Refleksi Homestay Program Hari 1: Cinta

Saya tidak pernah menyangka. Pelajaran yang akan saya dapatkan pertama kali setibanya di Australia dalam Homestay Program ini adalah tentang cinta.

“Go on,” sahut Richard ketika saya berkata ingin mengajukan sebuah pertanyaan. Saya ragu, tapi rasa keingintahuan saya selalu lebih besar dari rasa takut yang saya punya.

Kami menuju Car Park bandara yang sangat ramai. Saya diam-diam sembari mengamati setiap hal untuk dibandingan dengan kondisi di Indonesia. Tidak sulit menemukan di mana mobil Richard terparkir sebab semua teroganisir dengan baik, juga karena jumlah mobilnya tidak sebanyak di Jakarta. Karcis parkir ditelan mesin dengan sukses, pertanda kami dapat meninggalkan bandara dan meluncur ke rumah Richard yang terletak agak jauh dari pusat kota.

“Do you still love Anne just like the first time you met her and decided to marry her?” saya memerhatikan air mukanya, siaga kalau-kalau ekspresi di wajahnya berubah masam atau malah bingung. Namun, ternyata tidak membutuhkan waktu lama untuk mendapatkan jawaban karena dalam hitungan detik ia segera menjawab,

“Of course yes.”

Saya tidak habis pikir, bagaimana caranya menjalin cinta selama berpuluh-puluh tahun, tidak berkurang dan hilang sedikitpun? Seperti sebuah keajaiban. Mereka tidak pernah mengumbar kedekatan yang vulgar memang, tetapi ikatan itu dapat dengan kuat saya rasakan. Jika ada kata-kata yang sering belum disampaikan Richard, namun sudah dapat ditangkap dengan baik oleh Anne. Sama halnya dengan Anne yang sering sekali dibantu oleh Richard di dapur dan bahkan ruang makan, bahkan mencuci dan memasang sprei. Sepasang kekasih dengan anak-anak yang sukses dan 12 cucu di sebuah rumah yang rindang, bukankah semua akan terlihat lebih mudah jika kita sebagai individu menghormati satu sama lain, tidak perlu semua orang, setidaknya orang yang paling kita sayang?

“Apa kuncinya?“

„Toleransi dan menghormati. Yang pertama adalah yang utama.“

Saya bergumam. Toleransi yang biasa digembor-gemborkan di jalanan, di media, rupanya dapat dimulai dari lingkungan terdekat dan terkecil bernama keluarga. Orang-orang di negara maju sangat toleran, itulah mengapa mereka bisa maju. Sama halnya dengan Richard dan Anne yang memutuskan untuk menikah, karena mereka sangat toleran satu sama lain.  Sebab banyak orang di Australia yang memutuskan untuk tidak menikah, karena pernikahan bukanlah keharusan dan bukanlah sesuatu yang mudah, membutuhkan „perjuangan“ salah satunya perihal toleransi.

Program yang saya ikuti ini adalah salah satu jalan menuju sukses yang telah dilakukan orang-orang di masa mudanya, namun apakah cinta menjadi salah satu faktor kesuksesan mereka? Cinta jelas adalah sebuah value (nilai)  yang dapat mendukung kesuksesan tersebut. Atau justru cinta adalah sebuah goal (tujuan) bagi banyak orang yang menjadi tolak ukur kesuksesan. Termasuk saya.

Tidak banyak saya mengenal orang-orang sukses di Indonesia (atau mungkin pengetahuan saya saja yang kurang luas) sukses pula dalam kisah percintaannya, meskipun dalam hal ini cinta bisa bermakna apapun; cinta untuk keluarga, orang tua, teman, dan lain-lain. Cinta yang saya maksud adalah tentu tentang pasangan jiwa (soulmate), meskipun belum tentu menjadi pasangan hidup dan tidak harus menjadi demikian. Mungkin itu pula alasannya mengapa Ridwan Kamil (Walikota Bandung Periode 2013-2018) menjadi sangat terkenal dan diidolakan banyak kawula muda. Sebab tidaklah mudah menemukan figur seorang pemimpin sukses yang langgeng dengan pasangannya, bahkan untuk sosok yang satu ini kadang malah kelewat romantis dan bikin baper (bawa perasaan) anak-anak muda lewat postingan Si Cinta (Bu Atalia, istri beliau).

