. Sekarang ini ada banyak sekali program go-abroad yang dapat membantumu mewujudkan cita-cita itu. Mungkin banyak juga yang memiliki uang cukup untuk berlibur ke luar negeri, tapi ingin ke luar negeri untuk mengikuti suatu program kepemudaan untuk menambah pengalaman, tidak hanya untuk liburan. Saran saya, daftar saja program-program berbayar, jika tidak punya biaya kamu bisa mencari sponsor untuk membantu mewujudkan mimpi itu. Mencari sponsor itu tidak sulit asal tau strateginya. Informasi yang baik adalah informasi yang tersampaikan, tidak hanya dipublikasikan. Menurut saya, kesempatan baik didapatkan orang bukan karena ia mampu, tetapi karena ia banyak mencari informasi. Nah, informasi mengenai acara-acara internasional dapat kamu akses di internet, beberaa bahkan memiliki website khusus seperti Youth Opportunities misalnya (saat ini baru tersedia app untuk android).

Di dalam negeri sendiri ada juga program kunjungan kebudayaan hingga konferens internasional di luar negeri. Seperti Youth Empower, Studec Indonesia, dan lain-lain. Organizer tersebut umumnya memiliki line official atau WhatsApp yang dapat memberikan kamu update informasi terbaru. Bahkan ada juga pula pilihan negaranya, tentunya biaya diberikan tergantung dari negara yang dituju dan berapa lama program akan berlangsung.

Proses yang dilalui masing-masing orang untuk mengikuti program antar negara mungkin saja berbeda-beda, ada yang bayar sendiri ada juga yang mendapat beasiswa full, tapi hal tersebut tidak membedakan tujuan akhir yang akan didapatkan. Ketika sudah ada di dalam CV, bayar atau tidak berbayar tidak akan dipermasalahkan, yang ditanya adalah apa yang kamu dapatkan dari mengikuti program tersebut. Jangan batasi diri kamu dengan hanya mau mengikuti program yang gratis, karena dengan perjuangan lebih untuk sesuatu, saya selalu yakin cerita yang didapatkan juga akan lebih banyak dari itu. Bayar nggak bayar, nggak jadi masalah sama sekali! Apalagi kalau endingnya kamu dapat sponsor yang meng-cover semua kebutuhanmu selama program di luar negeri. Sama aja beasiswa full kan? 🙂

Siapapun bisa ke luar negeri. Luar negeri itu tidak jauh, tidak mahal. Hanya perlu usaha lebih saja untuk memperjuangkannya. Selamat berjuang untuk kamu semua yang ingin jalan-jalan sambil cari pengalaman! Let’s go abroad!

Australia Youth Leadership Homestay Program 2018

Sebagai perasaan senang saya atas tingginya antusiasme teman-teman yang menanyakan tentang Homestay Program kemarin, saya akan jelaskan secara rinci melalui postingan blog ini. Bagi yang males baca juga bisa tengok Vlog yang akan saya buat nanti, masih mengumpulkan keberanian nih hehehe.

Tanggal 27 Februari 2018 kemarin saya berangkat ke Sydney, Australia bersama tiga orang delegasi lainnya. Kami memiliki latar belakang minat yang berbeda-beda. Saya di bidang pariwisata, Mumu adalah seorang guru, Maizal sebagai Jurnalis, dan ada juga Julian yang merupakan dokter sekaligus PNS. Asal daerah kami juga berbeda-beda. Kami mengikuti program Australian Youth Leadership Homestay Program 2018 yang diadakan oleh Gerakan Mari Berbagi, sebuah Non-Government Organisation yang kini sudah menjadi yayasan. Organisasi ini berfokus kepada pembentukan pemuda untuk berkontribusi di masyarakat dengan tidak memandang perbedaan budaya, suku, maupun agama. Program Homestay ini kurang-lebih adalah reward atas apa yang sudah kami lakukan kepada lingkungan sekitar.

Jadi, program ini prosesnya memang panjang. Homestay Program ini hanya diperuntukkan bagi para alumni Youth Adventure & Youth Leaders Forum yang setiap tahunnya diadakan oleh Gerakan Mari Berbagi. Untuk mengikuti YA & YLF diperlukan proses seleksi yang tidak sedikit, nah untuk Homestay Program kami juga perlu melewati proses seleksi lagi.

Ada tiga negara yang ditawarkan kepada calon delegasi; Jepang, Australia, Belanda. Saya memilih Australia karena saya tidak memiliki alasan untuk tidak memilihnya he..he.. Saya bahkan nggak pernah terpikir akan travelling ke Australia karena apa-apa serba mahal, apalagi Sydney. Ternyata program ini yang mengantarkan saya ke Aussie, benar-benar seperti mimpi.

 

 

Seperti apa Tahap Seleksi Youth Leadership Homestay Program?

Tahap seleksi ada beragam (pertama sekali tentu saja seleksi berkas, baru interview); pertama saya masuk ke post visi-misi. Saya ditanya tentang latar belakang saya dan apa tujuan pergi homestay nanti. Ini bukan travelling lho ya, jadi harus ada goals yang didapat. Karena latar belakang dan minat saya adalah budaya dan pariwisata, maka saya jelaskan bahwa saya ingin mengunjungi komunitas-komunitas berbeda yang tidak ada di Indonesia dan lakukan company visit ke perusahaan travel di Sydney. Yang meng-interview saya saat itu adalah board member kami yang memang asal Sydney; Richard. Ada juga bule lainnya yaitu James. Ada satu GMBers (non-alumni homestay), dan satu lagi Doki (alumni homestay Australia).

Seleksi kedua adalah kontribusi. Apa saja yang sudah saya lakukan baik untuk masyarakat maupun untuk GMB. Seleksi ketiga tentang potential cases, calon delegasi ditanya tentang bagaimana bila nanti harus tinggal di rumah keluarga yang memiliki anjing (bila ia muslim) atau bagaimana bila harus tinggal di rumah pendeta atau pasangan sesama jenis, dsb. Tips: Jawablah jujur dan jadi diri sendiri. Sebelum seleksi interview latihan dulu di depan kaca dan persiapkan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan yang kira-kira akan keluar.

Setelah itu, terpilihlah total 15 delegasi untuk tiga negara. Australia 4 orang, Jepang 6 orang, dan Belanda 5 orang (ending-nya satu orang dari tim Belanda mengundurkan diri karena sudah bekerja dan terikat lembaga).

 

Seperti apa pengalaman Homestay Program selama di Australia?

Saya akan menjadi sangat emosional bila menceritakan soal ini. Benar-benar merasa bersyukur karena saya ditempatkan di rumah Richard (board member GMB asal Australia) yang saya sering panggil Papa, ternyata jadi Papa beneran akhirnya. Saya tidak sendiri dan akan satu rumah dengan Mumu. Sedangkan Maizal dan Julian tinggal di rumah Fred dan Paula.

Richard dan Anne tinggal di daerah sub-urban Hills District, bernama Castle Hill (ada juga Baulkham Hills, dll). Sebuah kawasan sub-urban yang sangat elit karena rumahnya besar-besar. terletak lima puluh menit dari pusat kota Sydney. Saya bahagia sekali dapat tinggal di rumah Richard karena mereka memiliki halaman belakang yang nampak seperti hutan yang terawat. Semua pepohonan itu Richard dan Anne sendiri yang menanam puluhan tahun lalu. Ada food step, box berisi buku bacaan dan alat tulis untuk para cucu, juga ada nama semua cucu terpatri di setiap pohon. Kamar saya memiliki jendela yang menghadap ke halaman belakang. Yang kalau pagi terdengar burung-burung bernyanyian bahkan bertengger di dahan (burung di Australia indah-indah warnanya!). Ada juga corner di rumah Richard yang menjadi teras penghubung ke halaman belakang. Tempat yang sangat cocok untuk bersantai sambil minum teh, baca buku, atau ngobrol. Benar-benar rumah idaman saya!

Yang paling berkesan adalah keluarga Richard yang nampak sempurna di mata saya. Anak yang semuanya sudah menikah (Richard punya 4 anak; Adam, Matthew, Daniel, Bede) dan 12 cucu yang lucu-lucu parah! Saya dan Mumu bahkan sempat menjadi baby sitter untuk empat cucu karena orang tua mereka mau “pacaran”, jadi menitipkan anaknya ke Grandad dan Nanny (ini hal lazim yang biasa terjadi di Australia). Saya bahagia dapat menjadi bagian dari lovely family ini. Mereka semua sangat welcome dan menyenangkan. Rasanya pengin jadi anak adopsi Richard dan Anne dan tinggal di sana terus!

 

Apa saja yang dilakukan selama Homestay Program?

Sebenarnya ini adalah kesempatan bagus untuk magang di perusahaan di Aussie, tapi berhubung magang di Aussie itu suliiiiit nggak seperti di Indonesia, maka saya pikir lebih baik company visit saja. Bosan juga kalau dipikir-pikir harus magang di satu tempat dan melakukan hal yang sama tiap harinya, ketemu orang yang sama tiap harinya. Sayang banget kan apalagi sedang di Sydney! Malah enakan company visit bisa liat perusahaan dan ketemu orang berbeda, bisa memperluas networking juga.

Ada satu perusahaan yang saya idam-idamkan yang sejak lima bulan sebelum sudah saya hubungi untuk magang. Meskipun saya juga melamar magang ke company lain, saya sih target utamanya magang di perusahaan itu, namanya World Expeditions. Monika Molenda, Reservation Manager yang sejak November membantu saya mencarikan posisi untuk intership, sayangnya tidak ada divisi yang membutuhkan tenaga magang. Bisa gitu ya, kalau di Indonesia tawaran tenaga anak magang pasti nggak akan ditolak dan dimaksimalkan. Mengapa saya ngotot untuk kunjungan ke World Expeditions adalah karena visi dan misi perusahaan yang “gue banget”. WE adalah sustainable travel company yang mengadakan trip ke berbagai penjuru dunia, bahkan awalnya bukan keliling Aussie, melainkan Himalaya. Nggak heran suasana kantornya dibuat dengan dekorasi ala Nepal. Bikin jatuh cinta deh pokoknya!

Selain company visit, delegasi juga dianjurkan untuk ocmmunity visit. Khususnya mengunjungi komunitas yang tidak ada di Indonesia, apalagi yang tabu. Seperti komunitas LGBT. Beruntungnya kami saat ke Sydney bertepatan dengan perhelatan LGBT terbesar di Australia, yaitu The Mardi Gras! Sebuah festival LGBT ke 40 tahun sekaligus persemian menikah sesama jenis. Ribuan pengunjung datang dari berbagai penjuru Australia, bahkan ada juga yang dari luar negeri datang khusus ke Sydney untuk ikut merayakan The Mardi Gras. The festival was going wild!

