Refleksi Homestay Program Hari 1: Cinta

Saya tidak pernah menyangka. Pelajaran yang akan saya dapatkan pertama kali setibanya di Australia dalam Homestay Program ini adalah tentang cinta.

“Go on,” sahut Richard ketika saya berkata ingin mengajukan sebuah pertanyaan. Saya ragu, tapi rasa keingintahuan saya selalu lebih besar dari rasa takut yang saya punya.

Kami menuju Car Park bandara yang sangat ramai. Saya diam-diam sembari mengamati setiap hal untuk dibandingan dengan kondisi di Indonesia. Tidak sulit menemukan di mana mobil Richard terparkir sebab semua teroganisir dengan baik, juga karena jumlah mobilnya tidak sebanyak di Jakarta. Karcis parkir ditelan mesin dengan sukses, pertanda kami dapat meninggalkan bandara dan meluncur ke rumah Richard yang terletak agak jauh dari pusat kota.

“Do you still love Anne just like the first time you met her and decided to marry her?” saya memerhatikan air mukanya, siaga kalau-kalau ekspresi di wajahnya berubah masam atau malah bingung. Namun, ternyata tidak membutuhkan waktu lama untuk mendapatkan jawaban karena dalam hitungan detik ia segera menjawab,

“Of course yes.”

Saya tidak habis pikir, bagaimana caranya menjalin cinta selama berpuluh-puluh tahun, tidak berkurang dan hilang sedikitpun? Seperti sebuah keajaiban. Mereka tidak pernah mengumbar kedekatan yang vulgar memang, tetapi ikatan itu dapat dengan kuat saya rasakan. Jika ada kata-kata yang sering belum disampaikan Richard, namun sudah dapat ditangkap dengan baik oleh Anne. Sama halnya dengan Anne yang sering sekali dibantu oleh Richard di dapur dan bahkan ruang makan, bahkan mencuci dan memasang sprei. Sepasang kekasih dengan anak-anak yang sukses dan 12 cucu di sebuah rumah yang rindang, bukankah semua akan terlihat lebih mudah jika kita sebagai individu menghormati satu sama lain, tidak perlu semua orang, setidaknya orang yang paling kita sayang?

“Apa kuncinya?“

„Toleransi dan menghormati. Yang pertama adalah yang utama.“

Saya bergumam. Toleransi yang biasa digembor-gemborkan di jalanan, di media, rupanya dapat dimulai dari lingkungan terdekat dan terkecil bernama keluarga. Orang-orang di negara maju sangat toleran, itulah mengapa mereka bisa maju. Sama halnya dengan Richard dan Anne yang memutuskan untuk menikah, karena mereka sangat toleran satu sama lain.  Sebab banyak orang di Australia yang memutuskan untuk tidak menikah, karena pernikahan bukanlah keharusan dan bukanlah sesuatu yang mudah, membutuhkan „perjuangan“ salah satunya perihal toleransi.

Program yang saya ikuti ini adalah salah satu jalan menuju sukses yang telah dilakukan orang-orang di masa mudanya, namun apakah cinta menjadi salah satu faktor kesuksesan mereka? Cinta jelas adalah sebuah value (nilai)  yang dapat mendukung kesuksesan tersebut. Atau justru cinta adalah sebuah goal (tujuan) bagi banyak orang yang menjadi tolak ukur kesuksesan. Termasuk saya.

Tidak banyak saya mengenal orang-orang sukses di Indonesia (atau mungkin pengetahuan saya saja yang kurang luas) sukses pula dalam kisah percintaannya, meskipun dalam hal ini cinta bisa bermakna apapun; cinta untuk keluarga, orang tua, teman, dan lain-lain. Cinta yang saya maksud adalah tentu tentang pasangan jiwa (soulmate), meskipun belum tentu menjadi pasangan hidup dan tidak harus menjadi demikian. Mungkin itu pula alasannya mengapa Ridwan Kamil (Walikota Bandung Periode 2013-2018) menjadi sangat terkenal dan diidolakan banyak kawula muda. Sebab tidaklah mudah menemukan figur seorang pemimpin sukses yang langgeng dengan pasangannya, bahkan untuk sosok yang satu ini kadang malah kelewat romantis dan bikin baper (bawa perasaan) anak-anak muda lewat postingan Si Cinta (Bu Atalia, istri beliau).

Saya muak mendengar kisah perceraian terjadi setiap hari di Indonesia seolah-olah adalah sebuah hal yang mudah dan murah. Ya, perceraian membutuhkan dana untuk banyak hal. Faktanya, di Indonesia ada sebanyak 40 pasangan bercerai setiap jamnya. Data ini saya dapatkan dari sebuah berita di tahun 2013 yang disampaikan oleh pihak Kementerian Agama RI. Kasus perceraian meningkat setiap tahunnya di Indonesia, berarti sangat besar kemungkinan bahwa di tahun 2018 ini jumlahnya bertambah dan menjadi lebih banyak.

Pikiran saya semakin bercabang, mengidentifikasi tentang apa saja hal yang pernah saya temui di Indonesia berkenaan dengan cinta dan pernikahan. Maksud saya, orang-orang Australia, Richard dan Anne sekalipun yang bukan pasangan religius, dapat menjadi sepasang kekasih yang sangat tulus dan sempurna di mata saya. Tidak pernah sekalipun saya bertanya apa agama mereka atau bisa saja mereka menganut atheisme. Sebab bagi saya, agama merupakan suatu hal yang personal dan setiap orang memiliki caranya masing-masing untuk berinteraksi dengan Tuhan, dalam konteks agama apapun.

Di sisi lain, orang-orang Indonesia yang umumnya beragama dan bahkan ada pula agama mayoritas, yang sejatinya percaya akan makna Ketuhanan dan begitu mencintai Tuhannya berkat karunia yang diberikan, seharusnya lebih bisa membina rasa cinta kepada manusia dan menerapkan apa yang mereka lakukan untuk Tuhannya. Namun yang saya dapatkan justru berita perceraian di mana-mana, KDRT tidak sedikit terjadi baik di pedesaan maupun ibu kota. Yang justru pernah membuat saya berpikir untuk tidak mau menikah, karena takut bila harus mengalami perceraian. Dari sini jelas terlihat, bahwa cinta dan agama bukanlah dua hal yang menjadi satu kesatuan, meskipun sangat erat berkaitan satu sama lain. Agama adalah agama. Ada cinta di dalam agama, namun tidak begitu dengan cinta, karena di dalam cinta seharusnya ada toleransi dan ketulusan, bukan SARA. Lantas, mengapa urusan pernikahan harus dikelola oleh Kementrian Agama RI? Bukankah agama dan cinta adalah dua hal yang berbeda?

#IamGMBer

#GMBHomestayProgram

#GerakanMariBerbagi