Saya muak mendengar kisah perceraian terjadi setiap hari di Indonesia seolah-olah adalah sebuah hal yang mudah dan murah. Ya, perceraian membutuhkan dana untuk banyak hal. Faktanya, di Indonesia ada sebanyak 40 pasangan bercerai setiap jamnya. Data ini saya dapatkan dari sebuah berita di tahun 2013 yang disampaikan oleh pihak Kementerian Agama RI. Kasus perceraian meningkat setiap tahunnya di Indonesia, berarti sangat besar kemungkinan bahwa di tahun 2018 ini jumlahnya bertambah dan menjadi lebih banyak.

Pikiran saya semakin bercabang, mengidentifikasi tentang apa saja hal yang pernah saya temui di Indonesia berkenaan dengan cinta dan pernikahan. Maksud saya, orang-orang Australia, Richard dan Anne sekalipun yang bukan pasangan religius, dapat menjadi sepasang kekasih yang sangat tulus dan sempurna di mata saya. Tidak pernah sekalipun saya bertanya apa agama mereka atau bisa saja mereka menganut atheisme. Sebab bagi saya, agama merupakan suatu hal yang personal dan setiap orang memiliki caranya masing-masing untuk berinteraksi dengan Tuhan, dalam konteks agama apapun.

Di sisi lain, orang-orang Indonesia yang umumnya beragama dan bahkan ada pula agama mayoritas, yang sejatinya percaya akan makna Ketuhanan dan begitu mencintai Tuhannya berkat karunia yang diberikan, seharusnya lebih bisa membina rasa cinta kepada manusia dan menerapkan apa yang mereka lakukan untuk Tuhannya. Namun yang saya dapatkan justru berita perceraian di mana-mana, KDRT tidak sedikit terjadi baik di pedesaan maupun ibu kota. Yang justru pernah membuat saya berpikir untuk tidak mau menikah, karena takut bila harus mengalami perceraian. Dari sini jelas terlihat, bahwa cinta dan agama bukanlah dua hal yang menjadi satu kesatuan, meskipun sangat erat berkaitan satu sama lain. Agama adalah agama. Ada cinta di dalam agama, namun tidak begitu dengan cinta, karena di dalam cinta seharusnya ada toleransi dan ketulusan, bukan SARA. Lantas, mengapa urusan pernikahan harus dikelola oleh Kementrian Agama RI? Bukankah agama dan cinta adalah dua hal yang berbeda?

#IamGMBer

#GMBHomestayProgram

#GerakanMariBerbagi

Destinasi Wajib Liburan di Belitung

Dikarenakan kamera ketinggalan, memori HP sangat minim untuk recording, dan action camera entah di mana, alhasil balik lagi mendokumentasikan perjalanannya via tulisan aja di blog ini huehehehe. Ada aja cobaannya kalau mau mulai bikin vlog, mungkin belum waktunya (sorry, guys :P).

Homestay-ku hanya 10 menit berjalan kaki dari Pantai Tanjung Tinggi,  jadi dalam sehari bisa bolak-balik ke pantai tiga kali :p

 

Pasti udah banyak yang sering bolak-balik liburan ke Belitung. Kenapa Belitung bisa jadi pilihan tepat untuk berlibur khususnya bagi yang tinggal di Jakarta? Karena tiket pesawatnya murah kalau dibeli dari jauh-jauh hari. Bisa Rp.500 ribu pulang-pergi dengan maskapai seperti Sriwijaya Air atau NAM Air. Alasan kedua, destinasi wisatanya ada banyak banget dari mulai laut hingga kota. Oke sekarang kita bahas lebih detail untuk poin kedua ini. Ke Belitung tuh jalan-jalannya ke mana aja sih?