Selain LGBT, kami juga mempelajari tentang masyarakat beragama lain, seperti mengunjungi gereja kristen katolik yang makin hari makin sepi pengunjung. Religiusitas masyarakat Australia kini menurun dan banyak yang memilih untuk tidak beragama. Selain itu saya juga mengunjungi komunitas agama Bahai. Lucunya, di Indonesia ternyata sudah ada komunitasnya, saya malah tahu lebih dulu di Sydney. Saya sengaja mengunjungi temple di hari diadakannya ibadah (seminggu sekali). Saya mengikuti rangkaian ibadah yang hanya berlangsung setengah jam itu. Nggak sia-sia perjalanan dua jam menuju Bahai Temple karena sepulangnya saya justru tak hanya dapat informasi baru, malah dapat banyak sahabat yang asik-asik. Kita ke pantai, kaokean, makan bareng, dll. Seru kan kalau rukun dalam keberagaman.

 

Apa saja pembelajaran yang didapatkan setelah mengikuti Homestay Program?

Cinta. Ini adalah valua pertama yang saya pelajari dari Richard dan Anne. Hingga usianya yang kini 70 tahun (Anne 66 th), mereka berdua masih sangat romantis. Saya selalu merasa kagum dengan bule-bule yang mau menikah dan membina rumah tangga, apalagi sampai punya anak-cucu. Apa resep keharmonisan Richard dan Anne? Baca ulasan lebih lengkapnya di sini.

Pola Asuh. Anak-anak Richard semuanya telah menjadi orang sukses dan memiliki keluarga yang harmonis juga. Saya belajar banyak dari pola asuh yang diterapkan oleh Richard dan Anne dalam mendidik dan membesarkan anak-anak mereka. Daniel, satu-satunya anak perempuan mereka, memilih untuk bekerja setelah lulus SMA. Ia tidak mau kuliah, namun Richard dan Anne tidak memaksakan kehendak mereka dan memberikan kebebasan kepada Daniel asalkan ia dapat menanggung resikonya dan sadar atas pilihan yang diambil. Terlepas dari itu, Richard dan Anne akan selalu mendukung keputusan apapun yang diambil oleh anak-anaknya. Duh, senangnya!

Toleransi. Tidak hanya kepada beda agama, tapi juga suku. Bisa bayangkan apa jadinya kalau warga Australia membenci orang kulit hitam, sedangkan penduduk asli Australia sendiri aslinya adalah Aborigin yang berkulit gelap? Teman-teman saya yang beragam Bahai pun mengaku tidak pernah mendapat tindak diskriminasi dari orang-orang beragama lain, karena agama merupakan hal yang bersifat pribadi dan privasi. Meskipun ada juga warga Aussie yang masih rasis, namun jumlahnya sangatlah kecil. Saya kemudian menemukan titik perbedaan itu, bukan bermaksud membandingkan, tapi kita harus membuka mata dan banyak belajar dari negara lain, khususnya negara maju. Cara paling jelas untuk bisa menjadi masyarakat seperti di negara maju adalah berpikiran yang juga maju, alias terbuka terhadap perbedaan dan hal baru.

Disiplin. Satu pengalaman yang sering kali membuat saya malu ketika mengatakan dari Indonesia adalah budaya telat. Orang-orang Aussie sangat mengenal Indonesia sebagai masyarakat dengan penganut jam karet. Bahkan pesawat saja sering ngaret! Selain itu, orang juga terbiasa mengantre, meskipun masih lebih jauh rapi orang Jepang, tapi ini pun sudah cukup membuat saya takjub. Khususnya antrean bis. Haltenya kecil, antriannya mengekor panjang sampai bermeter-meter dan mereka tertib. Buang sampah juga bagian dari disiplinnya orang-orang Aussie. Akhir-akhir ini mereka membuat campaign, “Don’t be a tosser!” buat orang-orang yang suka buang sampah sembarangan.

Itu dulu rangkuman kegitan Homestay Program saya selama di Aussie kemarin. Intinya, saya merasa bersyukur dan beruntung dapat mengikuti program ini. Sebuah keputusan terbaik yang pernah saya ambil dalam hidup saya. Pengalaman-pengalaman yang saya dapatkan luar biasa, pastinya tidak akan saya dapatkan kalau kunjungan saya ke Sydney hanya untuk travelling saja dan bukan untuk Homestay Program ini. Semoga dapat bermanfaat untuk teman-teman semua.

See ya!

 

Nay.

 

 

 

Gunung Latimojong: Terbaik!

Cuaca buruk akhir-akhir ini tentu saja sangat berpengaruh di gunung. Beberapa gunung ditutup dengan alasan keamanan, agar tidak ada pendakian karena hujan dan badai mampu menumbangkan pohon, menimbulkan kabut yang berakibat ke jarak pandang, dan membuat trek licin tentunya. Akhir tahun dengan musim penghujan bukanlah waktu yang cocok untuk melakukan pendakian, memang.

Di sisi lain, Latimojong kerap “memanggil-manggil” saya. Hati saya malah mengatakan bahwa ini adalah waktu yang tepat untuk mendaki Latimojong! Seperti kata pepatah, mountain is calling and I must go (serius, saya kalau naik gunung nunggu “dipanggil” dulu).

Saya join dengan grup backpacker dari beberapa kota. Jumlah kami berduabelas. Menjelang hari H, akun-akun gunung di Instagram mulai memberitakan info-info bencana maupun kecelakaan. Seorang teman pendaki perempuan yang saya kenal bahkan dikabarkan meninggal di Gunung Binaiya, ia tertimpa batang pohon (atau ranting, entahlah simpang siur beritanya) tepat di kepalanya. Group WhatsApp dibuat, seorang teman di group rajin meng-update cuaca di Enrekang bersumber dari sanak familinya yang tinggal di sana, seorang lainnya rajin mengirimkan forecast cuaca Gunung Latimojong. Aduh, aduh, malah bikin panik!

Saya sengaja tiba lebih awal di Makassar untuk berkeliling, khususnya untuk berkunjung ke Perpustakaan Katakerja baca di sini. Namun ternyata Makassar diguyur hujan setiap hari, siang dan malam. Duhhhhhh!

Terus terang, baru kali ini saya deg-degan menjelang pendakian. Tidak mungkin dibatalkan karena semua telah dipersiapkan dan tiket sudah di tangan. Saat tiba di Makassar, saya kerap membatin ulang, apa saya mengundurkan diri dari tim dan batal mendaki saja ya? Tapi sudah kepalang. Terlalu mubazir.

Tidak henti-hentinya saya meminta restu kepada ibu untuk mendoakan agar Latimojong tidak hujan saat kami kunjungi. Kalau saja ibu saya melarang untuk pergi, maka saya tidak akan pergi. Tapi yang terjadi malah sebaliknya, ia dengan mudah mengijinkan saya pergi kali ini. Pertanda yang bagus, batin saya. Saya berdoa tidak henti, selebihnya biar Tuhan yang mengatur.

Hari H tiba, pendakian kami berjumlah dua hari satu malam, lebih cepat dari pendakian pada umumnya yang tiga hari dua malam. Pendakian dimulai dari Desa Karangan, kami bermalam dulu di rumah kepala desa yang sampai pulang tidak saya ketahui seperti apa wajahnya ha..ha.. Flash tip: Biasanya akan disiapkan sarapan dengan menu sarden dan telur. Sebaiknya minta juga untuk dibungkuskan nasi sebagai bekal yang bisa dimakan di Pos 2.

Lagi-lagi jadi cewek sendiri

Awal Pendakian

Belanja-belanji dulu di Pasar Baraka. Di sini juga kami turun dari travel yang mengantar dari Makassar selama tujuh jam (sila hubungi saya untuk kontaknya). Kemudian lanjut naik Jeep hingga Desa Karangan. Terjadi perbaikan jalan dengan banyak traktor parkir di jalan yang sempit, sehingga kami harus turun Jeep dan lanjut berjalan kaki menuju Desa Karangan dengan jarak kurang lebih 2 km dan tanpa penerangan.

Kondisi Antar Pos

Gunung Latimojong memiliki total tujuh pos, tanpa pos bayangan. Agar lebih mudah, saya membuat intisari untuk mendeskripsikan kondisi pendakian antar pos Gunung Latimojong.

Pohon Kopi Latimojong. Kopi bisa dibeli di warga sekitar, harganya Rp.25.000/250 gram.

 

Pos 1 – Pos 2: Pendaki akan melewati pohon-pohon kopi dan akan mulai memasuki hutan. Trek lumayan vertikal. Duh, baru di awal saja sudah curam bagaimana di akhir? Ha…ha… Tapi nervous terbayar karena suasana indah Pos 2; goa & air terjun yang tidak tinggi tapi deras! Maksi (makan siang) dulu….

Pos 2 – Pos 3: Ini yang paling sulit (katanya). Jarang akar dengan kontur tanah merah dan licin, sehingga di beberapa titik terdapat rotan yang dapat dipegang sebagai bantuan (seperti Tanjakan Setan, Gunung Gede). Flash tip: sebaiknya siapkan tali webbing untuk membantu teman-teman rombongan, karena simpul rotan yang ada suatu waktu bisa saja terlepas atau putus.

Pos 3 – Pos 4: Sebenarnya tidak securam pos sebelumnya, namun terasa sangat menyiksa, mungkin karena tenaga kita sudah terkuras di pos sebelumnya. Kaki saya sendiri bergetar saat melalui pos ini karena kelelahan, ternyata saya nggak sendiri, Bang Anchu, teman yang jalan di depan saya, mengaku merasakan hal yang sama.

Pos 4 – Pos 5: Posisi sudah mulai tinggi, pemandangan Enrekang sudah dapat terlihat dari bibir hutan.  Hari sudah mulai gelap saat kami melalui trek ini.

Pos 5 – Pos 6: Adalah awal pos menuju summit kalau ingin bermalam di Pos 5. Jalur lumayan sempit dan tinggi.

Pos 6 – Pos 7: Pendaki akan menemukan Hutan Lumut yang fenomenal itu. Selanjutnya adalah batas vegetasi penghabisan hutan di pinggir jurang.

Pos 7 – Puncak Rante Mario: Ada enam bukit yang harus dilewati setelah tiba di padang rumput dengan batuan granit berwarna putih persis marmer. Ada juga jalur menuju Puncak Nenemori (Latimojong memiliki beberapa puncak, Puncak Rante Mario adalah yang paling tinggi).

 

Selalu lupa mau foto tenda. Ini juga foto seadanya punya Bang Andra (in frame: Bang Octa)

 

Rencana awalnya, kami berniat untuk mendirikan tenda dan bermalam di Pos 7, namun kondisi tim tidak memungkinkan sehingga kami pun bermalam di Pos 5. Basecamp Pos 5 enak, lahannya luas muat sekitar 15 tenda, banyak pohon sehingga mudah untuk menggunakan flysheet, juga ada sumber mata air yang meskipun jaraknya hanya 150 meter tapi trek lumayan bikin dengkul gemeter ha…ha…

Ingat apa yang saya khawatirkan di pendakian kali ini? Yak, hujan! Ajaibnya, selama pendakian tidak turun hujan sama sekali! Saya senang bukan kepalang. Barangkali itu juga berkat doa ibu yang tidak putus-putus. Saya selalu percaya kekuatan doa, karena menurut ajaran agama Islam, kan doa adalah senjata kaum muslimin *mendadak religius* *subhanallah*.

Saat di puncak memang kami terkena badai angin, tapi hujan yang kami rasakan pun hanya hujan kabut. Jadi, tidak bisa dihitung sebagai hujan. Seturunnya dari Rante Mario pun cuaca menjadi sangat-sangat-sangat cerah. Terlihat betapa cantiknya padang hijau di awal Pos 7, meskipun nggak secantik Cemoro Sewu, Gunung Lawu.

We made it!

 

Akhir Pendakian

Kami turun dari Pos 5 tepat jam 6 sore. Di akhir pendakian, tim akhirnya terpecah-pecah menjadi beberapa rombongan. Kekurangan dari pendakian bersama orang baru yang belum kamu kenal adalah ketidaksamaan ritme jalan. Bukan sombong, tapi bagi saya dan Bayu ritme jalan yang pelan dengan banyak berhenti itu lebih menguras energi apalagi saat turun gunung. Saya dan Bayu berniat untuk memisahkan diri dari tim di trek Pos 2 ke Pos 1, memang sudah terlalu terlambat, tapi kami mempertimbangkan letak basecamp yang masih jauh sementara saat itu sudah pukul 11 malam dengan kondisi perut yang kosong dan kaki sudah lelah. Kalau mau egois, bisa saja kami turun duluan sejak awal untuk memisahkan diri dan sudah tiba di basecamp jam 10 malam. Namun kami menghargai kebersamaan tim dan menjaga perasaan dua orang teman yang tidak fit saat itu. Tapi akhirnya, tenaga kami pun habis karena cara jalan yang dipilih menurut kami kurang efektif. Oleh karena itu, saya dan Bayu akhirnya meminta ijin untuk jalan duluan dan terpisah di Pos 2 ke Pos 1.

Bang Aryo sudah turun dari Pos 5 pukul 4 sore untuk mengabarkan Jeep yang kami pesan bahwa kepulangan diundur menjadi besok pagi, jadi dia pasti sudah sampai di basecamp. Tepat pukul 1 malam, saya dan Bayu tiba di basecamp, disambut oleh gongonggan para anjing piaraan yang dimiliki setiap rumah. Ramainya bukan main haha!

Sesuai prediksi kami, pasti akan ada bagian dari rombongan yang merasa lelah, bosan, lalu memutuskan untuk duluan. Terbukti, Bang Anchu dan Bang Ajieb menyusul kami setengah jam kemudian. Mereka pun ngebut karena diamanahkan untuk mencari ojek menjemput dua orang teman kami, atau tim SAR untuk evakuasi, atau apa sajalah (untungnya tim kami memiliki HT untuk berkomunikasi). Bagaimana mencari bantuan di malam selarut ini??? Akhirnya, sisa rombongan baru tiba di basecamp pada pukul 5 pagi saat saya sudah terlelap di balik hangatnya sleeping bag, jadi nggak lihat kapan mereka datang.

Ke simpulan, pendakian kali ini adalah yang paling tidak terorganisir selama yang pernah saya alami. Terlebih lagi soal makan, agak terkejut juga ending-nya jadi saya yang masak padahal beberapa orang membawa nesting dan kompor sendiri (nasib jadi cewek satu-satunya). Sebenarnya tidak apa-apa saya yang masak (maklum biasanya naik gunung malah cowok-cowok yang masak, jago-jago pula mereka), hanya saja semua akan lebih baik bila dipersiapkan sejak awal dengan matang, tau gitu saya sudah memikirkan dan menyiapkan menu dari rumah. Akibatnya, bahan makanan yang kami bawa sangat standar, bahkan berkali-kali tim masak mie. Duh…………… hari gini naik gunung masih makan mie? Baru kali ini naik gunung nggak makan enak hu…hu…. Padahal kan makanan jadi satu-satunya sumber energi untuk mendaki sehingga harusnya bisa memenuhi gizi dan nggak sembarangan. Hiks! Kangen tim yang biasa naik gunung bareng dan makan lezat!

Bang Rafif – Bang Aldy – Bang Ajieb – Bang Aryo – Bayu – Naya (urutan melingkar dari kiri)

 

Soal itinerary dan persiapan boleh mengecewakan, namun faktor alam untungnya berkata lain. Gunung Latimojong sangat baik! Cuaca sangat baik, tidak hujan tapi tidak panas! Tuhan sangat baik! Fixed, Latimojong menjadi salah satu gunung favorit saya. Alamnya indah, airnya banyak, goa yang cantik, hutan lumut, kebun kopi, Burung Anoa, semuanya! Saya nggak masalah untuk balik lagi ke Latimojong, terasa belum afdol karena belum mengunjungi puncak lainnya yang ada di Latimojong, pasti dari sana bisa melihat keindahan Enrekang dari sisi lainnya.

Terima kasih banyak, Latimojong! Terima kasih sudah menjadi penutup manis tahun 2017!

 

Meet Aan Mansyur at The Library: Berkunjung ke Katakerja


Meet Me at The Library
adalah tagline yang tepat untuk perjumpaan saya dengan Aan Mansyur, penulis idola saya, ketika berkunjung ke Perpustakaan Katakerja.

Ruang Tamu Katakerja

Setelah bertahun-tahun memimpikan berkunjung ke perpustakaan itu, akhirnya kali ini saya berkesempatan balik lagi ke Makassar dan tentu saja menyempatkan mampir ke Katakerja. Berhubung tempat-tempat mainstream sudah saya kunjungi di trip sebelumnya, jadi Katakerja dapat menjadi pilihan kalau ingin jalan-jalan anti-mainstream di Makassar.

A reading man always looks sexy

 

Apa yang membuatnya menjadi terkenal? Rasanya satu nama besar Aan Mansyur adalah yang paling berpengaruh. Titik baliknya mungkin setelah lahirnya buku Tidak Ada New York Hari Ini (buku puisi-puisi Rangga dalam AADC2), tapi saya menjadi pengagum beliau jauh-jauh-jauh sebelum itu. Dan buku itu justru jadi buku yang paling saya kurang suka dari seorang Aan Mansyur.

 

Salah satu sudut Katakerja

 

Letak Katakerja dekat dengan Pintu II Kampus Universitas Hasanudin (UNHAS), hanya sepuluh menit berjalan kaki dari Jalan Raya Perintis Kemerdekaan. Letaknya di perumahan dan tidak mencolok, jadi itu yang membuat saya nyasar. Iya, saya tersasar! Alamat yang ada di link bio Instagram @katakerja sepertinya salah input, karena berbeda dengan yang ada di Google. Singkat cerita, tibalah saya di Perpustakaan Katakerja. Dari luar terlihat seperti rumah biasa. Namun ruang tamunya penuh buku dengan dinding berisi kalender berbentuk foto-foto polaroid yang ditempel berurutan (saya ingat ini didapatkan oleh Kak Aan saat dia berkunjung ke Frankfurt Book Fair di Jerman). Ada beberapa rak -yang entah bagaimana cara penyusunannya karena saya tidak melihat ada label rak pada setiap buku- berisi buku novel, sastra, sejarah, psikologi, populer, religi, biografi, dan masih banyak lagi. Ada juga rak khusus Buku Rekomendasi Pustakawan Bulan Ini. Saking ada banyaknya buku, saya sampai tidak membaca buku apapun. Justru lebih tertarik memerhatikan gerak-gerik para pustakawan dan pengunjung yang datang. Merekapun sangat welcome, seolah-olah saya sudah sering berkunjung ke sana.

 

 

Saya disambut oleh seorang perempuan yang berhijab, cantik, dan ramah, Viny namanya. Ia adalah salah satu pustakawan Katakerja, mahasiswi Komunikasi UNHAS. Rupanya ia adalah salah satu penulis Ruang Baca, blog milik Katakerja. Selain Viny, Ada Saleh, mahasiswa Antropologi UNHAS yang sedang men-design sesuatu dengan laptop-nya. Mereka berdua duduk di meja rendah di aalah satu sudut Katakerja.

 

Ale (Saleh) – Viny – Me

Saya beruntung karena siang itu dapat bertemu langsung dengan Kak Arki, Ketua Perpustakaan. Saya juga bertemu dengan idola saya, Kak Aan Mansyur. Saya salah tingkah sampai jadi speechless, sekaligus jaim karena menahan malu. Terbayang di otak saya, Kak Aan bersedia membuat waktu untuk kami mengobrol banyak hal. Namun jangankan ngobrol, menyapa saja saya malu. Kak Aan pun terlihat calm dan cool. Bukan tidak ramah, mungkin lebih tepat bila dikatakan tidak “ngartis”. Dan mungkin karena sedang ada yang diurus, sehingga harus bolak-balik keluar (Semoga lancar sampai hari h, Kak! 😊💔). Malah Viny yang meminta Kak Aan untuk berfoto dengan saya ketika saya ingin pulang (terima kasih sudah menyuarakan isi hati saya, Vin!). Anyway, foto bareng aja saya salting! 😝

With Kak Aan Mansyur ❤ (Viny: “deketan lagi dong”)

 

Selain Katakerja, masih ada dua perpustakaan yang bisa dikunjungi di Makassar dan letaknya tidak begitu jauh dari Katakerja hanya berbeda blok; Dialektika Coffee (@dialektika_coffee) dan Kedai Buku Jenny (@kedaibukujenny). Ketiganya sering mengadakan acara diskusi buku, baca puisi, acara dengan anak-anak, bahkan Katakerja bekerjasama dengan pemerintah setempat untuk berkolaborasi menggiatkan minat baca masyarakat di sekitar, karena pengunjung Katakerja justru lebih banyak berasal dari daerah jauh di Makassar dan atau luar kota (saya contohnya). TOP!

Viny sang pustakawan yang ramah nan baik hati

Katakerja bahkan sering jadi tempat menginap bagi backpackers yang berkunjung ke Makassar, khususnya pecinta buku. Simpulannya, dunia literasi di Makassar semakin luas dan membuat saya kagum, penulis-penulis Makassar semakin bermunculan, Makassar Writers Festival sudah memasuki tahun ketujuh, dan jumlah perpustajaan yang semakin banyak membuat saya senang untuk berkunjung lagi dan lagi ke Makassar. Semoga jadi penyemangat bagi saya untuk terus aktif dalam dunia literasi, khususnya menulis buku (yang selalu menjadi wacana pribadi 😝).

 

Katakerja

BTN Wesabbe Blok C/64, Tamalanrea, Kota Makassar, Sulawesi Selatan

Open hour: 08.00 am – 11.00 pm

Intagram: @katakerja

 

ps: Saya menginap di hotel daerah Pantai Losari dan menggunakan Go-jek untuk ke Katakerja (14km). Cukup masukkan keyword Katakerja jika ingin memesan Go-jek dan pastikan lokasinua dekat UNHAS.

Destinasi Wajib Liburan di Belitung

Dikarenakan kamera ketinggalan, memori HP sangat minim untuk recording, dan action camera entah di mana, alhasil balik lagi mendokumentasikan perjalanannya via tulisan aja di blog ini huehehehe. Ada aja cobaannya kalau mau mulai bikin vlog, mungkin belum waktunya (sorry, guys :P).