1.Island Hopping

Who doesn’t love beach? Apalagi kalau pantainya sebersih, sejernih, dan secantik Belitung. Secara umum, Belitung terbagi jadi dua wilayah, yaitu Belitung Barat dan Belitung Timur. Pantai-pantai yang cantik ini letaknya di Belitung Barat. Ada banyak banget pulau yang bisa kamu kunjungi kalau ke Belitung.

Untuk melakukan Island Hopping di Belitung, bahkan satu hari pun cukup. Kalau cuacanya lagi bagus, kira-kira bisa 6-7 pulau yang kamu kunjungi. Tapi kalau cuacanya lagi buruk, jangan harap deh bisa mengunjungi lebih dari 3 pulau (Flash tip: sebaiknya jangan kunjungi Belitung menjelang akhir tahun). Nggak main-main, ombaknya gede dan tinggi banget sampai bisa masuk ke dalam kapal dan membuat basah semua penumpang. Saya pernah mengalami hal itu waktu lagi bawa tamu lansia (yang sosialita) waktu island hopping di Belitung. Semua histeris dan komat-kamit berpikir bahwa akan meenemui ajalnya di situ. Saya dan awak kapal malah teriak-teriak senang kalau ada ombak besar datang menghantam hahahaha (awas kualat lu!).

Pulau apa aja sih yang biasa dikunjungi oleh wisatawan?

Pulau Kelayang

Yang terkenal dari pulau ini adalah goanya, yaitu Goa Kelayang. Dari foto maupun vlog para travelblogger, biasanya pasti ada spot foto di bawah ini. Nah, saya kira yang dimaksud Goa Kelayang adalah yang itu, celah di antara batu-batu pelangi. Ternyata bukan, goanya adalah literally goa, tempat para kelelawar bersarang. Nggak banyak yang tau, biasanya hanya warga lokal atau wisatawan yang penasaran. Saya pun mengunjungi goa tersebut dengan Om Alpian, penduduk asli Belitung yang tinggal di Jakarta. Biasanya dia akan mampir ke sini kalau lagi pulang ke Belitung. Untuk ngecek apakah para kelelewar itu masih terjaga habitatnya.

Nggak mudah buat sampai di goa itu, kita harus turun-naik batu besar yang licin, lembab, dan gelap. Kira-kira butuh waktu sepuluh menit untuk akhirnya bisa tiba di goa. Benar aja, ada banyak sekali kelelelawar di sana-sini. Sayangnya, kata Om Alpian, jumlah itu ternyata nggak sebanyak waktu dulu, bisa terlihat jelas dari jumlah sarangnya yang sudah berkurang banyak. Banyak wisatawan usil yang membawa sarang kelelawar bahkan yang masih ada bayi kelelawar di dalamnya. Duh, tolong ya, kalau mengunjungi tempat wisata itu jangan mengambil apapun selain foto (itupun harus lihat kondisi, saya sama sekali nggak foto atau merekam Goa Kelayang karena menghormati para kelelawar yang tinggal di sana).

Spot hits yang mungkin sering muncul di sosial mediamu. Iya atau iya?

Pulau Kepayang

Yang ini adalah pulau fenomenal. Di sana ada restoran yang mahal banget harga makanannya. Untuk satu orang kamu bisa kena ongkos makan seharga Rp.50 ribu untuk menu makanan yang seadanya. Setelah makan, bisa jadi kamu diminta lagi “ongkos duduk” seharga Rp.15 ribu. Duh, sekarang mau duduk aja bayar! Jadi, jangan seenaknya beli-beli makanan ya kalau lagi Island Hopping di Belitung khususnya di Pulau Kepayang. Tanya dulu harganya dan pastikan nggak ada biaya tambahan.