Homestay-ku hanya 10 menit berjalan kaki dari Pantai Tanjung Tinggi,  jadi dalam sehari bisa bolak-balik ke pantai tiga kali :p

 

Pasti udah banyak yang sering bolak-balik liburan ke Belitung. Kenapa Belitung bisa jadi pilihan tepat untuk berlibur khususnya bagi yang tinggal di Jakarta? Karena tiket pesawatnya murah kalau dibeli dari jauh-jauh hari. Bisa Rp.500 ribu pulang-pergi dengan maskapai seperti Sriwijaya Air atau NAM Air. Alasan kedua, destinasi wisatanya ada banyak banget dari mulai laut hingga kota. Oke sekarang kita bahas lebih detail untuk poin kedua ini. Ke Belitung tuh jalan-jalannya ke mana aja sih?

1.Island Hopping

Who doesn’t love beach? Apalagi kalau pantainya sebersih, sejernih, dan secantik Belitung. Secara umum, Belitung terbagi jadi dua wilayah, yaitu Belitung Barat dan Belitung Timur. Pantai-pantai yang cantik ini letaknya di Belitung Barat. Ada banyak banget pulau yang bisa kamu kunjungi kalau ke Belitung.

Untuk melakukan Island Hopping di Belitung, bahkan satu hari pun cukup. Kalau cuacanya lagi bagus, kira-kira bisa 6-7 pulau yang kamu kunjungi. Tapi kalau cuacanya lagi buruk, jangan harap deh bisa mengunjungi lebih dari 3 pulau (Flash tip: sebaiknya jangan kunjungi Belitung menjelang akhir tahun). Nggak main-main, ombaknya gede dan tinggi banget sampai bisa masuk ke dalam kapal dan membuat basah semua penumpang. Saya pernah mengalami hal itu waktu lagi bawa tamu lansia (yang sosialita) waktu island hopping di Belitung. Semua histeris dan komat-kamit berpikir bahwa akan meenemui ajalnya di situ. Saya dan awak kapal malah teriak-teriak senang kalau ada ombak besar datang menghantam hahahaha (awas kualat lu!).

Pulau apa aja sih yang biasa dikunjungi oleh wisatawan?

Pulau Kelayang

Yang terkenal dari pulau ini adalah goanya, yaitu Goa Kelayang. Dari foto maupun vlog para travelblogger, biasanya pasti ada spot foto di bawah ini. Nah, saya kira yang dimaksud Goa Kelayang adalah yang itu, celah di antara batu-batu pelangi. Ternyata bukan, goanya adalah literally goa, tempat para kelelawar bersarang. Nggak banyak yang tau, biasanya hanya warga lokal atau wisatawan yang penasaran. Saya pun mengunjungi goa tersebut dengan Om Alpian, penduduk asli Belitung yang tinggal di Jakarta. Biasanya dia akan mampir ke sini kalau lagi pulang ke Belitung. Untuk ngecek apakah para kelelewar itu masih terjaga habitatnya.

Nggak mudah buat sampai di goa itu, kita harus turun-naik batu besar yang licin, lembab, dan gelap. Kira-kira butuh waktu sepuluh menit untuk akhirnya bisa tiba di goa. Benar aja, ada banyak sekali kelelelawar di sana-sini. Sayangnya, kata Om Alpian, jumlah itu ternyata nggak sebanyak waktu dulu, bisa terlihat jelas dari jumlah sarangnya yang sudah berkurang banyak. Banyak wisatawan usil yang membawa sarang kelelawar bahkan yang masih ada bayi kelelawar di dalamnya. Duh, tolong ya, kalau mengunjungi tempat wisata itu jangan mengambil apapun selain foto (itupun harus lihat kondisi, saya sama sekali nggak foto atau merekam Goa Kelayang karena menghormati para kelelawar yang tinggal di sana).

Spot hits yang mungkin sering muncul di sosial mediamu. Iya atau iya?

Pulau Kepayang

Yang ini adalah pulau fenomenal. Di sana ada restoran yang mahal banget harga makanannya. Untuk satu orang kamu bisa kena ongkos makan seharga Rp.50 ribu untuk menu makanan yang seadanya. Setelah makan, bisa jadi kamu diminta lagi “ongkos duduk” seharga Rp.15 ribu. Duh, sekarang mau duduk aja bayar! Jadi, jangan seenaknya beli-beli makanan ya kalau lagi Island Hopping di Belitung khususnya di Pulau Kepayang. Tanya dulu harganya dan pastikan nggak ada biaya tambahan.

Pulau Burung

Sebenarnya ada dua pulau yang bernama Burung. Alasannya, simpel karena bentuk batu-batunya mirip burung. Biasanya disebut juga Burung Garuda dan yang satu lagi disebut Burung Mandi. Kamu bisa mampir kalau ingin foto-foto. Karena sudah terlalu kenyang dengan foto-foto, saya nggak mampir cuma lihat dari jauh aja.

Pulau Batu Berlayar

Samaaaaaaaa! Isinya ya batu-batu besar yang biasa dikunjungi untuk foto-foto. Udahan ah foto-fotonya mau cepet-cepet minum kelapa di Pulau Lengkuas!

Pulau Lengkuas

Ini dia pulau yang paling gampang diinget dan wajib dikunjungi, karena ada  mercusuar putih yang menjadi ikon dari pulau di Belitung. Mercusuar ini adalah buatan Belanda yang dibangun pada tahun 1882 guna untuk mengamati kapal yang mondar-mandir di Belitung. Pertama kali dengar, saya curiga kenapa dinamakan Lengkuas. Apakah karena bentuk pulaunya mirip lengkuas? Memang bentuk lengkuas kayak gimana coba? Atau banyak budidaya lengkuas?

Ternyata karena asal mulanya saat jaman Belanda, pulau ini dinamakan Pulau Lighthouse yang berarti Mercusuar. Namun seiring dengan pelafalan warga lokal, kata Lighthouse diserap dan berubah menjadi Lengkuas (?). That’s what happened he..he..

Di pulau ini kamu juga bisa jajan mie cup, minum kelapa, pasang hammock, dan lagi-lagi, foto-foto bersama batu-batu besar.

Pulau Leebong

Nggak banyak orang pernah mampir ke pulau ini, karena nggak akan cukup waktu sejam-dua jam buat mengunjungi pulau ini. Dengan kata lain, ada banyak sekali hal fasilitas dan kenyamanan yang ditawarkan oleh pulau ini seperti jembatan panjang menuju dermaga, sepeda untuk berkeliling, hammock, vila, penginapan, watersport, dan Hutan Mangrove. Malah banyak juga tour & travel yang menawarkan paketan trip 3 hari 2 malam khusus hanya untuk menginap di pulau ini. Pulaunya sepi, cantik, dan luas. Cocok buat yang pengin cari pantai tenang di Belitung, khususnya yang nggak banyak orang foto-fotonya karena nggak ada batu-batu besar ha..ha..

Daaaan masih banyak pulau lainnya yang nggak bisa disebutin semuanya sekaligus. Mostly, jasa tour & travel pasti mengunjungi pulau-pulau yang udah saya sebutin tadi. Yuk, kita lanjut ke wisata lainnya di Belitung!

 

2. SD Replika Laskar Pelangi

Setelah kenyang menikmati pulau-pulau cantik di Belitung Barat, mari kita beralih ke Belitung Timur, tempat di mana terdapat wisata seperti SD Replika Laskar Pelangi. Flash tip: tetap gunakan sunblock meskipun kamu tidak ke pantai, karena Belitung Timur sangat panas. Tahu apa yang membuat Belitung Timur sangat panas? Adalah karena Belitung Timur adalah pusat penambangan timah. Jadi bukan karena panas matahari, melainkan panas kawasan industri.

Kenapa dinamakan Replika? Karena bangunan sekolah asli yang dipakai shooting sudah dirobohkan, dulu shooting-nya di Pantai Tanjung Tinggi, tempat batu-batu besar yang nggak perlu nyebrang pulau, tepatnya di Belitung Barat tentu saja. Bangunan yang sama kemudian dibuat agar orang-orang dapat merasakan langsung seperti apa kondisi SD Gantong yang hampir roboh itu. Isi kelasnya pun lengkap dengan papan tulis, meja, kursi, bendera, dan foto-foto pahlawan seperti di film.

Pas lagi seru-serunya main sama Ariel dan Putri, tau-tau rombongan kru Trans TV dateng mau syuting reality show Katakan Putus.

……..

Here? I mean, like………………

Oke, sip.

 

 

Ticket Price: Rp.3.000/orang

 

3. Kampung Ahok

Ada pengalaman lucu yang terjadi saat saya bawa rombongan Kakek-Nenek ke sini, mereka yang sangat anti-Ahok memutuskan untuk tidak turun dan marah-marah minta ke tempat lain saja. Padahal bukan itu poin yang kami tawarkan sebagai travel organizer, melainkan pemahaman bagaimana sosok Ahok secara tidak langsung mampu menyokong local communities yang jadi punya penghasilan dengan membuat kerajinan tangan dan penganan khas. Hal ini tentu jadi pembelajaran untuk kita bahwa upaya untuk mendukung UKM bisa dalam wujud apa saja, agar dapat menggerakkan atau berkontribusi untuk ekonomi setempat.

Setelah melihat-lihat souvenir khas Ahok, kamu juga bisa mampir ke rumah Pak Ahok yang boleh dimasuki halamannya, seperti terbuka lebar untuk siapa saja yang mau singgah. Rumahnya cukup besar, tapi saya nggak foto karena para tamu sudah “esmosi” untuk segera berpindah tempat.

Beberapa hasil karya warga setempat yang dijual

Ticket price: Free

 

4. Museum Kata Andrea Hirata

Siapa yang nggak kenal sama tempat yang satu ini? Bangunan warna-warni yang sangat sayang kalau dilewatkan buat nggak foto-foto. Di dalam museum ini ada banyak lukisan karya Andrea Hirata, juga banyak quotes beliau yang dibuat menjadi pajangan. Menariknya, untuk masuk, pengunjung harus bayar Rp.50 ribu. Awalnya warga setempat protes dengan biaya yang dirasakan cukup mahal, tapi pengelola bersikeras mengatakan bahwa dengan harga segitu pengunjung sudah mendapatkan buku karya Andrea Hirata. Permasalahannya, bagaimana kalau kita sudah punya bukunya?

 

Tikcet price: Rp. 50.000/orang

5. Rumah Keong

Ini adalah wisata baru bikinan pemerintah setempat yang letaknya tepat di depan SD Replika Laskar Pelangi. Sebenarnya nggak ada apa-apa selain anyaman rotan berbentuk keong ukuran jumbo dan bisa dimasuki dan ada juga dermaga dengan kapal-kapal untuk berkeliling.