Pulau Burung

Sebenarnya ada dua pulau yang bernama Burung. Alasannya, simpel karena bentuk batu-batunya mirip burung. Biasanya disebut juga Burung Garuda dan yang satu lagi disebut Burung Mandi. Kamu bisa mampir kalau ingin foto-foto. Karena sudah terlalu kenyang dengan foto-foto, saya nggak mampir cuma lihat dari jauh aja.

Pulau Batu Berlayar

Samaaaaaaaa! Isinya ya batu-batu besar yang biasa dikunjungi untuk foto-foto. Udahan ah foto-fotonya mau cepet-cepet minum kelapa di Pulau Lengkuas!

Pulau Lengkuas

Ini dia pulau yang paling gampang diinget dan wajib dikunjungi, karena ada  mercusuar putih yang menjadi ikon dari pulau di Belitung. Mercusuar ini adalah buatan Belanda yang dibangun pada tahun 1882 guna untuk mengamati kapal yang mondar-mandir di Belitung. Pertama kali dengar, saya curiga kenapa dinamakan Lengkuas. Apakah karena bentuk pulaunya mirip lengkuas? Memang bentuk lengkuas kayak gimana coba? Atau banyak budidaya lengkuas?

Ternyata karena asal mulanya saat jaman Belanda, pulau ini dinamakan Pulau Lighthouse yang berarti Mercusuar. Namun seiring dengan pelafalan warga lokal, kata Lighthouse diserap dan berubah menjadi Lengkuas (?). That’s what happened he..he..

Di pulau ini kamu juga bisa jajan mie cup, minum kelapa, pasang hammock, dan lagi-lagi, foto-foto bersama batu-batu besar.

Pulau Leebong

Nggak banyak orang pernah mampir ke pulau ini, karena nggak akan cukup waktu sejam-dua jam buat mengunjungi pulau ini. Dengan kata lain, ada banyak sekali hal fasilitas dan kenyamanan yang ditawarkan oleh pulau ini seperti jembatan panjang menuju dermaga, sepeda untuk berkeliling, hammock, vila, penginapan, watersport, dan Hutan Mangrove. Malah banyak juga tour & travel yang menawarkan paketan trip 3 hari 2 malam khusus hanya untuk menginap di pulau ini. Pulaunya sepi, cantik, dan luas. Cocok buat yang pengin cari pantai tenang di Belitung, khususnya yang nggak banyak orang foto-fotonya karena nggak ada batu-batu besar ha..ha..

Daaaan masih banyak pulau lainnya yang nggak bisa disebutin semuanya sekaligus. Mostly, jasa tour & travel pasti mengunjungi pulau-pulau yang udah saya sebutin tadi. Yuk, kita lanjut ke wisata lainnya di Belitung!

 

2. SD Replika Laskar Pelangi

Setelah kenyang menikmati pulau-pulau cantik di Belitung Barat, mari kita beralih ke Belitung Timur, tempat di mana terdapat wisata seperti SD Replika Laskar Pelangi. Flash tip: tetap gunakan sunblock meskipun kamu tidak ke pantai, karena Belitung Timur sangat panas. Tahu apa yang membuat Belitung Timur sangat panas? Adalah karena Belitung Timur adalah pusat penambangan timah. Jadi bukan karena panas matahari, melainkan panas kawasan industri.

Kenapa dinamakan Replika? Karena bangunan sekolah asli yang dipakai shooting sudah dirobohkan, dulu shooting-nya di Pantai Tanjung Tinggi, tempat batu-batu besar yang nggak perlu nyebrang pulau, tepatnya di Belitung Barat tentu saja. Bangunan yang sama kemudian dibuat agar orang-orang dapat merasakan langsung seperti apa kondisi SD Gantong yang hampir roboh itu. Isi kelasnya pun lengkap dengan papan tulis, meja, kursi, bendera, dan foto-foto pahlawan seperti di film.