Rumah Keong yang cucok buat main petak umpet :p

 

Dermaga di samping Rumah Keong

Ticket price: Rp. 5.000/orang

 

6. Danau Kaolin

Wisata ini letaknya di pinggir jalan, jadi pasti ngelewatin kalau dari Bandara mau ke Belitung Barat tempat pantai-pantai cantik berada. Oya, sekarang udah nggak bsiamasuk karena katanya ada pemuda yang tenggelam dan meninggal di danau, jadi kamu cuma boleh foto di luar pagar. Ternyata nggak begitu sama dengan Danau Cigaru di Tangerang. Yang di Belitung airnya lebih hijau tosca, sedangkan milik Cigaru berwarna biru bening. Saya sudah pernah tulis seperti apa Telaga Biru Cigaru, baca di sini. Kira-kira, bagusan mana sama Telaga Biru Cigaru punya Tangerang? :p

Ticket Price: Free

 

7. Kopi Kong Djie

Terus terang, saya senang berburu kopi kalau lagi travelling. Menikmati kopi dari tiap daerah adalah bagian dari mengenal budaya mereka. Melalui kopi itu, kita bisa sedikit melihat dan menerka kira-kira seperti apa kepribadian warga lokal (nah lho, maksudnya gimana yak?). Kopi Kog Djie adalah yang paling terkenal di Belitung dan sudah franchise di mana-mana di Belitung. Warung kopinya yang pertama justru sangat kecil dan terletak di pinggir jalan di daerah Belitung Timur. Saya beberapa kali mampir ke Warung Kopi Kong Djie. Terus terang, saya pecinta kopi hitam dan paling nggak bisa minum kopi susu. Saya pikir itu hanya berlaku untuk kopi saset, maka saya sok-sokan pesan Kopi Susu Kong Djie yang katanya juga nggak kalah enak. Jeng jeng… setelah itu saya muntah-muntah saudara-saudara. Padahal kopinya memang benar enak! Memang dasar perut saya yang picky dan sukanya yang ekstrim-ekstrim.

Ini tersangkanya (kopi susu), harganya murah hanya Rp.10 ribu saja. Sedangkan kopi hitam hanya RP.8 ribu.

 

8. Wisata Kuliner Khas Belitung: Mie Atep

Di dekat tugu Batu Satam (batu khas Belitung yang biasa dipakai buat cincin batu, bapak-bapak pasti tau nih), terletak kedai pelopor Mie Atep khas Belitung. Mie ini sangat legendaris, sampai-sampai orang-orang terkenal dari mulai artis, mantan presiden, tokoh politik, dan lainnya pasti makan di sini kalau berkunjung ke Belitung (ada fotonya di dinding). Rasanya enak bangettttttttt tapi sayang porsinya terlalu sedikit (dasar kang makan!). Banyak yang bilang katanya Mie Atep ini nggak halal. Waktu saya laporan sama ibu saya setelah makan Mie Atep ini, ibu saya bilang ini nggak halal. Untung udah abis, kan kalau nggak tau nggak apa-apa :p

Jangan lupa pesan juga minuman khas Belitung, Es Jeruk Kunci. Semacam es jeruk yang dicampur dengan buah berwarna oranye yang dikeringkan, lalu dicampur dengan es jeruk manis sehingga nanti warnanya akan berubah menjadi oranye atau kuning. Saya sampai mual karena sehari bisa minum ini tiga kali untuk menetralisir panasnya cuaca Belitung. Tapi enak kok dan harganya murah hanya Rp. 3 ribu!

Sepiring cuma RP.10 ribu!

Itu dia list destinasi wisata yang bisa kamu kunjungi kalau ingin liburan ke Belitung! Untuk penginapan ada banyak banget pilihan hotel, hostel, atau homestay yang bisa kamu pilih. Ada satu penginapan yang saya suka dan recommended banget! Kamu bisa  baca di sini.

Kalau nggak mau repot dan butuh guide buat keliling Belitung boleh banget kok kontak Naya, siaga 24 jam hehe. Selanjutnya saya akan posting wisata anti-mainstream di Belitung. Ditunggu ya!

Telaga Biru Cigaru: Wisata Alam Hits di Tangerang

Selain terkenal oleh wisata belanjanya seperti Summarecon Mall Serpong, Supermall Karawaci, hingga AEON Mall, Kabupaten Tangerang juga memiliki wisata alam yang wajib dikunjungi. Selain karena dekat dari ibu kota, umumnya juga murah meriah bahkan tidak dipungut biaya. Serius!

Jangan khawatir jika kamu tidak membawa kendaraan pribadi, karena telaga ini sangat mudah diakses dengan angkutan umum. Perjalanan dapat dimulai dari stasiun Tanah Abang. Pilih kereta jurusan Maja dan turunlah di stasiun Tigaraksa (Flash tip: Tanya lah petugas stasiun apakah kereta tersebut berhenti di stasiun Tigaraksa atau hanya sampai Parung Panjang, karena jika hanya sampai Parung Panjang maka kamu harus menyambung lagi ke Tigaraksa).

Kebetulan beberapa hari lalu ada teman dari luar kota yang sedang berkunjung ke Tangerang dan ingin berjalan-jalan. Sekalian saja saya ajak ke Telaga Biru Cigaru ini. Karena saya tinggal di Kabupaten Tangerang, saya hanya perlu naik kereta dari Stasiun Rawa Buntu. Kereta menuju Maja cukup lama dan jarang, sehingga dibutuhkan waktu kurang lebih satu jam hingga tiba di Stasiun Tigaraksa. Jangan bayangkan stasiun ini sama seperti stasiun-stasiun lainnya yang modern dan terdapat minimart. Di Stasiun Tigaraksa hanya terdapat banyak warung-warung penjual makanan seperti soto, bakso, dll. Satu-satunya store hanya ada Roti O (Flash tip: Sebaiknya siapkan camilan karena di Stasiun  Tigaraksa tidak terdapat minimart A ataupun I ).

Selanjutnya, kamu bisa menggunakan ojek atau angkot. Pangkalan angkot terletak sekitar 300 meter dari stasiun. Dan ternyata di sana terdapat minimart (tentu saja sepasang, A dan I). Lumayan masuk buat ngadem, karena suhu di sana sangat panas dan lembab. Sampai-sampai saya bertanya ke pramuniaga, apakah terdapat pantai di daerah tersebut karena suhu dan hawanya persis seperti dekat laut karena setahu saya tidak ada. Dan memang mbak pramuniaga menjawab, tidak ada. Jadi, pastikan kamu menggunakan pakaian yang menyerap keringat dan tidak gerah. #FlashTip

Angkot berwarna putih-tosca dengan jurusan Balaraja – Adhyasa. Jangan takut akan salah naik angkot karena hanya ada satu jenis angkot dengan satu jurusan. Kamu bisa turun di pertigaan SMAN 08 Cisoka, adanya di sebelah kanan jalan. Patokannya? Jika kamu sudah melewati Grand Balaraja (di sebelah kiri jalan), berarti pertigaan SMAN 08 Cisoka tersebut sudah dekat #FlashTip. Tidak terdapat banyak petunjuk menuju Telaga Biru Cisoka. Saat saya pertama kali pergi ke Telaga Biru, saya benar-benar get lost karena SMA 08 Cisoka tersebut tidak ada di dalam peta!

Ongkos angkot untuk per orangnya Rp.7.000. Jangan sampai kamu terlihat seperti turis karena supir angkot bisa tidak memberikan kembalian jika jumlah uang tidak pas. Lebih baik tanya ke penumpang lainnya jika kamu ragu akan pertigaan SMAN 08 Cisoka yang dimaksud. Setelah turun di pertigaan tersebut akan ada pangkalan ojek yang menawarkan jasa. Saya memilih untuk menggunakan jasa ojek karena ini dapat memberikan pemasukan bagi warga sekitar. Hal ini tentu menjadi bentuk dukungan yang dapat meningkatkan produktivitas dan sumber penghasilan masyarakat setempat. Ojek ini akan mengantarkan kita hingga ke lokasi Telaga Biru. Dan menggunakan ojek jauh lebih mudah dan murah daripada membawa kendaraan pribadi jika ke Telaga Biru (Flash tip: Menuju Telaga Biru terdapat banyak pungutan liar, bahkan kamu bisa tiga kali membayar, satu-satunya cara agar terhindar dari pungli tersebut adalah menggunakan jasa ojek). Karena untuk kendaraan pribadi akan dikenakan biaya sebesar Rp.5.000 untuk motor dan Rp.20.000 untuk mobil. Dan setelah gerbang masih ada pos lagi yang mengharuskan kamu untuk membayar (kalau tidak salah untuk per orangnya dan kendaraan juga), belum lagi biaya parkir. Sedangkan jika naik ojek, kamu hanya perlu mengeluarkan uang sebesar Rp.15.000 dan tidak ada biaya masuk wisata untuk per orangnya alias gratis! #FlashTip

Banyak juga yang akhirnya memilih berjalan kaki dari pintu gerbang agar tidak harus membayar. FYI, dari pertigaan SMAN 08 Cisoka hingga Telaga Biru kira-kira jaraknya 3 km bok! Letak gerbang Telaga Biru itu kira-kira di tengahnya, masih jauh dari lokasi telaga. Duh, terlalu nyiksa diri kalau mau jalan kaki di pinggir sawah dengan suhu seterik 32 derajat. Mending uangnya buat makan bakso di pinggir telaga nanti.

Jejeran warung di tepian tebing pasir Telaga Biru Cisoka

 

Telaga Biru Cisoka dulunya adalah galian pasir yang tidak beroperasi lagi sejak dua tahun lalu (pasir Cisoka terkenal sangat bagus dan dikirim ke mana-mana). Sehingga cekungan terbendung air hujan yang kemudian menjadi telaga. Namun uniknya telaga ini berwarna biru jernih. Sangat berbeda dengan danau alami yang terletak bersebelahan dengannya. Dan tidak hanya satu, total ada empat telaga biru yang tercipta). Seiring dengan terkenalnya Telaga Biru, muncul mitos-mitos yang berkembang, seperti adanya bidadari yang pernah datang ke telaga ini dan membuat air danaunya menjadi biru yang indah. Instagramable banget!

Danau Alami yang berwarna hijau

 

Danau buatan atau Telaga Biru Cisoka (terletak bersebelahan dengan Danau Alami)

 

Patung Banteng yang merupakan ikon dari PT. Badak Perkasa Group (perusahaan yang membuat galian pasir di wilayah tersebut)

Di telaga tersebut pengunjung dapat menikmati keindahan dengan menaiki sampan. Terdapat juga sepeda bebek di danau alami sebelahnya bila kamu ingin menikmati keindahan telaga dari sisi yang lain. Birunya Telaga Cisoka tersebut membuat saya tidak pernah menyesal untuk kembali lagi dan lagi ke sana.

Saya tiba jam sebelas dan sudah pulang pukul setengah dua karena tidak tahan cuaca yang sangat puanas. Karena tidak ada jam tutup di Telaga Biru, saya sarankan untuk berkunjung di pagi atau sore hari agar tidak terlalu panas. Apalagi jika sedang banyak angin, dijamin betah.

Ayo, berkunjung ke Telaga Biru Cisoka di Kabupaten Tangerang!

 

How to get there:

Alternatif 1
 
KRL Jakarta (Tanah Abang) – Tigaraksa: Rp.6.000
Angkot St. Tigaraksa – Pertigaan SMAN 08 Cisoka: Rp. 7.000
Ojek dari Pertigaan SMAN 08 Cisoka hingga Telaga Biru: Rp. 15.000

Tiket masuk per orangan: FREE jika menggunakan jasa ojek 😉

 

Alternatif 2

KRL Jakarta (Tanah Abang) – Tigaraksa: Rp.6.000
Ojek dari Stasiun Tigaraksa – Telaga Biru Cigarus Rp. 45.000

Tiket masuk per orangan: FREE jika menggunakan jasa ojek 😉

 

nb: bagi yang butuh kontak jasa ojek untuk ke Telaga Biru Cigaru atau ingin tanya apapun seputar telaga bisa reply di kolom komentar di bawah ini atau langsung email nayadini@icloud.com/line nayadini.

 

Salam,

Duta Pariwisata dan Budaya Kabupaten Tangerang 2016

Rekomendasi Baju Renang Muslimah: Kamu Harus Punya!

Salah satu alasan kenapa saya senang berkegiatan outdoor adalah untuk membuktikan bahwa hijab tidak menjadi penghalang untuk produktif dalam beraktifitas. Namun semua tetap harus disesuaikan apakah sejalan dengan ajaran syariat atau tidak, meskipun keislamanku pun masih jauh dari kata sempurna.

Memulai hobi traveling dari lautan hingga akhirnya selama beberapa tahun ini sangat aktif mendaki gunung. Terus terang, pergi ke laut lebih repot. Lebih banyak yang dipertimbangkan dan dipersiapkan. Dari mulai transport seperti sewa kapal yang tidak murah, hingga penampilan yang harus dipikirkan. Of course, masalah outfit selalu jadi hal yang memusingkan untuk dipersiapkan saat mau bepergian. Apa lagi ke laut!

Sebagai seorang yang picky, benar-benar nggak gampang bagi saya untuk milih baju renang yang nyaman khususnya baju renang muslimah. Sekarang udah banyak yang jual baju renang muslimah, memang. Tapi soal nyaman? Nggak jamin, bahkan ada yang harganya hingga hampir satu juta, tapi tetap tidak nyaman karena tidak disesuaikan dengan kebutuhan kita sebagai muslimah. Nggak lucu kan menolak tawaran berlibur ke pantai hanya karena nggak punya baju renang yang pas? Apa lagi yang itu-itu aja.

Baju renang yang saya punya? Ada tiga. Dan hanya satu yang nyaman. Rasanya kesal sendiri kalau upload foto liburan di pantai atau saat snorkeling, kok bajunya itu-itu lagi. Sampai pada akhirnya saya nemu brand baju renang muslimah yang bikin saya jatuh cinta parah!

Jaimelavie namanya. Brand lokal punya pula! Bahannya berkualitas hingga terlihat bakal awet lama, teksturnya adem nan nyaman, dan yang paling penting desainnya fashionable. Harganya? Nggak nyampe 500 ribu, bahkan dia juga sering mengadakan promo diskon. Tiga model favoritku yaitu Chantelle hitam, Leroux, dan Chantelle limited edition. Yang mana yang paling paling saya suka? Duh, pertanyaan sulit. I am in love with them, all of them!

Leroux merupakan model swimwear 1 piece (terusan), namun tidak ketat sehingga kita leluasa untuk bergerak

 

Perpaduan cantik warna Hitam, Dongker, dan Pink

 

Tapi kalo dipaksa milih, mungkin saya akan pilih Chantelle limited edition. Kombinasi warnanya bagus dengan cutting yang menarik. Perpaduan tiga warna; hitam, abu, dan biru. Chantelle terdiri dari dua pieces, atas dan bawah. Atasannya panjang apda bagian belakang tubuh, sehingga menutupi bokong dan tidak perlu khawatir akan naik ketika sedang berada di dalam air. Ini pengalaman pribadi dan masalah yang ditemui kalau pakai baju renang muslimah yang tidak berkualitas. Karetnya mengendur sehingga saat kita berenang bagian atasnya akan naik dan memperlihatkan bagian bokong dan bahkan pinggang. Hal lain yang jadi favoritku juga ada di bagian celana, potongannya lurus menyerupai pipa dan bukan mengerucut, sehingga tidak membentuk tubuh dan sangat menolong bagi yang memiliki paha atau betis besar. Semua potongan celana pada koleksi Jamilavie rasanya sama seperti itu, kecuali model Sirene yang memiliki ruffle di bagian bawah betis. Design-nya oke punya!

 

Chantelle Limited Edition

 

Memiliki kombinasi tiga warna yang menarik: Biru, Hitam, dan Abu

 

Cutting miring dari lengan kanan, melewati badan, hingga ke tangan kiri merupakan design yang menarik dan tidak monoton

 

Chantelle Hitam, juga memiliki design yang sama namun dengan kombinasi warna berbeda: Hitam, Dongker, dan Putih

 

Ukurannya panjang menutup bokong namun tetap nyaman

 

Meskipun berwarna putih tapi tidak menerawang

 

Sekarang pasti kamu khawatir soal jilbab? Jaimelavie juga menjual jilbab khusus untuk berenang yang sangat nyaman, tidak berat ketika di dalam air, dan yang terpenting nggak lari-lari sehingga rambut akan keluar-luar. Kamu bisa bebas ingin menggunakannya di dalam atau di luar baju renang. Jangan takut akan terlihat chubby, karena jilbab Jaimelavie ini sepertinya sengaja didesain antem (alias anti tembem). Jadi, jangan lagi berenang dengan inner ninja yang dijual di pasaran. Itu sangat merepotkan untuk dipakai berenang, karena tidak menutupi leher, bahan terlalu ringan sehingga sering bergeser, dan yang lebih parah adalah rambut sering keluar-luar. Coba deh jilbab khusus renang buatan Jaimelavie. Saya rekomen warna biru dongker dan hitam and I love them so much!

Warna Hitam

Cara 1

Cara 2

 

Warna Dongker

Cara 1

Cara 2

Rencananya, saya akan ambil diving course akhir tahun ini. Dan nggak akan pusing lagi harus beli baju renang di mana kalau ingin nambah koleksi. Tinggal buka instagram @jaimelavie.id. Oya, sebagai informasi saya pakai koleksi Jaimelavie ukuran S. Memang tidak akan fit body karena memang didesain agar tidak membentuk badan. So, langsung follow instagramnya sekarang juga dan kontak WhatsApp di +6281908975702 & Line@ : @jaimelavie(pake @). Jaimelavie juga menyediakan shipping hingga mancanegara.

 

Kalau sudah order, jangan lupa sharing pengalaman kamu menggunakan swimwear Jaimelavie serta tag dan mention @nayadini juga ya!

 

Happy swimming,

The Hijab Traveller

Naik Gunung Saat Menstruasi

Udah bikin rencana naik gunung dari jauh-jauh hari tapi ternyata si “bulan”datang?

Sesuai request, saya tulis postingan ini agar teman-teman nggak perlu panik, semua akan baik-baik aja asal kita antisipasi sejak awal. Saya pribadi justru lebih sering naik gunung pas lagi menstruasi. Bukan disengaja, tapi memang menstruasinya yang kadang kecepetan dateng jadi nggak sesuai dengan perhitungan. Keseringan naik gunung pas lagi menstruasi justru jadi hal yang wajar dan menyenangkan buat saya, mungkin karena sudah tahu apa saja yang harus saya persiapkan. Selama ini saya menerima banyak pertanyaan dari teman-teman pendaki perempuan seputar mendaki saat menstruasi. Mari kita breakdown di sini….

  1. Mendaki saat menstruasi, boleh nggak sih?

Banyak yang bilang, jika saat hari keberangkatan ternyata kita menstruasi, maka lebih baik pendakian dibatalkan saja. Hal ini umumnya ditujukan kepada hal-hal mistis, yang sangat lekat dengan gunung. Menurut saya, semua kembali ke kepercayaan masing-masing dan bagaimana menyikapinya. Alangkah lebih baik jika kita lebih fokus pada dampak apa saja yang dapat muncul jika mendaki selama menstruasi dan bagaimana mengantisipasinya, khususnya faktor pribadi. Jika teman-teman beragama muslim, maka sangat disarankan untuk memperbanyak dzikir selama pendakian, sebagai pengganti ibadah solat wajib yang tidak bisa ditunaikan.

 

2. Baru pertama kali naik gunung, pas menstruasi pula. Gimana dong?

Pertama-tama, kamu harus kenali dulu seperti apa diri kamu saat menstruasi, misal gejala apa aja yang biasanya timbul dan solusi apa yang bisa dilakukan untuk mengatasinya. Saya sendiri saat menstruasi biasanya akan muncul nyeri bahkan bisa sampai pingsan. Gejalanya banyak seperti nyeri perut, sakit kepala, sendi ngilu, dan otot pegal. Satu-satunya solusi terbaik untuk mengatasi ketika sedang sakit seperti itu adalah dengan beraktifitas, apalagi mendaki gunung. Medan yang sulit dan bawaan yang berat membuat saya terfokus kepada pendakian dan jadi lupa pada rasa nyeri yang ada. Nah, itu kalau saya. Kalau kamu tipe orang yang justru nggak boleh ngapa-ngapain ketika lagi nyeri haid, lebih baik disiasati dengan cara seperti membawa daypack (tas gunung ukuran 25-35 liter). Orang yang baru pertama kali naik gunung biasanya akan mengalami euforia, seperti pengin bawa banyak barang ataupun keril gede biar kelihatan keren kayak pendaki-pendaki lain. Jangan deh, daripada nanti kamu menyusahkan diri sendiri dan orang lain kalau harus bawain keril kamu. Kerilnya sendiri aja udah pasti berat, kan?

Kalau kamu biasa minum jamu atau obat pereda rasa nyeri (atau minyak angin) sebaiknya dibawa dan ditaruh di bagian yang udah dijangkau. Terus terang, kalau di “darat” saya sering ngerasa nggak kuat nyeri dan minum jamu kunyit asem kemasan yang katanya nggak baik buat kesehatan bila dikonsumsi terus-terusan. Tapi kalau lagi mendaki saya nggak pernah merasa perlu minum gitu-gituan dan kuat dengan sendirinya, mungkin karena kepikiran puncak. Semangat!!!

 

3. Kalau menstruasi ganti pembalutnya gimana dan sampahnya buang di mana?

Jawabannya, ganti di tenda, tapi itu kalau sudah sampai di camp area. Nah, kalau belum?

Mungkin banyak teman-teman yang kalau lagi menstruasi dalam sehari bisa ganti pembalut sampai lima atau enam kali. Saya juga begitu soalnya he..he.. It’s okay, kalau sedang di pendakian dan teman-teman merasa sudah “penuh” atau tidak nyaman, minta waktu sebentar kepada teman-teman rombongan dan mencari tempat yang aman untuk mengganti pembalut. Saya sarankan untuk memakai pembalut malam yang uurannya lebih panjang dan lebar. Kemudian masukkan ke dalam plastik, simpan di plastik khusus sampah pribadi dan letakkan di dalam keril. Pastikan tidak tercium bau darah karena dapat memicu datangnya hewan buas (kalau naik ke gunung yang ada hewan buasnya). Ketika sampai di camp area nanti, teman-teman bisa kembali mengganti pembalut dan membersihkan daerah kewanitaan dengan tisu basah yang setelah dipakai dibungkus plastik, lalu dimasukkan ke plastik khusus tadi untuk dibuang jika sudah sampai di rumah nanti — Ingat, jangan buang di gunung!!! Akan lebih baik jika teman-teman sudah menempelkan pembalut dengan underwear dari rumah, jadi tidak perlu repot memasang, karena saat di dalam tenda teman-teman akan sulit bergerak apalagi berdiri.