Pas lagi seru-serunya main sama Ariel dan Putri, tau-tau rombongan kru Trans TV dateng mau syuting reality show Katakan Putus.

……..

Here? I mean, like………………

Oke, sip.

 

 

Ticket Price: Rp.3.000/orang

 

3. Kampung Ahok

Ada pengalaman lucu yang terjadi saat saya bawa rombongan Kakek-Nenek ke sini, mereka yang sangat anti-Ahok memutuskan untuk tidak turun dan marah-marah minta ke tempat lain saja. Padahal bukan itu poin yang kami tawarkan sebagai travel organizer, melainkan pemahaman bagaimana sosok Ahok secara tidak langsung mampu menyokong local communities yang jadi punya penghasilan dengan membuat kerajinan tangan dan penganan khas. Hal ini tentu jadi pembelajaran untuk kita bahwa upaya untuk mendukung UKM bisa dalam wujud apa saja, agar dapat menggerakkan atau berkontribusi untuk ekonomi setempat.

Setelah melihat-lihat souvenir khas Ahok, kamu juga bisa mampir ke rumah Pak Ahok yang boleh dimasuki halamannya, seperti terbuka lebar untuk siapa saja yang mau singgah. Rumahnya cukup besar, tapi saya nggak foto karena para tamu sudah “esmosi” untuk segera berpindah tempat.

Beberapa hasil karya warga setempat yang dijual

Ticket price: Free

 

4. Museum Kata Andrea Hirata

Siapa yang nggak kenal sama tempat yang satu ini? Bangunan warna-warni yang sangat sayang kalau dilewatkan buat nggak foto-foto. Di dalam museum ini ada banyak lukisan karya Andrea Hirata, juga banyak quotes beliau yang dibuat menjadi pajangan. Menariknya, untuk masuk, pengunjung harus bayar Rp.50 ribu. Awalnya warga setempat protes dengan biaya yang dirasakan cukup mahal, tapi pengelola bersikeras mengatakan bahwa dengan harga segitu pengunjung sudah mendapatkan buku karya Andrea Hirata. Permasalahannya, bagaimana kalau kita sudah punya bukunya?

 

Tikcet price: Rp. 50.000/orang

5. Rumah Keong

Ini adalah wisata baru bikinan pemerintah setempat yang letaknya tepat di depan SD Replika Laskar Pelangi. Sebenarnya nggak ada apa-apa selain anyaman rotan berbentuk keong ukuran jumbo dan bisa dimasuki dan ada juga dermaga dengan kapal-kapal untuk berkeliling.

Rumah Keong yang cucok buat main petak umpet :p

 

Dermaga di samping Rumah Keong

Ticket price: Rp. 5.000/orang

 

6. Danau Kaolin

Wisata ini letaknya di pinggir jalan, jadi pasti ngelewatin kalau dari Bandara mau ke Belitung Barat tempat pantai-pantai cantik berada. Oya, sekarang udah nggak bsiamasuk karena katanya ada pemuda yang tenggelam dan meninggal di danau, jadi kamu cuma boleh foto di luar pagar. Ternyata nggak begitu sama dengan Danau Cigaru di Tangerang. Yang di Belitung airnya lebih hijau tosca, sedangkan milik Cigaru berwarna biru bening. Saya sudah pernah tulis seperti apa Telaga Biru Cigaru, baca di sini. Kira-kira, bagusan mana sama Telaga Biru Cigaru punya Tangerang? :p

Ticket Price: Free

 