 

Itu dia tiga tips utama yang harus kamu perhatikan jika ingin mendaki saat menstruasi. Persiapkan fisik sebaik mungkin ya, dengan banyak minum air putih, makan yang bergizi, dan latih emosi — naik gunung biasanya sangat menguji kestabilan emosi kita, apalagi kalau lagi menstruasi yang senggol-dikit-bacok coba?

Lagi-lagi, kamu yang lebih mengerti sekuat apa dirimu. Jika memang ragu dan tidak mampu, lebih baik bersabar dulu dan undur pendakian sampai waktu yang pas. Itu tadi tiga pertanyaan yang paling sering ditanyakan, kalau ada pertanyaan lainnya bisa langsung kontak ke line nayadini atau email nayadini@icloud.com.

 

See you, travellers!

 

Nay.

 

Gunung Raung: Meraung-raung Menuju Sejati

Bagi saya, mendaki gunung bukan merupakan sebuah ambisi, melainkan sebuah hobi yang kebetulan dapat tersalurkan karena adanya ketersediaan waktu, uang, dan teman perjalanan. Pendakian terbaru ini dapat saya kategorikan sebagai sebuah pendakian dadakan. Semua berawal dari ajakan Jacklyn (partner nanjak Gunung Kerinci bulan Maret lalu, baca di sini) yang begitu tiba-tiba. Seharusnya bulan ini saya menginjakkan kaki di Gunung Tambora, tapi batal karena cancellation tim yang begitu tiba-tiba. Jadwal sudah terlanjur diluangkan, bisa saja alih destinasi ke tempat lain, tapi kalau alih destinasi menjadi ke Gunung Raung…… rasanya seperti tidak mungkin. Medan Gunung Raung yang terbilang ekstrim tentu saja yang menjadi alasan utama dari keragu-raguan itu. Batal Tambora dan malah jadi ke Raung, ngeri juga. Kalau bukan karena Jacklyn yang mengompori, mungkin saya tidak akan pernah menyambangi Puncak Sejati.

 

April – Arina – Vyna – Naya (- minus Jacklyn yang menyusul karena malam itu ketinggalan pesawat)

Disebabkan tidak ada kereta langsung dari Jakarta – Kalibaru (Banyuwangi), maka saya transit di Jogja terlebih dahulu (Flash tip: Kebanyakan orang melakukan transit di stasiun Surabaya Gubeng, khususnya bagi yang ingin naik pesawat). Kebetulan memang ada event yang harus disambangi di daerah Bantul, maka saya memutuskan untuk menetap di Jogja sampai akhirnya tiba hari H. Hurra!

Jika ingin langsung berangkat dari Jakarta, transit (di manapun) lalu sambung kereta ke Kalibaru, menurut saya akan sangat menghabiskan tenaga. Bayangkan, untuk perjalanan dari Jakarta ke Jogja saja membutuhkan waktu tempuh delapan jam dengan kereta, lalu dari Jogja ke Kalibaru menghabiskan waktu 14 jam, sehingga total menjadi 22 jam di kereta! Belum lagi jeda waktu transit bila jam keberangkatan terpaut jauh dengan jam tiba kereta sebelumnya. Jadi, saya tidak menganjurkan untuk kamu langsung transit seperti itu.

Saya berangkat dari Stasiun Lempuyangan, Jogja bersama Arina (@fasyaarina). Sri Tanjung membawa kami menuju stasiun Kalibaru, Banyuwangi selama 14 jam. Kami bertemu dengan teman-teman serombongan lainnya di stasiun Surabaya Gubeng. Belasan orang sudah berkumpul dan siap menjumpa puncak sejati. Terus terang, ini pendakian dengan rombongan teramai yang pernah saya lakukan, di gunung dengan tingkat kesulitan ekstrim pula. Namun asal semua dipersiapkan dengan baik saya rasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan bila kita sudah berpamitan dengan keluarga, berdoa, serta bersikap wajar selama pendakian.

Setelah berjam-jam merasa bosan di atas kereta (tidur – ketawa – tidur – baca novel – tidur – jajan popmie dan kopi – tidur lagi – dst.) akhirnya kami tiba juga di stasiun Kalibaru. Pukul 19.58 WITA dan sudah terlalu malam untuk bermalam di Pos 1. Oleh karena itu, kami memutuskan untuk bermalam di basecamp alias rumah warga. Dengan menggunakan ojek dari stasiun Kalibaru menuju kaki gunung. Motor trail tentunya! (Flash tip: Daripada menyewa losbak saya lebih menyarankan kamu untuk memilih ojek, karena medan berbatu dan ongkos ojek juga tidak terlalu mahal).

Arina – Bang Omenk – Naya di Camp 5

Pendakian dimulai esok hari. Dari basecamp ke Pos 1 kamu harus menggunakan ojek (lagi). Perjalanan yang ditempuh kira-kira 10 menit. Jalur yang menanjak dan sempit akan memberikan sensasi tersendiri saat naik ojek hehehe. Tiba di Pos 1 alias rumah Pak Sunarya kita akan disambut oleh pisang goreng dan kopi Lanang. Pak Sunarya, merupakan “Mbah Marijan”-nya Gunung Raung. Konon katanya beliau lah yang membuka jalur Gunung Raung, sehingga dapat dinikmati oleh para pendaki seperti sekarang ini.

Raung memiliki 4 pos dan 9 camp. Pada umumnya para pendaki akan langsung menuju Camp 7 pada petang hari dan mendirikan tenda di sana, lalu melakukan pendakian di malam harinya. Namun bagi yang rombongan jumlah banyak atau yang ingin sedikit bersantai bisa menuju Camp 4 dan mendirikan tenda di sana. Baru lanjut ke Camp 7 keesokan harinya. Karena speed kami berbeda-beda, maka cara kedua tersebut yang kami pilih. Perjalanan kami diiriingi oleh hujan gerimis, baru saat di Camp 3 gerimis sudah mulai berhenti. Pendakian dilakukan dengan sangat santai. Diisi dengan kepulan asap rokok yang tidak berhenti-henti, karaoke, sampai berfoto dengan boomerang. Pada awalnya saya menyetujui permintaan Arina untuk beriringan dengannya (jauh sebelum hari H), ketika hari mulai gelap rombongan masih bersantai di Camp 3, saya dan Bang Irfan (@dolitirfan) pamit untuk jalan duluan menuju Camp 4. Tentu saja saya tidak mau menyusahkan orang dengan keterbatasan penglihatan saya karena saya rabun ayam. Saya dan Bang Irfan tiba di Camp 4 pukul 17.25 WITA. Hanya ada satu tenda 2-3 orang yang sedang berdiri di sana. Teman-teman rombongan sampai di Camp  4 satu jam kemudian.

Kami mendirikan 4 tenda malam itu. Lahan Camp 4 cukup untuk mendirikan  6 buah tenda ukuran 4-5 orang (Flash tip: Jika ingin masang flysheet bawalah yang ukuran besar, karena letak pohon cukup berjauhan). Suhu Camp 4 menurut saya tidak terlalu dingin, mungkin karena masih banyak pohon. Keesokan harinya setelah makan beralaskan kertas nasi yang berbaris-baris, kami melanjutkan pendakian menuju Camp 7, tepatnya pada pukul 10 pagi.

Sarapan di Camp 4 sebelum berangkat Camp 7

Akibat hujan track yang merupakan tanah merah menjadi licin dan becek. Mulai dari Camp 4 ini track lebih sulit dari sebelumnya. Beberapa spot sengaja diberikan webbing untuk membantu pendaki turun dan naik, untuk vegetasi banyak pohon duri di mana-mana dan jari saya sempat tertusuk hingga menjadi bengkak dan bernanah, pohon-pohon besar juga sering kali melintang di tengah track. Spot yang menjadi favorit saya adalah setelah Camp 6 menuju Camp 7, terdapat hutan lumut dan saat itu suasana sedang kabut, membuat pemandangan jadi sejuk dan mencekam (huehehehe lebay). Rombongan terpisah-pisah menjadi banyak regu saat itu. Saya memutuskan untuk beriringan dengan Arina, tidak lagi bersama Bang Irfan yang pasti sudah tiba di Camp 7 dan mendirikan tenda. Saking betahnya saya dan Arina bahkan sempat sisiran dulu memberi kesempatan untuk rambut kami bernafas, di hutan lumut tersebut (maklum kami menggunakan hijab berhari-hari dan tidak mungkin bisa sisiran di tenda karena isi tenda dicampur laki-laki dan perempuan.

Camp 7

Kami tiba di Camp 7 pada pukul 4 sore dan tenda sudah tegak berdiri. Saya dan Arina menemukan spot menarik untuk memasang hammock. Lalu tinggal bersantai menunggu malam (summit time) tiba dan sambil menunggu anggota rombongan lain yang masih di belakang. Kelebihan dari melakukan pendakian Camp 1-7 dalam dua hari adalah kamu bisa sedikit lebih bersantai dan memiliki jeda waktu banyak untuk beristirahat.

Hammock menghadap ke Gunung Argopuro

Niat untuk berangkat summit pukul 3 menjadi setengah 5. Sama seperti sebelumnya, saya dan Bang Irfan meluncur lebih dulu menuju Camp 9, kali ini juga beserta Bang Mangku yang katanya masih mengantuk dan mau tidur dulu di atas sambil menunggu yang lain. Saya pun demikian hehehe. Di Camp 9 kami memakai webbing dan carbiner yang tentu saja dibantu oleh yang sudah berpengalaman. Kemarin saya tidak memakai safety helm, akan sangat baik bila kamu menggunakannya karena track summit seluruhnya adalah bebatuan dan kerikil.

Baru atu dari sekian tanjakan

Jembatan Sirothol Mustaqim 

Puncak 17

 

Hampir menuju Puncak Tusuk Gigi

Jika biasanya kamu summit ke puncak gunung sambil menikmati sunrise setelah itu kembali turun ke camp saat matahari sudah memasuki waktu dhuha, maka pada Gunung Raung tidak demikian. Summit Raung memakan waktu seharian. Untuk menuju Puncak Sejati pendaki harus terlebih dulu melewat Puncak Bendera, Jembatan Sirotol Mustaqim, Puncak 17, dan Puncak Tusuk Gigi dengan cara rappling yang menuntut para pendaki untuk bergantian satu dengan yang lainnya. Itu lah yang menyebabkan pendakian menuju puncak menjadi cukup lama. Menuju Puncak Tusuk Gigi artinya sudah semakin dekat dengan Puncak Sejati. Lumayan sulit menentukan jalur untuk dipijak kaki karena semua medan adalah batu dan kerikil. Untungnya, pendaki terdahulu meninggalkan jejak dan tanda menuju Sejati, yaitu dengan mengikat tali rafia warna-warni pada edelweis-edelweis kecil di sepanjang track. Pukul 12.30 WITA saya menjadi perempuan pertama di rombongan kami yang menginjakkan kaki di Sejati. Semakin haru saat mengingat perjuangan menuju Sejati itu dilakukan dengan tenggorokan yang kerontang dan kepala pusing karena belum masuk makanan sejak tadi malam. Terus terang, ini penting! Flash tip: Jangan sampai pergi summit Sejati dalam keadaan perut kosong, karena rappling dan sepanjang jalan datar sekalipun membutuhkan konsentrasi dan keseimbangan. Perut lapar bikin badan jadi miring-miring, Kapten. Duh!