7. Kopi Kong Djie

Terus terang, saya senang berburu kopi kalau lagi travelling. Menikmati kopi dari tiap daerah adalah bagian dari mengenal budaya mereka. Melalui kopi itu, kita bisa sedikit melihat dan menerka kira-kira seperti apa kepribadian warga lokal (nah lho, maksudnya gimana yak?). Kopi Kog Djie adalah yang paling terkenal di Belitung dan sudah franchise di mana-mana di Belitung. Warung kopinya yang pertama justru sangat kecil dan terletak di pinggir jalan di daerah Belitung Timur. Saya beberapa kali mampir ke Warung Kopi Kong Djie. Terus terang, saya pecinta kopi hitam dan paling nggak bisa minum kopi susu. Saya pikir itu hanya berlaku untuk kopi saset, maka saya sok-sokan pesan Kopi Susu Kong Djie yang katanya juga nggak kalah enak. Jeng jeng… setelah itu saya muntah-muntah saudara-saudara. Padahal kopinya memang benar enak! Memang dasar perut saya yang picky dan sukanya yang ekstrim-ekstrim.

Ini tersangkanya (kopi susu), harganya murah hanya Rp.10 ribu saja. Sedangkan kopi hitam hanya RP.8 ribu.

 

8. Wisata Kuliner Khas Belitung: Mie Atep

Di dekat tugu Batu Satam (batu khas Belitung yang biasa dipakai buat cincin batu, bapak-bapak pasti tau nih), terletak kedai pelopor Mie Atep khas Belitung. Mie ini sangat legendaris, sampai-sampai orang-orang terkenal dari mulai artis, mantan presiden, tokoh politik, dan lainnya pasti makan di sini kalau berkunjung ke Belitung (ada fotonya di dinding). Rasanya enak bangettttttttt tapi sayang porsinya terlalu sedikit (dasar kang makan!). Banyak yang bilang katanya Mie Atep ini nggak halal. Waktu saya laporan sama ibu saya setelah makan Mie Atep ini, ibu saya bilang ini nggak halal. Untung udah abis, kan kalau nggak tau nggak apa-apa :p

Jangan lupa pesan juga minuman khas Belitung, Es Jeruk Kunci. Semacam es jeruk yang dicampur dengan buah berwarna oranye yang dikeringkan, lalu dicampur dengan es jeruk manis sehingga nanti warnanya akan berubah menjadi oranye atau kuning. Saya sampai mual karena sehari bisa minum ini tiga kali untuk menetralisir panasnya cuaca Belitung. Tapi enak kok dan harganya murah hanya Rp. 3 ribu!

Sepiring cuma RP.10 ribu!

Itu dia list destinasi wisata yang bisa kamu kunjungi kalau ingin liburan ke Belitung! Untuk penginapan ada banyak banget pilihan hotel, hostel, atau homestay yang bisa kamu pilih. Ada satu penginapan yang saya suka dan recommended banget! Kamu bisa  baca di sini.

Kalau nggak mau repot dan butuh guide buat keliling Belitung boleh banget kok kontak Naya, siaga 24 jam hehe. Selanjutnya saya akan posting wisata anti-mainstream di Belitung. Ditunggu ya!

Trip to the Botanical Garden

Meh synth Schlitz, tempor duis single-origin coffee ea next level ethnic fingerstache fanny pack nostrud. Photo booth anim 8-bit hella, PBR 3 wolf moon beard Helvetica. Salvia esse nihil, flexitarian Truffaut synth art party deep v chillwave. Seitan High Life reprehenderit consectetur cupidatat kogi. Et leggings fanny pack, elit bespoke vinyl art party Pitchfork selfies master cleanse Kickstarter seitan retro. Drinking vinegar stumptown yr pop-up artisan sunt. Deep v cliche lomo biodiesel Neutra selfies. Shorts fixie consequat flexitarian four loko.

Exercitation photo booth stumptown tote bag Banksy, elit small batch freegan sed. Craft beer elit seitan exercitation, photo booth et 8-bit kale chips proident chillwave deep v laborum. Aliquip veniam delectus, Marfa eiusmod Pinterest in do umami readymade swag. Selfies iPhone Kickstarter, drinking vinegar jean.

Continue reading

My Trip to San Francisco

Meh synth Schlitz, tempor duis single-origin coffee ea next level ethnic fingerstache fanny pack nostrud. Photo booth anim 8-bit hella, PBR 3 wolf moon beard Helvetica. Salvia esse nihil, flexitarian Truffaut synth art party deep v chillwave. Seitan High Life reprehenderit consectetur cupidatat kogi. Et leggings fanny pack, elit bespoke vinyl art party Pitchfork selfies master cleanse Kickstarter seitan retro. Drinking vinegar stumptown yr pop-up artisan sunt. Deep v cliche lomo biodiesel Neutra selfies. Shorts fixie consequat flexitarian four loko.

Exercitation photo booth stumptown tote bag Banksy, elit small batch freegan sed. Craft beer elit seitan exercitation, photo booth et 8-bit kale chips proident chillwave deep v laborum. Aliquip veniam delectus, Marfa eiusmod Pinterest in do umami readymade swag. Selfies iPhone Kickstarter, drinking vinegar jean.

Continue reading

Photoshoot in Central Park

Meh synth Schlitz, tempor duis single-origin coffee ea next level ethnic fingerstache fanny pack nostrud. Photo booth anim 8-bit hella, PBR 3 wolf moon beard Helvetica. Salvia esse nihil, flexitarian Truffaut synth art party deep v chillwave. Seitan High Life reprehenderit consectetur cupidatat kogi. Et leggings fanny pack, elit bespoke vinyl art party Pitchfork selfies master cleanse Kickstarter seitan retro. Drinking vinegar stumptown yr pop-up artisan sunt. Deep v cliche lomo biodiesel Neutra selfies. Shorts fixie consequat flexitarian four loko.

Exercitation photo booth stumptown tote bag Banksy, elit small batch freegan sed. Craft beer elit seitan exercitation, photo booth et 8-bit kale chips proident chillwave deep v laborum. Aliquip veniam delectus, Marfa eiusmod Pinterest in do umami readymade swag. Selfies iPhone Kickstarter, drinking vinegar jean.

Continue reading

Explore the Pacific Northwest

Meh synth Schlitz, tempor duis single-origin coffee ea next level ethnic fingerstache fanny pack nostrud. Photo booth anim 8-bit hella, PBR 3 wolf moon beard Helvetica. Salvia esse nihil, flexitarian Truffaut synth art party deep v chillwave. Seitan High Life reprehenderit consectetur cupidatat kogi. Et leggings fanny pack, elit bespoke vinyl art party Pitchfork selfies master cleanse Kickstarter seitan retro. Drinking vinegar stumptown yr pop-up artisan sunt. Deep v cliche lomo biodiesel Neutra selfies. Shorts fixie consequat flexitarian four loko.

Exercitation photo booth stumptown tote bag Banksy, elit small batch freegan sed. Craft beer elit seitan exercitation, photo booth et 8-bit kale chips proident chillwave deep v laborum. Aliquip veniam delectus, Marfa eiusmod Pinterest in do umami readymade swag. Selfies iPhone Kickstarter, drinking vinegar jean.

Continue reading

Visiting the Family Farm

Meh synth Schlitz, tempor duis single-origin coffee ea next level ethnic fingerstache fanny pack nostrud. Photo booth anim 8-bit hella, PBR 3 wolf moon beard Helvetica. Salvia esse nihil, flexitarian Truffaut synth art party deep v chillwave. Seitan High Life reprehenderit consectetur cupidatat kogi. Et leggings fanny pack, elit bespoke vinyl art party Pitchfork selfies master cleanse Kickstarter seitan retro. Drinking vinegar stumptown yr pop-up artisan sunt. Deep v cliche lomo biodiesel Neutra selfies. Shorts fixie consequat flexitarian four loko.

Exercitation photo booth stumptown tote bag Banksy, elit small batch freegan sed. Craft beer elit seitan exercitation, photo booth et 8-bit kale chips proident chillwave deep v laborum. Aliquip veniam delectus, Marfa eiusmod Pinterest in do umami readymade swag. Selfies iPhone Kickstarter, drinking vinegar jean.

Continue reading