Je – Me

Beruntungnya kami, cuaca Puncak Sejati cerah hari itu. Menurut warga sekitar Raung selalu diguyur hujan setiap hari selama beberapa minggu ini, bahkan rombongan orang Malaysia yang baru turun kemarin mengatakan bahwa mereka tidak mendapat kesempatan untuk mencumbu Sejati karena hujan dan badai mengguyur tiada henti. Meskipun cerah tidak berarti segalanya menjadi mudah. Yang menjadi PR dari summit Sejati adalah turunnya, karena track lumayan panjang dan tidak landai, sehingga masih membutuhkan aktivitas tali-temali. Cuaca yang cerah seharian itu ternyata tidak seratus persen baik juga, karena angin kencang berkali-kali meniup ke arah kami yang statusnya berperut kosong. Saya punya firasat buruk tentang ini. Benar saja. Jebir selaku orang yang diamanahkan untuk memasak ingin buru-buru turun ke Camp 7 dan mempersiapkan makanan untuk teman-teman serombongan. Saya pun turut serta dan kami lari menuju Camp 7 tentu saja dengan perut kosong. Bayangkan Puncak Bendera – Camp 7 hanya ditempuh hanya dalam 40 menti, yang seharusnya satu setengah jam. Kepala pusing, mata nggak fokus, perut lapar, kepala pusing, akhirnya kami tiba di Camp 7 dan langsung memasak bahan makanan yang tersisa. YAP, KAMI KEHABISAN LOGISTIK DAN AIR. Maka, kami masak seadanya yang pernting perut teman-teman terisi. Bahkan saya sampai perlu mengemis air ke tenda lain. Satu setengah jam kemudian suara yang kami kenal berteriak-teriak mendekat menuju tenda logisitik.

“Mang Dodoy hipotermia!”

Nah!

 

Segera saya dan Jebir memasak air panas, memasukkannnya ke dalam termos, lalu diantar menuju Puncak Bendera. Alhamdulillah…. tanpa perlu diantar tak lama kemudian Mang Dodoy tiba di Camp 7 bersama teman-teman yang membantunya. Malam itu terjadi evaluasi besar-besaran mengenai air, logistik, dan segala macamnya. Saya yakin selain Mang Dodoy sebenarnya semua pun merasa tidak enak badan dan lelah, karena harus summit seharian dalam keadaan berperut kosong. Namun untungnya semua masih kuat menahan, terlebih para rombongan perempuan. Saya tidak hentinya memperhatikan setiap anggota perempuan di tim ini, khawatir akan ada yang tumbang. April sempat menggigil dan muntah-muntah saat baru turun dari Puncak dan tiba di Camp 7, tapi hal itu wajar karena memang kami semua telat makan dan menurut saya sakit yang dialami oleh April masih terbilang wajar. Saya bersyukur bahwa semua anggota perempuan di rombongan ini sehat dan selamat, seperti Arina, April, Jacklyn, dan Vyna. Kata Ariel NOAH, kalian luar biasa! hehehe.

Mangku – Me – Omenk – Juni – Dodoy – Angga

Meramal Nasib di Klenteng Tjo Soe Kong

Sebagai seorang muslim, saya merasa perlu untuk mempelajari agama lain yang ada khususnya di Indonesia, tidak hanya mempelajari tentang Islam saja. Tidak pernah ada kata sia-sia untuk memperluas wawasan dan membuka pikiran. Bagi saya, semakin kita mempelajari tentang agama lain akan membuat kita semakin mengenal diri kita dan akan bertambah pula keislaman kita. Saya begitu bangga dan bahagia dengan adanya keberagaman agama di Indonesia. Saya sangat senang berkunjung ke tempat ibadah orang lain. Salah satu tempat ibadah yang baru-baru ini saya kunjungi adalah sebuah vihara yang terletak di Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten.

Terdapat berbagai relief dewa berjajar di dinding yang sangat menarik karena baru saja direnovasi

Klenteng Tjo Soe Kong adalah klenteng tertua di Tangerang. Tidak hanya untuk beribadah, klenteng ini juga kerap dikunjungi pengunjung lokal maupun asing untuk berwisata. Biasanya pemandu akan dengan sangat senang hati mendatangi wisatawan yang berkunjung dan menjelasksan sejarah maupun ornamen yang ada di klenteng. Nama Klenteng Tjo Soe Kong diambil dari nama seorang tabib yang hidup pada masa Dinasti Song, yang berasal dari Propinsi Hokkian. Sang tabib dikenal dengan sifatnya yang murah menolong masyarakat sekitar tanpa meminta imbalan apapun. Oleh karena itu, saat sang tabib wafat para masyarakat di Kecamatan Mauk berinisiatif untuk membangun sebuah klenteng sebagai sebuah klenteng sebagai sebuah persembahan dan untuk mengenang kebaikan tabib Tjo Soe Kong.

Sejarah selanjutnya dari vihara Tjo Soe Kong adalah terjadinya peristiwa besar pada tahun 1883. Meletusnya Gunung Krakatau menimbulkan potensi Tsunami yang meluluhlantahkan beberapa wilayah di Banten dan Sumatera, bahkan beberapa pulau di sekitar Krakatau menjadi lenyap. Mengutip dari http://www.djurnal.com bahwa peristiwa Tsunami tersebut merupakan salah satu yang terparah di dunia.

“Bencana tsunami ini terjadi pada tahun 1883 dan membunuh sekitar 36.000 orang. Gelombang tsunami yang ditimbulkan oleh letusan mencapai tinggi 40 meter dan menyapu setidaknya 165 desa di wilayah Jawa dan Sumatera. Letusan Krakataunya sendiri merupakan letusan gunung api yang terbesar dalam sejarah, menimbulkan suara yang begitu keras dan abu vulkanik yang bahkan tersebar hingga ke Australia.”

 

Klenteng ini luas sekali

Tjo Soe Kong merupakan saksi bisu sekaligus keajaiban pada peristiwa tsunami di Selat Sunda masa itu, karena meskipun letaknya di bibir pantai bangunannya tetap kokoh berdiri diterjang Tsunami, sementara sekitarnya hancur lebur. Latar belakang sejarah ini adalah salah satu alasan yang membuat para wisatawan tertarik untuk berkunjung ke Tjo Soe Kong.

Namun itu baru salah satunya, karena ada hal lain lagi yang sangat menarik bagi saya dari kunjungan ke klenteng Tjo Soe Kong, ialah meramal nasib. Saya tidak pernah percaya ramalan, tetapi sangat penasaran ingin mengetahui tata cara meramal di Tjo Soe Kong dan penasaran dengan jawaban yang akan keluar dalam bentuk kertas. Tata cara meramalnya adalah seperti ini, pengunjung harus memperkenalkan diri di dalam hati dari mulai nama, usia, dan mengutarakan permohonannya. Lalu melempar dua batu pipih setengah lingkaran yang ringan. Kondisi batu itu harus sama-sama terbuka atau tertutup, yang artinya permohonan disetujui oleh Dewa dan Dewa mau menjawab permohonan tersebut. Namun bila kedua batu memiliki posisi tidak sama, maka permohonan harus diganti.

 

Veronita sedang menggoyangkan silinder bambu berisi batang bambu pipih yang memiliki nomor-nomor

 

Saya ingat betul dengan permohonan yang saya cetuskan dalam hati. Namun setelah dilempar batu berlawanan posisi hingga tiga kali, kebetulan bapak pemandu saya saat itu adalah orang yang lucu dan menyenangkan. Menurut beliau, permohonan saya sepele dan atau seperti main-main, sehingga ditertawakan oleh Dewa, oleh sebab itu harus diganti. Akhirnya, saya ganti pertanyaannya dengan yang sangat berat, berkaitan dengan masa depan saya. Ajaib! Batu itu mengeluarkan posisi yang sama langsung di kali pertama saya melemparnya. Setelah itu pengunjung harus menggoyang-goyangkan tabung bambu berisi batang-batang bambu pipih yang sudah bertuliskan nomor-nomor. Satu batang bambu pipih yang keluar kemudian akan ditukar dengan kertas sesuai dengan nomor yang ada di batang bambu tadi. Kertas tersebut bertuliskan jawaban ramalan yang terdiri dari deretan kata-kata berbahasa tinggi menyerupai sajak, bisa positif ataupun negatif.

Hal ini tentu menjadi sangat menarik, karena akan muncul jawaban-jawaban yang mungkin saja di luar ekspektasi pengunjung. Salah satu teman perempuan saya menanyakan tentang masa depan percintaannya ketika diramal, ternyata kesimpulan dari jawaban yang ia dapatkan adalah bahwa suatu saat nanti ia akan ditemukan dengan bannyak pilihan dan memiliki potensi poliandri. Kami semua sontak menakut-nakuti sambil bergurau, karena menurut kami sebuah ramalan adalah tindakan untuk mengantisipasi masa depan, bukan sebuah kutukan yang harus kita terima mentah-mentah dan bukan juga sebuah takdir yang hanya bisa kita ratapi dengan pasrah. Semua kembali ke individu masing-masing. Bila terjadi kesamaan antara fakta di masa depan dengan hasil ramalan di masa lalu, bisa jadi orang tersebut tersugesti yang menguasai alam bawah sadar, sehingga ramalan itu menjadi kenyataan.

 

Akan ada seorang “penjaga” yang akan membantumu menerjemahkan ramalan nasib yang muncul

 

 

Terlepas dari percaya atau tidak, tidak ada salahnya dicoba karena jawaban dari ramalan di kertas tersebut sangat indah dan sulit dimengerti. Saya senang sekali membacanya berulang-ulang, karena terdengar mirip syair seperti di Timur Tengah. Ramalan ini mungkin bisa menjadi daya tarik bagi para wisatawan untuk berkunjung ke klenteng Tjo Soe Kong, karena jumlah pengunjung Tjoe Soe Kong makin berkurang tiap tahunnya. Saya sangat senang pernah berkunjung ke sana dan sangat ingin kembali untuk mengutarakan lagi pertanyaan-pertanyaan saya tentang apapun. Yuk, kunjungi klenteng Tjo Soe Kong, Tangerang!

 

How to get there:
– dari Stasiun Tangerang naik angkot R04 Psar Anyar – Sewan atau angkot R05 Psar Anyar – Jurumudi / Pasar Anyar – Cikokol, turun di Pintu Air
– sambung elf jurusan Pintu Air – Kampung Melayu. Turun di pasar Kampung Melayu, Teluk Naga
– sambung naik angkot jurusan Kampung Melayu – Pakuhaji – Tanjung Kait. Turun di Tanjung Kait
 
Salam, 
Hijabtraveller